SUKABUMITIMES.com — Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana menegaskan pemerintah daerah terus berupaya memperkuat penanganan sampah hingga akhir 2026, salah satunya dengan mengoptimalkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPST3R) di sejumlah wilayah.
Bobby mengatakan, penguatan pengelolaan sampah juga sangat bergantung pada dukungan anggaran, termasuk tambahan transfer keuangan daerah.
Penegasan tersebut disampaikan Bobby Maulana ketika diwawancarai sukabumitimes.com setelah menghadiri kegiatan capacity building lKK se-Kelurahan Gedongpanjang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi yang bertempat di area wisata Cakrawala Kabupaten Sukabumi pada Kamis (3/9/2026).
“Sampah kita sampai dengan akhir tahun ini, insyaAllah kita upayakan. Mudah-mudahan ada tambahan transfer keuangan daerah,” kata Bobby.
Menurutnya, tambahan anggaran tersebut dibutuhkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pemerintah daerah, mulai dari belanja pegawai, operasional hingga pembiayaan Universal Health Coverage (UHC).
“Kita mau di Cisarua mengoptimalkan TPST3R. Di Cisarua itu, di Cikole, nanti kita ada pengolahan maggot, kemudian ada RDF, dan ada pirolisis,” ujarnya.
Bobby menjelaskan, kawasan Cikole nantinya akan diarahkan menjadi salah satu pusat pengolahan sampah dengan berbagai metode.
“Kita akan kuatkan untuk wilayah Cikole semuanya ke situ, ke TPST3R,” katanya.
Tak hanya mengandalkan fasilitas yang sudah ada, Pemkot Sukabumi juga mengajukan bantuan tiga mesin pengolahan sampah kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Kemudian dari provinsi kita mengajukan tiga mesin pengolahan sampah. Provinsi, insyaAllah, insyaAllah, insyaAllah memberikan incinerator,” ungkap Bobby.
Menurutnya, mesin tersebut nantinya akan ditempatkan di masing-masing TPST3R sesuai kebutuhan dan karakteristik pengolahan sampah di wilayah tersebut.
“Kita lihat nanti. Jadi beragam pemilahan sampah, ada yang dibakar, ekonomi sirkularnya menjadi paving block dan lain sebagainya,” jelasnya.
Untuk wilayah Cikole, lanjut Bobby, sampah plastik dapat dicacah untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku Refuse Derived Fuel (RDF).
“Kalau di wilayah Cikole mungkin dicacah plastiknya untuk jadi bahan baku RDF, kemudian ada magotisasinya untuk pakan ternak dan lain sebagainya,” ujarnya.
Bobby mengatakan, pemerintah akan mengevaluasi metode pengolahan yang paling efektif untuk kemudian dikembangkan secara lebih luas pada 2027.
“Kita akan lihat, di 2027 mana dari dua sistem ini yang paling optimal, kita akan upayakan itu,” katanya.
Bahkan, jika mesin incinerator dari provinsi dinilai efektif dan sesuai standar, Pemkot Sukabumi akan menjadikannya sebagai acuan untuk pengembangan teknologi pengolahan sampah berikutnya.
“Kalau mesin dari provinsi, seumpama incinerator, sudah residu, organik, non-organik masuk semua, bisa jadi paving block, ya sudah, kita amati, tiru, modifikasi mesin itu,” tutur Bobby.
“Karena sudah sesuai dengan Kementerian LHK, standar derajat dan lain sebagainya. Kita akan perbanyak,” sambungnya.
Bobby menargetkan dari total 12 TPST3R yang ada, setidaknya enam TPST3R dapat dioptimalkan pada tahun depan.
“Minimal dari 12 TPST3R, tahun depan kita targetnya minimal enam. Maksimal tentu saja semaksimal-maksimalnya sesuai dengan anggarannya ada nanti,” tegasnya.
Selain memperkuat TPST3R, Pemkot Sukabumi juga menambah anggaran untuk Tim Saber yang bertugas menjaga kebersihan di sejumlah titik perkotaan.
