SUKABUMITIMES.com – Pemerintah Kota Sukabumi terus mendorong lahirnya generasi baru pengrajin batik sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif daerah.
Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan desain batik yang diikuti 75 peserta dari berbagai kalangan di Ruper BJB, Selasa (8/9/2026).
Peserta pelatihan tidak hanya berasal dari pelaku UMKM pemula dan masyarakat umum, tetapi juga melibatkan kalangan pelajar.
Kehadiran generasi muda menjadi salah satu harapan besar dalam menjaga regenerasi sekaligus mengembangkan industri batik khas Sukabumi.
Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi tempat peserta memperoleh pengetahuan dasar mengenai desain batik.
Lebih dari itu, pelatihan tersebut diharapkan mampu membuka jalan bagi lahirnya pengrajin dan pelaku usaha baru.
“Ini pelatihan desain batik untuk tingkat pemula dan UMKM. Mudah-mudahan dari 75 peserta ini ada talenta yang nantinya menjadi pengusaha dan pengrajin batik,” ujar Ayep Zaki.
Menurutnya, potensi ekonomi kreatif di Kota Sukabumi masih terbuka luas untuk terus dikembangkan.
Selain batik, terdapat berbagai sektor lain seperti kerajinan bambu hingga produk kuliner yang dapat menjadi kekuatan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.
Ayep menegaskan, pengembangan UMKM menjadi salah satu bagian penting dalam upaya pemerintah daerah mendorong pertumbuhan ekonomi.
Melalui pembinaan yang dilakukan Diskumindag Kota Sukabumi, masyarakat diharapkan semakin mampu menciptakan produk yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing.
Bahkan, Pemerintah Kota Sukabumi kini memasang target agar pertumbuhan ekonomi daerah mampu menembus jajaran 20 besar terbaik di Indonesia.
“Targetnya sekarang kita masuk kepada pertumbuhan ekonomi 20 besar di Indonesia,” katanya.
Ayep juga menyampaikan bahwa Kota Sukabumi berhasil mempertahankan posisi dalam jajaran 10 besar daerah dengan pengendalian inflasi terbaik di Indonesia berdasarkan rilis Agustus secara year on year.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi daerah tidak hanya ditentukan oleh satu faktor.
Efektivitas dan efisiensi pengelolaan anggaran pemerintah, kekuatan konsumsi masyarakat, investasi hingga aktivitas perdagangan menjadi bagian penting yang saling berkaitan.
Sementara itu, Kepala Diskumindag Kota Sukabumi, Een Rukmini, menilai pelatihan desain batik menjadi salah satu langkah untuk menjawab kebutuhan regenerasi pengrajin.
Ia mengakui jumlah pembatik di Kota Sukabumi masih perlu terus bertambah agar industri batik lokal dapat berkembang lebih kuat dan tidak hanya bergantung kepada pengrajin yang telah ada.
“Dengan pelatihan ini saya mengharapkan muncul pengrajin-pengrajin baru. Batik ini tidak lekang oleh waktu,” ujar Een.
Menurutnya, peluang pasar batik masih cukup besar. Produk tersebut tetap digunakan dalam berbagai kegiatan, baik acara formal maupun aktivitas di lingkungan pemerintahan dan sejumlah instansi.
Karena itu, munculnya pengrajin baru dinilai dapat memberikan energi baru bagi perkembangan industri batik di Sukabumi.
“Dengan kemunculan beberapa pembatik baru ini, nantinya bisa menunjang dan tidak hanya terfokus kepada pengrajin-pengrajin lama,” katanya.
Selain menambah jumlah pengrajin, Een juga berharap pelatihan tersebut dapat melahirkan inovasi motif yang benar-benar merepresentasikan identitas Kota Sukabumi.
Kekayaan budaya, kondisi lingkungan, bangunan bersejarah hingga berbagai potensi daerah dapat menjadi sumber inspirasi bagi peserta dalam menciptakan desain batik.
“Harapannya muncul motif-motif inovasi baru yang memang menampilkan ciri khas Kota Sukabumi. Jadi ketika orang luar datang ke Kota Sukabumi, mereka bisa mengenali batik khas Sukabumi,” jelasnya.
Antusiasme peserta dari kalangan pelajar dan generasi muda pun menjadi perhatian tersendiri. Een mengaku cukup terkejut melihat besarnya minat peserta muda untuk mengikuti pelatihan desain batik.
“Kalau melihat peserta ini, banyak yang masih muda karena memang pesertanya masyarakat umum dan pelajar. Ternyata antusias juga,” tambahnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh pembelajaran langsung dari praktisi dan pengrajin batik.
Salah satunya Lokatmala yang turut berbagi pengetahuan serta pengalaman mengenai proses produksi dan pengembangan batik.
Pelatihan ini diharapkan menjadi titik awal munculnya generasi pembatik baru di Kota Sukabumi.
Tidak hanya memiliki kemampuan memproduksi batik, para peserta juga didorong untuk melahirkan gagasan dan motif kreatif yang memiliki karakter kuat.
Dengan semakin banyaknya pengrajin muda serta hadirnya inovasi baru, batik Sukabumi diharapkan mampu berkembang menjadi produk ekonomi kreatif yang memiliki daya saing sekaligus identitas khas yang semakin dikenal luas. (uml)































