Jembatan Sungai Putus di Terjang Banjir, Pelajar Terpaksa Lawan Arus Deras ke Sekolah 

SUKABUMITIMES.COM – Banjir bandang sungai Cidadap menyisakan pilu bagi Sejumlah pelajar di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Bagaimana tidak? Mereka harus bertaruh nyawa dengan menyebrangi arus deras sungai tersebut setiap berangkat dan pulang sekolah.

Tepatnya dari desa Loji, anak-anak yang hendak sekolah harus nekad menyeberangi sungai Cidadap, karena sekolahnya memang berada di seberang sungai. Dikarenakan jembatan yang barusan dibangun oleh relawan Sehati hanyut terbawa banjir bandang.

Yanyan sugianto salah satu warga Desa Loji menjelaskan, keseharian sejumlah warga yang di dominasi pelajar harus bertaruh nyawa untuk berjuang menyebrangi sungai cidadap, guna menimba ilmu.

“Setiap hari warga disini memang harus menyeberangi arus deras sungai Cidadap untuk beraktivitas sehari-hari, baik ke kebun, sawah, atau pasar,” jelasnya.

Ia menerangkan, sungai ini memang menghubungkan dua kampung di Desa Loji dan Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, kabupaten Sukabumi.

“Setiap pagi sekitar pukul 06.00 WIB, anak-anak sudah menyeberang untuk berangkat sekolah. Biasanya, jika orang tua belum ke kebun, mereka akan membantu menyeberangkan anak-anak. Pulangnya pun sama, harus menyeberangi sungai lagi,” jelasnya.

Menurut Yanyan derasnya arus sungai cidadap ini pernah merenggut korban jiwa. pada tahun 2006, ketika seorang ustaz bernama Solihin hanyut terbawa arus saat mencoba menyeberangi sungai yang tampak surut.

“Peristiwa kejadian bermula saat itu Ustaz Solihin dari Pasir Pogor hendak ke Babakan Pendeuy. Tiba-tiba arus sungai membesar, dan beliau terseret hingga jasadnya ditemukan di pesisir laut. Beliau adalah pengelola pondok pesantren,” ujar Yanyan saat ditemui di kediamannya, Selasa (7/1/2025) kemarin.

Anyan menjelaskan bahwa kondisi ini diperparah setelah banjir besar pada 4 Desember 2024 lalu yang meluapkan sungai hingga mencapai ketinggian 4 meter. Akibatnya, jembatan penghubung yang baru selesai dibangun oleh relawan Sehati pada September 2024 ambruk diterjang arus deras.

“Jembatan itu sebelumnya dibangun oleh relawan, bukan pemerintah. Tapi sekarang sudah hancur lagi pasca-bencana Desember kemarin, sehingga para pelajar dan warga terpaksa menyeberang dengan cara lama,” imbuh Yanyan.

Ia berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan yang kokoh agar aktivitas warga, termasuk pendidikan anak-anak, tidak lagi terganggu. “Kalau ada jembatan, akses ekonomi warga seperti ke pasar atau kebun juga akan hidup kembali,” pungkasnya. (sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *