SUKABUMITIMES.com – Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi, Yoseph Sabaruddin mengungkapkan, sebanyak 209 kejadian bencana terjadi di wilayah Kota Sukabumi sepanjang periode 1 Januari hingga 30 September 2026.
Ratusan kejadian tersebut tersebar di tujuh kecamatan dengan total taksiran kerugian mencapai Rp7,88 miliar. Data tersebut tercatat dalam Sistem Informasi Elektronik Data Bencana (SDana) BPBD Kota Sukabumi.
“Dari 209 kejadian yang tercatat, cuaca ekstrem menjadi bencana yang paling dominan. Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama karena dampaknya dapat terjadi secara cepat dan sulit diprediksi secara pasti,” kata Yoseph pada Selasa.
Yoseph menjelaskan, berbagai kejadian bencana tersebut berdampak terhadap 188 kepala keluarga atau sebanyak 451 jiwa. Selain itu, BPBD mencatat terdapat 200 unit bangunan yang mengalami kerusakan.
“Dari 200 unit bangunan yang terdampak, sebanyak 25 unit mengalami rusak berat, 37 unit rusak sedang dan 138 unit rusak ringan,” jelasnya.
Jika dilihat berdasarkan waktu kejadian, Maret menjadi bulan dengan frekuensi bencana paling tinggi. BPBD mencatat sebanyak 46 kejadian terjadi pada bulan tersebut.
“Pada Januari tercatat 44 kejadian, kemudian Maret 46 kejadian. Mei sebanyak 31 kejadian, Februari 28 kejadian, April 20 kejadian, September 14 kejadian, Juni 10 kejadian dan Agustus sembilan kejadian,” paparnya.
Dari keseluruhan jenis bencana, cuaca ekstrem menjadi kejadian yang paling mendominasi dengan 156 kasus. Bencana tersebut juga memberikan dampak kerugian yang cukup besar, yakni ditaksir mencapai Rp3,76 miliar.
“Selanjutnya kebakaran permukiman sebanyak 25 kejadian dengan kerugian Rp3,10 miliar,” ungkap Yoseph.
Selain itu, BPBD mencatat 13 kejadian kebakaran lahan dengan taksiran kerugian mencapai Rp46,56 juta. Kemudian tanah longsor sebanyak tujuh kejadian dengan kerugian sekitar Rp252 juta.
“Untuk gempa bumi tercatat tiga kejadian dengan kerugian Rp64,5 juta. Sedangkan banjir sebanyak lima kejadian dan belum ada taksiran kerugian,” sambungnya.
Sementara itu, berdasarkan wilayah kecamatan, Warudoyong menjadi daerah dengan jumlah kejadian bencana paling banyak selama periode Januari hingga September 2026.
“Warudoyong tercatat sebanyak 38 kejadian, kemudian Citamiang 34 kejadian, Baros 31 kejadian, Lembursitu 31 kejadian, Cikole 29 kejadian, Cibeureum 26 kejadian dan Gunung Puyuh 20 kejadian,” ujar Yoseph.
Namun, jika dilihat dari nilai kerugian, Kecamatan Baros menjadi wilayah dengan taksiran kerugian paling tinggi.
“Dari sisi nilai kerugian, Baros tercatat paling tinggi dengan Rp1,97 miliar, disusul Warudoyong Rp1,72 miliar dan Citamiang Rp1,27 miliar,” katanya.
Khusus pada September 2026, BPBD Kota Sukabumi mencatat 14 kejadian bencana. Rinciannya terdiri dari lima kejadian cuaca ekstrem, delapan kebakaran lahan dan satu kebakaran permukiman.
Menurut Yoseph, kondisi tersebut tidak terlepas dari dinamika fenomena iklim yang terjadi. Salah satunya berkaitan dengan penguatan El Nino berdasarkan analisis Stasiun Klimatologi Jawa Barat.
“September memang relatif lebih rendah dari beberapa bulan sebelumnya, tetapi potensi bencana tetap harus diwaspadai,” tegasnya.
Ia menambahkan, memasuki Oktober masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan menyusul adanya peringatan dini kekeringan meteorologis.
“Terlebih memasuki Oktober, ada peringatan dini kekeringan meteorologis dengan sejumlah wilayah di Jawa Barat masuk kategori waspada hingga awas,” jelas Yoseph.
Menghadapi potensi bencana tersebut, BPBD Kota Sukabumi terus memperkuat upaya penanggulangan melalui berbagai tahapan, mulai dari sebelum bencana, saat bencana terjadi hingga penanganan pascabencana.
“Upaya tersebut dilakukan melalui pemantauan wilayah, kesiapsiagaan, edukasi masyarakat, koordinasi lintas sektor serta respons cepat terhadap setiap laporan kejadian,” tuturnya.
Menurutnya, berbagai langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi di wilayah Kota Sukabumi.
“Ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana,” pungkasnya. (sya)
































