SUKABUMITIMES.com – Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki menegaskan bahwa dana kas dua belas Pemerlu Atensi Sosial (12 PAS) sampai saat ini telah mencapai Rp400 juta yang berjalan dari dana filantropis.
Penegasan ini disampaikannya disela-sela pelaksanaan kegiatan Ayeuna Waktuna Berbagi Berkah 12 PAS di Kelurahan Baros dan Jayaraksa Kecamatan Baros pada Rabu (6/5/2026).
“InsyaAllah kita akan salurkan tepat sasaran untuk yang memerlukan. Uang itu dari para sponsor ya, dari para sponsor dalam hal ini ada Bank Jabar Banten (BJB), Telkom, kemudian BAZNAS, PNM, BNI, Pegadaian, kemudian juga yang lain-lainnya,” ungkapnya.
Program 12 PAS yang digagas oleh Wali Kota Ayep Zaki ini sudah masuk pada putaran kedua. Ada hal yang menarik ketika program ini memasuki episode ke Eman dan ke tujuh, yakni bulan saja hanya menyalurkan sembako dan bantuan tunai.
“Ya, ini episode ketujuh putaran kedua. Di episode ke-6 dan ke-7 ada tambahan selain dari uang cash ya, dan sembako, ada program modal usaha (Modus). Modal usaha bagi masyarakat yang punya usaha kecil, tapi dalam bentuk peralatan,” ujar Ayep Zaki yang didampingi Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana.
Menurutnya, bantuan modal usaha dalam bentuk peralatan dinilai lebih tepat guna untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Program ini pun dikelola langsung oleh Dinas Sosial dengan dukungan pekerja sosial di lapangan guna memastikan bantuan tepat sasaran.
“Ini komitmen Pemerintah Kota yang langsung dikelola oleh Dinas Sosial ya. Kemudian juga ada pekerja sosial di lapangan untuk mengasesmen siapa saja yang memerlukan bantuan atau memerlukan atensi sosial 12 Pas,” jelasnya.
Ia menegaskan, proses asesmen dilakukan secara ketat dan tidak instan agar bantuan benar-benar menyentuh warga yang membutuhkan. Penyaluran bantuan juga dilakukan secara langsung oleh jajaran pemerintah daerah bersama berbagai pihak terkait.
“Insyaallah ini semua tepat sasaran karena tidak langsung *on the spot*. Dan pemberiannya pun juga langsung oleh Wali Kota dan Wakilnya, kemudian Pak Sekdis, Pak Camat, Pak Lurah, Pak Kadis, dan para sponsor yang turut serta ikut,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ayep Zaki juga mengajak para pelaku usaha di Kota Sukabumi untuk ikut berkontribusi dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui program ini.
“Kemudian saya menghimbau kepada semua pengusaha yang berusaha di Kota Sukabumi, berikan ya sebagian daripada keuntungan untuk membantu sesama di Kota Sukabumi yang dikelola langsung oleh Dinas Sosial, dan asesmennya langsung oleh pekerja sosial di lapangan,” imbaunya.
Setelah berjalan kurang lebih satu tahun, program ini disebut telah menjangkau hampir 200 penerima manfaat. Jumlah tersebut belum termasuk program lain yang juga berbasis non-anggaran pemerintah.
“Jumlahnya sudah hampir 200-an ya. 200-an. Ini kan 12 Pas, tapi ada yang lainnya, Qardhul Hasan, kemudian ada beasiswa SD. Ini bicara program yang non-budgeter ya, non-budget daripada APBD,” jelasnya.
Ia menegaskan, program yang dijalankannya saat ini tidak menggunakan anggaran APBD, melainkan berasal dari sumbangan para dermawan dan pelaku usaha.
“Kalau program-program yang anggaran dari APBD itu memang semuanya diserahkan kepada Dinas Sosial. Yang saya kerjakan ini adalah non-anggaran APBD. Artinya anggaran dari filantropis, dari sedekah jariah, dari sumbangan-sumbangan para pengusaha atau dermawan,” paparnya.
Program 12 Pas sendiri menjadi bagian dari strategi besar Pemkot Sukabumi dalam menekan berbagai persoalan sosial secara simultan, mulai dari stunting hingga kemiskinan ekstrem.
“Kita akan kroyokan untuk menyelesaikan masalah penyakit sosial: *stunting*, pengangguran, kemiskinan ekstrem, rumah-rumah kumuh, jalan-jalan kumuh. Kita akan intervensi oleh empat: satu APBN yang jelas, yang kedua APBD Provinsi, PAD Kota Sukabumi atau APBD Sukabumi Kota, dan program anggaran dari filantropis seperti itu ya,” terangnya.
Dengan pendekatan kolaboratif tersebut, Pemerintah Kota Sukabumi memasang target ambisius dalam jangka panjang, yakni menghapus stunting dan kemiskinan secara total.
“100% targetnya, stunting 0%, kemiskinan juga hilang. Itu target kita selama 10 tahun,” tegas Ayep Zaki.
Ia memastikan, target tersebut ditetapkan hingga tahun 2035 dan diharapkan dapat tercapai melalui konsistensi program serta dukungan semua pihak.
“10 tahun sampai dengan 2035. Jadi 10 tahun, 2035 ini sudah harus habis. InsyaAllah ya, siap,” pungkasnya. (sya)
























