Desil, Ketika Kaya itu Hanya Status Permainan Data

Oleh: Boby es-Syawal el-Iskandar

Ramai soal desil. Warga miskin masuk kategori “berkecukupan” di data BPS, sementara perut masih keroncongan dan atap rumah bocor. Desil 4 dianggap kaya, padahal hidup pas-pasan. Islam mengajarkan bahwa kesejahteraan bukanlah permainan angka, melainkan jaminan nyata atas kebutuhan dasar setiap warga negara.

BPS memang menggunakan desil sebagai alat pemeringkatan—bukan untuk menentukan kaya-miskin secara mutlak. Desil membagi rumah tangga ke dalam 10 kelompok berdasarkan indikator sosial-ekonomi (kondisi rumah, sumber air, energi memasak, aset). Pendapatan sengaja bukan ukuran tunggal karena sulit diverifikasi.

Masalahnya: ketika data ini dipakai untuk menetapkan sasaran bantuan, tetapi tidak mencerminkan kenyataan, maka kebijakan meleset. Bantuan salah sasaran, subsidi mengalir ke yang tak berhak, dan rakyat miskin tetap terabaikan.

Dalam Islam, memberikan keterangan yang tidak sesuai realitas—meski dengan dalih metodologi—adalah bentuk kecurangan. Umar bin Khattab RA bahkan berkeliling malam seorang diri untuk memastikan tak ada warganya kelaparan. Pemimpin wajib turun langsung, bukan sekadar membaca laporan di ruang ber-AC.

Kejujuran data adalah pangkal keadilan. Data yang “dipoles” demi citra, dalam Islam, adalah pengkhianatan terhadap amanat.

BPS menetapkan Garis Kemiskinan sekitar Rp669.235 per kapita per bulan (data 2026). Standar ini adalah keranjang bertahan hidup, bukan kehidupan layak. Bandingkan dengan standar Bank Dunia untuk negara berpendapatan menengah atas (sekitar Rp2,9 juta/bulan)—selisih lebih dari 4 kali lipat! Akibatnya, 64-68% penduduk Indonesia dianggap miskin versi Bank Dunia, sementara BPS hanya mencatat 8% .

Dalam Islam, para ulama (Hanafi, Syafi’i, Maliki, Hanbali) sepakat bahwa fakir dan miskin adalah mereka yang tidak mencukupi kebutuhan dasarnya. Ukurannya adalah kelayakan hidup, bukan peringkat statistik. Seorang yang masuk desil 4 namun masih kesulitan membeli beras, dalam Islam tetaplah miskin—dan berhak dibantu.

Kewajiban Pemimpin: Bukan Mengubah Data, Tapi Mengubah Nasib

Islam secara tegas membebankan tanggung jawab kepada pemimpin untuk memastikan kesejahteraan rakyat. Ini bukan sekadar slogan, melainkan amanat yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Lalu, bagaimana seharusnya pemimpin mensejahterakan rakyat menurut Islam?

Kelola Zakat Secara Profesional

Zakat adalah instrumen fiskal utama pengentasan kemiskinan. Bukan amal sukarela, melainkan hak rakyat miskin yang harus ditegakkan negara. Potensi zakat di Indonesia mencapai ratusan triliun rupiah—cukup untuk mengentaskan kemiskinan jika dikelola dengan amanah.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)

“Rasulullah SAW memerintahkan untuk memungut zakat dari orang-orang kaya dan memberikannya kepada orang-orang miskin di antara mereka.” (HR. Bukhari & Muslim)

Sayangnya, kini masalah zakat pun tak lepas dari intrik politik.

Distribusi Kekayaan Secara Adil

Allah melarang harta hanya beredar di kalangan orang kaya:

“…supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Ini berarti kebijakan fiskal, subsidi, dan program sosial harus berpihak pada rakyat kecil—bukan sekadar mengubah status desil di atas kertas.

Pemberdayaan, Bukan Sekadar Bantuan

Islam mengajarkan pemberdayaan agar rakyat mandiri, sebagaimana dianjurkan dalam QS. An-Nahl ayat 97 tentang _”kehidupan yang baik.”_ Negara wajib menyediakan akses pendidikan berkualitas, modal usaha, dan lapangan kerja.

Verifikasi Lapangan, Bukan Sekadar Data

Data adalah alat, bukan tujuan. Pemimpin wajib turun langsung, melihat kondisi riil rakyatnya, dan memastikan tak ada yang kelaparan. Sikap Umar bin Khattab RA yang menangis melihat wanita tua kelaparan adalah teladan: pemimpin bertanggung jawab secara personal, tidak bisa berlindung di balik angka.

Allah SWT mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)

Desil dalam kacamata Islam bukanlah sekadar klasifikasi, melainkan panggilan untuk bertindak. Jika status diubah tetapi nasib tidak, maka itu hanya permainan angka. Yang Allah tanyakan kelak bukanlah “Di desil berapa catatanmu?” melainkan:

“Apakah engkau telah memberi makan orang miskin?” (QS. Al-Ma’un: 3)

Dan kepada para pemimpin, Allah akan bertanya:

“Apa yang telah kamu perbuat untuk kaum yang lemah di antaramu?”

Sudah saatnya kita berhenti memperbaiki angka dan mulai memperbaiki kehidupan. Karena sebaik-baik pemimpin adalah yang paling peduli pada rakyatnya, bukan yang paling pandai membuat laporan. Wallahu a’lam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *