P0SUKABUMITIMES.COM – Sebagai orang tua, tentu kita biasa untuk menidurkan si kecil, terkadang mereka sudah untuk ditidurkan karena inginnya bermain terus.
Nah, kita bisa coba untuk mendongengkan si kecil yang kaya akan pesan moral dan pelajaran bijak.
Enggak cuma untuk hiburan saja, cerita dongeng juga bisa jadi bekal untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan Si Kecil sejak dini. Lewat cerita yang ringan, anak pun bisa belajar memahami perilaku yang baik.
Selain itu, membaca dongeng juga dapat menjadi waktu yang hangat antara orang tua dan Si Kecil. Anak pun akan merasa diperhatikan, didengar, dan mau jika diajak bercerita.
Oleh karena itu, tidak ada salahnya kalau kita membacakan cerita dongeng tentang zaman dahulu yang sarat pesan positif untuk Si Kecil. Simak, yuk.
Mengutip dari berbagai sumber, berikut kumpulan cerita dongeng dari zaman dahulu kala yang sarat pesan moral, cocok diceritakan sebelum anak tidur.
Anak yang Berbakti
Dongeng yang berjudul Anak yang Berbakti ini mengutip dari buku Kumpulan Dongeng Anak karya Teguh Setiawan.
Zaman dahulu, di sebuah desa, ada seorang anak bernama Tono. Ayahnya orang miskin. Setiap hari, ia pergi bersama Ayahnya ke hutan untuk memotong kayu, mengeringkan kayu tersebut, dan menjualnya ke pasar. Pada suatu hari, ia dan Ayahnya pergi ke sebuah hutan yang jauh dan belum pernah mereka kunjungi sebelumnya.
“Apa kau sudah pernah ke sini, Ton?” tanya Ayah kepada Tono ketika mereka berada dalam perjalanan.
“Belum, Yah,” jawab Tono.
Lalu mereka pun terus melakukan perjalanan hingga masuk sampai ke tengah hutan itu. Di sana, Ayahnya memotong kayu di satu tempat, sedangkan Tono memotong di tempat lain.
Setiap kali selesai memotong, Tono selalu memanggil Ayahnya untuk memastikan apakah Ayahnya ada atau tidak.
“Ayah!” panggil Tono.
“Ya, Ayah di sini,” jawab Ayah dengan suara keras. Itu berarti bahwa Ayahnya masih berada dekat dengannya.
Menjelang siang hari, Ayah Tono merasa haus. Ia ingin keluar dari hutan itu untuk mencari air minum. Lalu ia menancapkan kapak yang biasa digunakan untuk memotong kayu di tanah, sambil berkata, “Aku pergi mencari air minum, kalau anakku memanggil, jawab saja, ‘Ya, Ayah di sini.'”
Ayah Tono pun pergi mencari air. Ketika Tono memanggil, kapak itu menjawab seperti yang diperintahkan oleh ayah Tono. Hal itu terus berlangsung setiap kali Tono memanggil Ayahnya.
Sementara itu, di tempat lain, Ayah Tono sedang tersesat di tengah hutan sehingga ia tidak dapat kembali ke tempat semula. Namun, ia berpikir kalau anaknya, Tono, sudah kembali ke rumah.
Ketika langit mulai gelap, Tono pergi ke tempat Ayahnya berada. Ia berpikir bahwa ayahnya masih ada. Namun, betapa terkejutnya ia ketika melihat Ayahnya sudah tidak ada. Yang ada hanya sebuah kapak. Ia tahu bahwa kapak itulah yang selama ini menjawab panggilannya.
Ia pun menangis sambil memanggil-manggil Ayahnya. Setiap kali ia memanggil Ayahnya, kapak itu pun menjawab panggilan seperti biasanya. Betapa marahnya Tono ketika itu, lalu dicabutnya kapak itu dan dibuangnya jauh-jauh. Ia terus menangis dan berjalan menyusuri hutan sambil memanggil-manggil Ayahnya. Akhirnya, Tono berhasil keluar dari dalam hutan yang luas itu.
