SUKABUMITIMES.com – Di sebuah kampung sederhana di Kudus, Jawa Tengah, seorang pria berkaus lusuh mengangkat adukan semen, menyusun batu bata, lalu pulang menjelang senja. Tak ada iring-iringan kendaraan, tak ada sorot kamera, apalagi pengawalan layaknya tokoh besar. Seusai bekerja, ia lebih memilih duduk di tepi sungai sambil memancing.
Sekilas, hidupnya tak berbeda dengan ribuan tukang bangunan lain di pelosok Indonesia.
Dialah Supriyanto (39) asal Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.
Namun siapa sangka, lelaki sederhana yang akrab disapa Mbah Riyan itu ternyata menyimpan kisah yang nyaris tak masuk akal. Di balik tangan yang kasar karena semen dan pasir, ia adalah seorang ulama sekaligus cendekiawan yang dikenal di dunia akademik internasional dengan nama Ibnu Harjo Al-Jawi.
Ironisnya, namanya justru lebih dikenal di perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi Islam dunia dibanding di negeri sendiri.
Di era ketika ketenaran sering kali diukur dari jumlah pengikut media sosial, kisah Mbah Riyan menghadirkan ironi sekaligus pelajaran. Ia tidak aktif membangun citra, tidak rutin tampil di layar televisi, bahkan nyaris tak pernah menjadi pembicaraan publik. Tetapi karya-karyanya menjadi pegangan para akademisi, peneliti, hingga ulama di berbagai negara.
Akun Instagram Dawuh Guru pernah menuliskan sebuah refleksi yang menggambarkan sosoknya dengan begitu sederhana.
“Kalau melihat seseorang memakai baju sederhana, bekerja sebagai tukang bangunan, lalu sore harinya memancing di sungai, mungkin kita akan menganggapnya sebagai orang biasa. Padahal, bisa jadi kita sedang berpapasan dengan orang yang ilmunya dipelajari oleh dunia.”
Kalimat itu seolah menjadi tamparan halus bagi masyarakat yang kerap mengukur seseorang dari penampilan luar.
Menjaga Warisan Ulama dalam Kesunyian
Di dunia akademik Islam, Mbah Riyan bukan sekadar penulis. Ia dikenal sebagai seorang muhaqqiq, profesi yang mungkin asing di telinga masyarakat umum, tetapi memiliki peran yang sangat vital.
Seorang muhaqqiq bekerja meneliti manuskrip-manuskrip kuno, membandingkan berbagai salinan, memverifikasi setiap redaksi, mengoreksi kesalahan penyalinan yang terjadi selama ratusan tahun, hingga memastikan naskah yang diterbitkan sedekat mungkin dengan tulisan asli para ulama terdahulu.
Pekerjaan itu tidak menghadirkan tepuk tangan. Tidak pula menghasilkan popularitas.
Sebaliknya, ia menuntut kesabaran luar biasa, ketelitian tinggi, serta penguasaan mendalam terhadap bahasa Arab klasik, sejarah, hadis, fikih, hingga ilmu-ilmu pendukung lainnya.
Tanpa kehadiran para muhaqqiq seperti Mbah Riyan, banyak warisan intelektual Islam berpotensi mengalami distorsi bahkan kehilangan keasliannya.
Mereka bekerja dalam sunyi, tetapi menjaga fondasi ilmu tetap kokoh bagi generasi yang datang kemudian.
Dari Kudus Menuju Dunia
Dedikasi panjang itu melahirkan karya yang tak sedikit.
Ibnu Harjo Al-Jawi telah menyelesaikan 12 jilid kitab tahqiq serta menghasilkan lebih dari 100 karya ilmiah yang kini menjadi referensi di berbagai pusat studi Islam.
Di antara karya-karyanya terdapat Al-Istihsan, Haqiqatuhu wa Hujjiyyatuhu, Rodd Al-Hadits Al-Dha’if bi Al-Kulliyyah, Is’af Al-Muthaali’ karya Syekh Mahfudz At-Tarmasi, Tahqiq Al-Kalimat fi Al-Ushul Al-Fiqhiyyah, hingga Al-Taufiq Al-Jaliy Bain Al-Asy’ariy wa Al-Hanbaliy.
Karya-karya tersebut menjadi rujukan penting dalam kajian ushul fikih, hadis, akidah, hingga tasawuf.
Sungguh kontras.
Pada pagi hari, ia mengangkat semen di lokasi pembangunan. Di waktu lain, pemikirannya menjadi bahan diskusi di ruang-ruang akademik lintas negara.
Ketika Penghargaan Bukan Tujuan
Ada satu kisah yang semakin memperlihatkan karakter Mbah Riyan.
Ketika menerima MUI Awards, sebuah penghargaan bergengsi bagi tokoh yang berjasa dalam pengembangan keilmuan Islam, ia justru memilih tidak hadir.
Bukan karena meremehkan penghargaan tersebut.
Menurut Dawuh Guru, keputusan itu diambil karena ia lebih memilih membangun manfaat daripada membangun nama.
Pilihan itu terasa semakin langka di zaman ketika banyak orang berlomba mengejar pengakuan publik. Mbah Riyan justru memperlihatkan bahwa ilmu tidak selalu membutuhkan panggung. Ia percaya bahwa manfaat akan menemukan jalannya sendiri, meski pemiliknya tetap berjalan dalam kesederhanaan.
Mereka yang Menjaga Peradaban dari Balik Layar
Selama ini perhatian masyarakat lebih banyak tertuju kepada para dai yang tampil di mimbar, tokoh yang hadir di televisi, atau figur yang aktif di media sosial.
Padahal, ada banyak sosok lain yang bekerja tanpa sorotan.
Mereka adalah para peneliti, editor kitab, penyunting manuskrip, dan muhaqqiq yang menghabiskan hidupnya menjaga agar khazanah keilmuan Islam tetap autentik.
Tanpa mereka, banyak kitab klasik yang selama ini menjadi pegangan pesantren, perguruan tinggi, maupun lembaga pendidikan Islam mungkin tak lagi dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Mereka mungkin tidak dikenal masyarakat luas, tetapi keberadaan mereka menjadi penyangga penting keberlangsungan tradisi ilmu.
Ukuran Keberhasilan yang Berbeda
Kisah Mbah Riyan bukan sekadar tentang seorang tukang bangunan yang menjadi ulama kelas dunia. Lebih dari itu, kisah ini mengajak kita meninjau ulang cara memandang keberhasilan.
Barangkali selama ini kita terlalu mudah mengagumi apa yang tampak di permukaan—popularitas, jumlah pengikut, atau sorotan kamera.
Padahal, sejarah peradaban sering kali dibangun oleh orang-orang yang bekerja dalam diam.
Mbah Riyan memilih tetap hidup sederhana. Ia tetap menjadi tukang bangunan, tetap pulang sore hari, dan tetap menikmati waktu memancing di sungai. Namun di saat yang sama, pemikirannya terus hidup di rak-rak perpustakaan, ruang kuliah, dan majelis ilmu di berbagai penjuru dunia.
Pada akhirnya, ia mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi mendalam: nilai seseorang tidak diukur dari seberapa terkenal namanya, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya bagi orang lain. Sebab popularitas bisa memudar oleh waktu, tetapi ilmu yang bermanfaat akan terus hidup, bahkan ketika pemiliknya telah lama meninggalkan dunia. (sya)


























