SUKABUMITIMES.com – Terbang belasan jam bagi banyak orang sudah cukup menguras tenaga. Duduk lama di kabin sempit, perubahan tekanan udara, hingga jet lag sering kali membuat tubuh terasa remuk setibanya di tujuan. Namun bayangkan jika perjalanan udara itu berlangsung hampir sehari penuh tanpa sekali pun mendarat.
Skenario itu kini bukan lagi sekadar gagasan futuristik. Maskapai asal Australia, Qantas, menargetkan penerbangan nonstop Sydney-London mulai beroperasi pada paruh pertama 2027, sebuah proyek ambisius yang digadang-gadang bakal menjadi salah satu penerbangan penumpang nonstop terpanjang di dunia.
Program ini merupakan bagian dari Project Sunrise, inisiatif besar Qantas untuk menghubungkan Australia dengan kota-kota utama dunia tanpa transit. Rute Sydney-London diperkirakan menempuh jarak sekitar 17 ribu kilometer dengan durasi penerbangan lebih dari 20 jam, bahkan bisa mendekati 22 jam di udara.
Jika terealisasi, penerbangan ini bukan hanya memecahkan batas teknis penerbangan komersial, tetapi juga berpotensi mengubah cara orang bepergian lintas benua.
Dalam keterangan resminya, Qantas menyebut pesawat pertama Airbus A350 untuk Project Sunrise dijadwalkan dikirim pada akhir 2026. Armada tersebut nantinya akan digunakan melayani rute super panjang Sydney-London dan Sydney-New York.
“Project Sunrise dirancang untuk menghadirkan era baru penerbangan jarak jauh,” demikian semangat yang berulang kali ditegaskan Qantas dalam berbagai pembaruan proyeknya.
Langkah menuju realisasi proyek ini sebenarnya sudah dirintis sejak beberapa tahun lalu. Namun perjalanan menuju penerbangan bersejarah tersebut tidak mudah. Sejumlah tantangan teknis, mulai dari pengembangan pesawat ultra jarak jauh hingga dampak pandemi Covid-19 terhadap industri penerbangan global, sempat membuat proyek ini tertunda.
Namun perkembangan terbaru menunjukkan proyek itu semakin nyata.
Dalam rilis resmi November 2025, Qantas mengumumkan pesawat Project Sunrise pertamanya telah memasuki jalur perakitan Airbus di Toulouse, Prancis.
“Ini merupakan tonggak penting menuju penerbangan nonstop bersejarah antara Australia, London dan New York,” tulis Qantas dalam pernyataan tersebut.
Penerbangan selama hampir sehari tentu bukan sekadar soal seberapa jauh pesawat bisa terbang, tetapi juga bagaimana penumpang tetap nyaman dan sehat selama perjalanan.
Karena itu, Qantas menyiapkan Airbus A350-1000ULR (Ultra Long Range) dengan konfigurasi khusus yang berbeda dari pesawat komersial pada umumnya.
Pesawat ini dirancang bukan sekadar untuk menempuh jarak ekstrem, tetapi juga mengatasi tantangan fisik dan mental penumpang dalam penerbangan ultra panjang.
Kabin disebut akan dibuat lebih lega, dengan jumlah kursi yang lebih terbatas dibanding konfigurasi standar demi memberi ruang tambahan bagi penumpang.
Tak hanya itu, Qantas juga menyiapkan area khusus di dalam kabin untuk peregangan, minum, hingga bergerak ringan selama penerbangan.
Konsep tersebut menjadi salah satu inovasi yang paling banyak dibicarakan dalam Project Sunrise.
“Kami tidak hanya berbicara tentang membuat pesawat terbang lebih jauh, tetapi bagaimana membuat penumpang merasa lebih baik saat mendarat,” demikian filosofi yang berkali-kali disampaikan Qantas terkait desain kabin proyek ini.
Mengutip Daily Mail, pengalaman terbang 22 jam tentu akan sangat berbeda dibanding penerbangan internasional biasa.
Karena itu berbagai detail dirancang serius, mulai dari pencahayaan kabin yang mengikuti ritme biologis tubuh, pengaturan waktu makan untuk membantu mengurangi jet lag, hingga desain kursi yang dibuat mendukung kenyamanan lebih lama.
Bahkan faktor kualitas udara, sirkulasi kabin, hingga pola layanan di dalam pesawat ikut disesuaikan.
Tujuannya satu: membuat perjalanan super panjang terasa lebih manusiawi.
Meski terdengar melelahkan, konsep nonstop justru dinilai bisa menarik banyak penumpang.
Selama ini perjalanan Australia ke Inggris umumnya memerlukan satu kali transit, biasanya di Singapura, Dubai, Doha, atau Perth.
Transit tersebut kerap memperpanjang total waktu perjalanan menjadi lebih dari 24 jam, bahkan bisa mendekati 30 jam jika waktu tunggu panjang.
Dengan penerbangan nonstop, penumpang memang akan lebih lama berada di udara, tetapi keseluruhan perjalanan bisa lebih singkat dan praktis.
Bagi pebisnis, wisatawan premium, hingga mereka yang ingin menghindari repotnya transit, konsep ini dinilai menawarkan nilai tambah.
“Lebih panjang di udara, tapi lebih ringkas secara keseluruhan,” menjadi gambaran yang melekat pada Project Sunrise.
Tak sedikit pengamat melihat proyek ini sebagai langkah yang bisa mendefinisikan ulang perjalanan jarak jauh global.
Jika berhasil, konsep serupa berpotensi diterapkan untuk rute-rute ultra panjang lainnya di masa depan.
Project Sunrise juga menjadi simbol bagaimana industri penerbangan terus mendorong batas teknologi.
Dulu penerbangan nonstop lintas samudra terdengar mustahil. Kini maskapai berlomba membuka rute yang makin panjang dengan efisiensi lebih tinggi.
Bagi Qantas, rute Sydney-London bukan hanya soal bisnis, melainkan pertaruhan reputasi dan sejarah.
Nama “Sunrise” sendiri merujuk pada misi penerbangan legendaris era Perang Dunia II antara Australia dan Sri Lanka yang sangat panjang hingga penumpang melihat matahari terbit dua kali.
Jika semuanya berjalan sesuai jadwal, pada 2027 dunia bisa menyaksikan babak baru penerbangan komersial: penumpang terbang dari Sydney ke London tanpa singgah, menempuh lebih dari 20 jam di udara dalam satu perjalanan. (*/sya)
