Sementara malam semakin gelap, Tono terus berjalan, tetapi ia tidak tahu ke mana arahnya. Akhirnya, ia sampai di sebuah desa terpencil, dekat sebuah sungai. Di sanalah kemudian ia tertidur sampai pagi karena lelahnya.
Ketika bangun, perut Tono terasa lapar sekali. Namun, percuma saja, saat itu tidak ada makanan yang dapat dimakan. Lalu ia berjalan menuju sungai yang berada di dekat desa itu. Di sana, ia bermain-main lumpur sungai dan membentuknya menjadi patung sapi sebanyak sepuluh ekor, lalu ia berdoa kepada Allah agar patung-patung itu bisa dihidupkan.
Ternyata doa Tono dikabulkan, patung-patung sapi itu bisa hidup seperti sapi-sapi pada umumnya. Kemudian ia menggembalakan sapi-sapi itu dan pada waktu sore hari, ia membawa sapi itu ke desa untuk dimasukkan ke dalam kandang dan diperah susunya untuk diminum. Demikianlah pekerjaan Tono setiap hari, menggembala sapi dan mengambil susunya untuk diminum. Sementara pada malam harinya, ia membuat api unggun di sekitar tempat tidurnya agar binatang buas tidak berani mendekati sapi-sapinya.
Selain menggembala, Tono juga sudah mulai berladang. Ia menanam biji jagung, lalu menyiramnya hingga tumbuh menjadi besar. Dari susu sapi dan jagung itulah Tono dapat bertahan hidup. Bahkan, sekarang Tono sudah mulai memelihara burung. Burung-burung itu ia beri makan dari jagung hasil tanamannya.
Suatu hari, burung-burung itu dikumpulkan. Ada burung merpati, elang, hud-hud, dan lain-lain. Lalu ia berkata kepada mereka, “Hai burung-burung sahabatku, aku hidup sendirian, jauh dari orang tua. Dapatkah kalian membantuku, memberitahukan kepada ayahku bahwa aku berada di sini?”
“Aku akan mengatakan, gak, gak, gak,” kata burung gagak itu.
Lalu Tono menanyakan hal yang sama pada burung hud-hud dan burung itu pun menjawab, “Aku akan mengatakan, hud, hud, hud…”
Kemudian ia bertanya lagi pada burung rajawali dan burung itu pun menjawab, “Ssssrruj, sssrruj…”
Akhirnya, ia bertanya pada burung merpati.
Burung merpati itu pun bernyanyi yang isinya berbunyi, “Jika Ayahmu masih hidup dan ada di tempat yang aku ketahui, aku akan datang dan membawamu kepadanya.”
Tono senang sekali mendengar jawaban burung itu, lalu ia bertanya, “Wahai burung merpati, aku akan berserah diri pada Allah, kabarkan kepadaku jika kau tahu tentang Ayahku.”
Burung merpati pun terbang dan terus terbang hingga tiba di sebuah desa, di tempat Ayah Tono tinggal. Hari itu adalah hari Jumat, tepat waktu salat Jumat. Burung merpati itu pun hinggap di pintu masjid, kemudian bernyanyi seperti yang ia lakukan di hadapan Tono.
Saat itu, Ayah Tono sedang salat Jumat di masjid itu. Ketika keluar dari masjid, ia mendengar ada suara nyanyian burung merpati. Setelah ia memahami isi nyanyian dari burung itu, ia pun berkata dengan gembira, “Hai burung merpati, bawalah aku ke tempat anakku berada.”
“Aku akan terbang, silakan bapak berjalan mengikuti di belakangku,” ajak burung merpati itu. Maka terbanglah burung itu dan Ayah Tono mengikutinya dari belakang sampai di desa tempat Tono tinggal.
Di sanalah Tono bertemu dengan Ayahnya. Betapa senangnya hati Tono, begitu juga ayahnya. Kemudian mereka kembali ke desa asalnya, membawa binatang ternaknya. Sebagai tanda terima kasih Tono kepada burung merpati itu, ia tinggalkan ladang jagungnya untuk burung merpati dan burung-burung yang lainnya.
Pesan moral: Anak yang berbakti akan selalu mendapat pertolongan dan perlindungan dalam hidupnya. (*/sya)

























