SUKABUMITIMES. com-Lubang-lubang agak dangkal bekas galian mendadak menyisakan tanda tanya di kawasan Perbukitan Batu Ngampar, Desa Cikakak, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi.
Di balik tanah yang kembali ditutup itu, terselip kabar tentang perburuan harta karun yang membuat warga dan pegiat budaya turun tangan.
Informasi mengenai aktivitas penggalian tersebut beredar dari warga sekitar. Disebutkan, sejumlah orang datang ke kawasan perbukitan dan menggali tanah dengan tujuan yang hingga kini belum diketahui secara pasti.
Kabar itu kemudian mengundang perhatian Ketua Paguyuban Padjajaran Anyar, Abah Firman Hidayat, bersama sejumlah pegiat tradisi Lebak Cawene dan Komunitas Saliwang.
Mereka mendatangi lokasi untuk memastikan informasi yang berkembang di tengah masyarakat.
“Informasinya dari warga, katanya ada oknum yang menggali untuk mencari harta karun. Kami sebagai warga tentu harus mengantisipasi,” kata Firman.
Dari penelusuran di lokasi, Firman menyebut terdapat sekitar lima hingga enam titik yang diduga merupakan bekas penggalian. Informasi yang diterimanya menyebut aktivitas tersebut dilakukan pada waktu yang berbeda, termasuk malam hari.
“Kalau dihitung sekitar lima atau enam titik. Informasinya ada yang dilakukan malam hari, ada juga siang hari,” ujarnya.
Bagi Bah Firman, persoalannya bukan sekadar soal benar atau tidaknya isu harta karun. Aktivitas penggalian tanpa kejelasan tujuan dinilai berpotensi menimbulkan persoalan baru, terlebih kawasan tersebut memiliki kaitan dengan sejarah dan tradisi masyarakat.
“Kekhawatiran warga menguat karena kawasan tersebut pernah menjadi lokasi munculnya makam-makam yang diduga palsu,” tuturnya.
Firman mengatakan, pada kejadian sebelumnya, terdapat sekitar 40 makam yang dibuat dan kemudian ditindak.
“Dulu pernah terjadi pembuatan makam-makam palsu, sekitar 40 kalau tidak salah, dan sudah ditindak,” ucapnya.
Kesaksian warga sekitar turut membuka sedikit tabir mengenai aktivitas tersebut. Abah Enoh (64), warga setempat, mengatakan informasi yang diterimanya menyebut orang-orang tersebut melakukan penggalian selama satu hari.
“Katanya mencari harta karun,” kata Enoh.
Menurutnya, kedalaman lubang yang dibuat sekitar setengah meter. Namun, lubang-lubang itu kemudian kembali ditutup.
“Sudah ditutup lagi,” ujarnya.
Enoh juga menyebut para penggali tidak sampai bermalam di lokasi. Mereka datang dan pergi pada hari yang sama. Ketika ditanya apakah benar mereka menemukan sesuatu, Enoh mengaku tidak mengetahui hasil penggalian tersebut. Ia hanya mengetahui bahwa pencarian itu dikaitkan dengan sebuah “firasat”.
“Iya, katanya dapat firasat,” katanya.
Bagi Enoh, kabar mengenai harta karun tersebut merupakan sesuatu yang baru. Selama tinggal di kawasan itu, ia mengaku belum pernah mendengar cerita serupa.
“Belum pernah. Baru sekarang,” ujarnya. (stm)

































