SUKABUMITIMES.com — Berangkat dari kepedulian terhadap balita dan anak-anak yang terindikasi stunting, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat, menghadirkan inovasi sosial bertajuk Satu Telur Satu Pegawai (Sate Sapi).
Program ini menjadi bentuk intervensi gizi berbasis gotong royong dengan melibatkan aparatur pemerintah dan sejumlah mitra tanpa bergantung pada anggaran khusus.
Camat Cikole, Caesar Anwar, mengatakan inovasi tersebut lahir dari keprihatinan terhadap masih ditemukannya balita dan anak-anak yang terindikasi stunting di wilayahnya. Pemerintah kecamatan pun berupaya mengambil peran langsung untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi kelompok sasaran.
“Sebagai pemerintah, kita harus hadir di tengah masyarakat. Karena masih ada balita dan anak-anak yang terindikasi stunting, kami berpikir bagaimana melakukan intervensi tanpa menggunakan anggaran khusus. Dari situlah muncul inovasi Sate Sapi,” ujar Caesar saat ditemui di kantornya, Kamis (22/10/2026).
Ia menjelaskan, mekanisme program ini terbilang sederhana. Setiap Senin, seluruh pegawai mengumpulkan masing-masing satu butir telur saat pelaksanaan apel. Dari gerakan tersebut, telur yang terkumpul dapat mencapai sekitar 100 butir setiap pekan.
Telur kemudian disalurkan kepada balita yang terindikasi stunting serta ibu hamil sebagai salah satu upaya mendukung pemenuhan kebutuhan gizi.
“Untuk tahun 2026, sasaran kami adalah balita yang terindikasi stunting dan ibu hamil. Penyalurannya dilakukan secara bertahap ke seluruh wilayah Kecamatan Cikole, dengan menyasar lingkungan RW dan posyandu,” katanya.
Menurut Caesar, pelaksanaan program tidak hanya mengandalkan pegawai kecamatan dan kelurahan. Gerakan gotong royong tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak, di antaranya pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), pegawai puskesmas, serta Palang Merah Indonesia (PMI) Kecamatan Cikole.
Kolaborasi tersebut memperluas partisipasi masyarakat sekaligus memperkuat kepedulian bersama terhadap persoalan gizi anak. Program Sate Sapi sendiri telah berjalan lebih dari dua tahun dan mendapat respons positif, terutama dari keluarga penerima manfaat.
Pada Kamis ini, penyaluran telur dijadwalkan berlangsung di Kelurahan Kebonjati. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Kecamatan Cikole untuk menjangkau keluarga yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi.
Caesar berharap, gerakan sederhana yang dilakukan secara konsisten itu dapat membantu keluarga penerima manfaat memenuhi kebutuhan gizi, sekaligus meningkatkan kesadaran bahwa pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Meski demikian, penanganan stunting tidak cukup hanya melalui pemberian telur. Upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan pemantauan pertumbuhan anak, pemeriksaan kesehatan, edukasi gizi keluarga, serta pendampingan ibu hamil melalui posyandu dan fasilitas kesehatan.
Selain menjalankan program sosial, Kecamatan Cikole juga terus mengoptimalkan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) pada 2026.
Caesar menyebutkan, target PBB Kecamatan Cikole tahun ini ditetapkan sebesar Rp5,4 miliar. Hingga Oktober 2026, realisasi penerimaan disebut telah mencapai sekitar Rp4,7 miliar.
Dengan sisa waktu hingga akhir tahun, pihaknya akan terus mendorong optimalisasi penerimaan agar target yang telah ditetapkan dapat tercapai.
“Kami akan terus mengoptimalkan penerimaan PBB sampai akhir tahun. Harapannya, target tahun 2026 sebesar Rp5,4 miliar bisa tercapai,” ujarnya.
Melalui program Sate Sapi dan optimalisasi pendapatan daerah, Kecamatan Cikole berupaya menjalankan dua peran sekaligus, yakni memperkuat kepedulian sosial terhadap keluarga yang membutuhkan serta mendukung pencapaian target pembangunan daerah.
Program Sate Sapi menjadi contoh bahwa inisiatif pelayanan publik dapat dimulai dari langkah sederhana. Dengan semangat gotong royong, satu butir telur dari setiap pegawai dikumpulkan menjadi bantuan nyata bagi masyarakat yang membutuhkan perhatian bersama. (rus)




























