SUKABUMITIMES.COM – Aktivitas kegempaan Gunung Gede yang terjadi beberapa hari lalu, tentu sedikit banyak membuat masyarakat yang berada disekitarnya menjadi was-was.
Masyarakat dikejutkan dengan laporan dari Badan Geologi Kementerian ESDM yang dimana aktivitas Gunung Gede meningkat dan meminta masyarakat disekitarnya untuk waspada.
Tentu dengan ini, membuat banyak orang penasaran bagaimana sebenarnya sejarah Letusan gunung gede. Berikut ikuti ulasannya.
Gunung Gede merupakan sebuah gunung berapi yang berbentuk kerucut tipe A yang terletak diantara tiga Kabupaten, yakni Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi dengan ketinggian 1.000 – 2.962 mdpl, dan berada pada lintang 106°51′ – 107°02′ BT dan 64°1′ – 65°1 LS.
Suhu rata-rata di puncak gunung Gede adalah 13 °C di siang hari dan di malam hari suhu puncak berkisar 5 °C, Pada musim kemarau suhunya bisa mencapai -1°C, dengan curah hujan rata-rata 3.600 – 4.000 mm/tahun. Gerbang
Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede Pangrango, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980.
Gerbang utama menuju gunung ini adalah dari jalur Cibodas dan Cipanas (Gunung Putri) di utara serta jalur Salabintana di arah selatan yang tidak begitu banyak dilalui pendaki.
Sejarah Letusan Gunung Gede
Letusan Gunung Gede pertama kali tercatat di tahun 1747.
Letusan pertama ini memiliki skala ledak VEI-3 dan menyebabkan 2 aliran lava bergerak dan terlihat dari kawah lanang.
Lalu letusan yang lebih kecil terjadi kembali di tahun 1761, 1780, dan 1832.
Letusan 1840
Pada 2 November 1840, Gunung Gede kembali meletus setelah hampir 100 tahun setelah letusan pertama, letusan tersebut berada pada skala ledak VEI-3 di jam 3 dini hari. Goncangannya terasa sangat hebat sampai membangunkan warga yang tertidur pulas. Letusan kedua tercatat sebagai letusan yang terbesar dan baru benar-benar berhenti pada Maret 1841.
Letusan 1853
Keresidenan Priangan yang awalnya beribu kota di Cianjur, di tahun 1864 akhirnya dipindahkan ke Bandung oleh Residen van der Moor sebagai dampak dari letusan besar Gunung Gede yang berskala VEI-3 di tahun 1853 yang telah memporakporandakan Cianjur.
Letusan 1957
Pada tahun 1900an, Gunung Gede kembali terjadi letusan-letusan Kecil di Gunung Gede sebanyak 24 kali, dimana letusan ini cukup membahayakan untuk warga sekitar yang tinggal berdekatan dengan Gunung Gede. Letusan terakhir dari gunung ini tercatat pada tahun 1957 dengan skala ledak VEI-2.
Hingga saat ini aktivitas vulkanis Gunung Gede masih aktif namun dalam fase normal. Jika terjadi letusan kembali di gunung ini, maka daerah kaki gunung seperti Cipanas diperkirakan akan terkena dampak terbesar. (*)
