“Kemudian juga tim Saber kita sudah menambah anggaran dari bulan Juli kemarin sampai dengan akhir tahun. Itu kita sudah anggarkan sekitar kurang lebih 400-an lah,” kata Bobby.
Ia menjelaskan, anggaran tersebut bersumber dari insentif fiskal yang diperoleh Pemkot Sukabumi setelah meraih prestasi di tingkat Jawa-Bali.
“Itu hadiah dari insentif fiskal yang kemarin kita dapat juara dua se-Jawa Bali,” ungkapnya.
Bobby menuturkan, Tim Saber difokuskan untuk mencegah penumpukan sampah dan menjaga kebersihan di kawasan pusat kota.
“Tim Saber itu untuk apa? Tim Saber itu untuk pencegahan, untuk kebersihan di tengah kota saja, di wilayah kota supaya enggak terlalu balatak,” ujarnya.
Sejumlah kawasan yang menjadi perhatian antara lain Jalan Ahmad Yani, Alun-Alun Kota Sukabumi, kawasan Dago dan sejumlah titik lainnya.
“Di wilayah kota saja, Ahmad Yani, Alun-Alun, kemudian di daerah Dago dan lain sebagainya,” katanya.
Namun, Bobby menegaskan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menyelesaikan persoalan sampah.
“Tentu saja ini juga tidak akan maksimal bila masyarakatnya juga tidak ikut serta membantu,” tegasnya.
Ia menyebut biaya operasional pengangkutan sampah yang harus ditanggung Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga cukup besar, terutama untuk bahan bakar dan perawatan kendaraan.
“DLH itu sudah pas, BBM-nya mahal, perawatan mesinnya juga tinggi,” ujarnya.
Karena itu, menurut Bobby, optimalisasi TPST3R di setiap kecamatan diharapkan dapat mengurangi beban biaya pengangkutan sampah.
“Kita juga berusaha, mudah-mudahan nanti ketika TPST3R ini maksimal, sampah selesai di kecamatan masing-masing. Ini bisa menurunkan belanja bahan bakar dan lain-lainnya,” jelasnya.
Pemkot Sukabumi juga tengah mempertimbangkan pembentukan satuan tugas pengelolaan sampah berbasis lingkungan hingga tingkat RT dan RW.
Bobby mengatakan konsep tersebut terinspirasi dari praktik yang telah berjalan di salah satu kelurahan di Subangjaya.
“Iya, kita coba. Sebetulnya itu kita mengikuti, ada di satu kelurahan di Subangjaya,” katanya.
Dalam konsep tersebut, satgas RT akan bekerja sama dengan pengepul dan bank sampah untuk mengelola sampah warga.
“Itu ada satgas RT bekerja sama dengan pengepul, bekerja sama dengan bank sampah,” ujarnya.
Warga nantinya dapat berkontribusi melalui iuran untuk mendukung operasional pengelolaan sampah.
“Jadi ada uang, satu bulan warga menyetorkan Rp10.000 untuk operasional sebetulnya RT,” ungkap Bobby.
Menurutnya, sistem tersebut dinilai lebih praktis dibandingkan masyarakat harus membawa sendiri sampah ke tempat pembuangan atau pengolahan.
“Daripada sekarang bawa sendiri, repot, saya pikir itu bagus,” katanya.
Selain sistem pengumpulan sampah, sarana pendukung di tingkat kelurahan juga akan diperkuat.
“Kemudian ada buisnya kan, masing-masing kelurahan bikin,” ujar Bobby.
Ia menyebut sejumlah sarana seperti keranjang sampah, gerobak hingga peralatan lainnya mulai disiapkan untuk mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Tadi sepertinya juga tadi ada keranjang sampah, ada juga yang gerobak, ada juga yang sudah menyiapkan molsa dan lain sebagainya,” pungkasnya. (sya)



























