Gempa Magnitudo 7,7 Berpotensi Tsunami, BMKG Tetapkan Status Siaga dan Waspada di NTT, NTB, dan Sulsel

SUKABUMITIMES.com – Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengungkapkan, gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) berpotensi menimbulkan tsunami di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan.

“Gempa bumi ini berpotensi tsunami di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat,” ungkap Wijayanto dalam keterangan BMKG, Sabtu (15/8/2026).

Wijayanto mengatakan, berdasarkan hasil analisis BMKG, terdapat wilayah yang masuk dalam status Siaga dengan perkiraan tinggi tsunami 0,5 hingga 3 meter.

“Untuk status Siaga, wilayah yang berpotensi terdampak berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan,” katanya.

Di NTT, wilayah yang masuk status Siaga meliputi Manggarai bagian Utara dengan perkiraan waktu tiba tsunami pukul 05:02 WIB, Ngada bagian Utara pukul 05:02 WIB, Ende pukul 05:05 WIB, serta Flores Timur pukul 05:15 WIB.

Sementara di Sulawesi Selatan, status Siaga berlaku untuk wilayah Jeneponto dengan perkiraan waktu tiba tsunami pukul 05:13 WIB.

“Selain status Siaga, terdapat pula wilayah yang masuk status Waspada dengan potensi ketinggian tsunami kurang dari 0,5 meter,” ujar Wijayanto.

Untuk status Waspada, wilayah yang terdampak meliputi Flores Timur di NTT dengan perkiraan waktu tiba pukul 05:15 WIB, Bima dan Dompu di NTB masing-masing pukul 05:12 WIB dan 05:19 WIB, serta Wajo di Sulawesi Selatan dengan perkiraan waktu tiba pukul 06:01 WIB.

Wijayanto menegaskan, BMKG telah menjalankan prosedur sesuai standar operasional yang berlaku dengan menyampaikan peringatan dini tsunami kepada stakeholder dan masyarakat.

“Berdasarkan SOP yang berlaku, BMKG telah menyampaikan peringatan dini tsunami kepada stakeholder dan masyarakat,” tegasnya.

Ia menjelaskan, Peringatan Dini Tsunami 1 diterbitkan BMKG pada pukul 05:00:39 WIB atau sekitar 2 menit 16 detik setelah gempa bumi.

“Peringatan Dini 1 telah diterbitkan pada pukul 05:00:39 WIB atau 2 menit 16 detik setelah gempa bumi,” jelas Wijayanto.

Selanjutnya, BMKG kembali menerbitkan Peringatan Dini Tsunami 2 pada pukul 05:09:56 WIB atau 11 menit 33 detik setelah gempa bumi.

“Peringatan Dini 2 telah diterbitkan pada pukul 05:09:56 WIB atau 11 menit 33 detik setelah gempa bumi,” ujarnya.

Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan atau shakemap BMKG, gempa tersebut juga dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah NTT.

“Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan, gempa bumi ini dirasakan dengan beberapa skala intensitas di wilayah Nusa Tenggara Timur,” kata Wijayanto.

Guncangan mencapai VII MMI di Aesesa, Nagekeo, Riung, Ngada, serta Kota Mbay. Pada skala tersebut, guncangan dapat menyebabkan setiap orang keluar rumah dan berpotensi menimbulkan kerusakan ringan pada bangunan konstruksi yang baik.

“Intensitas VII MMI tercatat di Aesesa, Nagekeo, Riung, Ngada, dan Kota Mbay,” ungkapnya.

Sementara intensitas VI MMI dirasakan di Wolowae, Nagekeo, dan Kota Bajawa. Pada tingkat ini, getaran dirasakan oleh seluruh penduduk sehingga banyak warga terkejut dan berlari keluar rumah.

“Untuk intensitas VI MMI dirasakan di Wolowae, Nagekeo, dan Kota Bajawa,” tutur Wijayanto.

Adapun intensitas V MMI tercatat di Kota Ende, Kota Borong, dan Kota Ruteng.

“Sedangkan intensitas V MMI dirasakan di Kota Ende, Kota Borong, dan Kota Ruteng,” katanya.

BMKG, lanjut Wijayanto, masih terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi setelah gempa, termasuk kemungkinan terjadinya gempa bumi susulan serta perubahan ketinggian tsunami berdasarkan hasil observasi muka laut.

“BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan dan ketinggian tsunami berdasarkan observasi tinggi muka laut,” ujarnya.

Wijayanto menambahkan, setiap perkembangan terbaru akan disampaikan kepada stakeholder dan masyarakat melalui informasi resmi BMKG.

“Kami akan terus menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat,” tegasnya.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi atau isu yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Imbauan kami kepada masyarakat adalah tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” kata Wijayanto.

Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat guncangan gempa.

“Warga diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi,” ujarnya.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah dengan status Awas dan Siaga, BMKG meminta segera melakukan evakuasi ke tempat yang aman.

“Bagi yang berada di wilayah dengan status Awas dan Siaga, segera melakukan evakuasi,” tegas Wijayanto.

Sedangkan masyarakat di wilayah dengan status Waspada diminta menjauhi pantai dan tepian sungai.

“Untuk masyarakat yang berada di wilayah dengan status Waspada, kami mengimbau agar menjauhi pantai dan tepian sungai,” pungkasnya.

BMKG mengingatkan masyarakat agar hanya mempercayai informasi resmi yang disampaikan melalui kanal komunikasi BMKG yang telah terverifikasi, termasuk media sosial @infoBMKG, situs resmi BMKG, inatews.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta WRS-BMKG.

“Kami mengimbau masyarakat memastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi,” tutup Wijayanto. (sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *