Oleh: Kang Warsa
Dua bulan lalu saya membaca salah satu buku Bertrand Russell berjudul “Icarus or The Future of Science”. Meskipun pertama kali diterbitkan hampir seabad lalu, isinya terasa semakin relevan pada masa kini. Russell memberikan semacam peringatan tentang bahaya sains dan teknologi apabila tidak disertai kebijaksanaan. Yang dimaksud bijaksana di sini bukanlah menolak teknologi, melainkan menempatkannya secara proporsional, sebagai peladen yang melayani manusia, bukan sebagai tuan yang harus disembah atau instrumen untuk memuaskan hasrat kekuasaan dan akumulasi materi.
Untuk menjelaskan gagasannya, Russell menggunakan mitologi Yunani tentang Icarus. Bersama ayahnya, Daedalus, Icarus dipenjara oleh Raja Minos di Pulau Kreta. Daedalus kemudian membuat dua pasang sayap dari bulu dan lilin agar mereka dapat melarikan diri. Sebelum terbang, sang ayah memberikan dua nasihat sederhana; jangan terbang terlalu rendah agar sayap tidak basah oleh air laut, dan jangan pula terlalu tinggi agar lilinnya tidak meleleh karena panas matahari.
Namun euforia kebebasan membuat Icarus melupakan batas. Ia terus terbang semakin tinggi hingga panas matahari melelehkan lilin yang merekatkan sayapnya. Sayap itu tercerai-berai dan Icarus jatuh ke laut. Dalam mitologi Yunani, tragedi tersebut bukan kisah tentang kegagalan, melainkan peringatan mengenai bahaya kesombongan dan hilangnya kemampuan manusia untuk mengenali batas dirinya sendiri.
Russell mengangkat kisah itu sebagai alegori tentang hubungan manusia dengan teknologi. Ketika manusia berhasil menguasai suatu pengetahuan, muncul godaan untuk percaya bahwa dirinya mampu mengendalikan segala sesuatu. Padahal, sejarah justru menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan sering kali berjalan lebih cepat daripada kematangan moral manusia dalam menggunakannya.
Ambisi, sebenarnya, merupakan tenaga penggerak peradaban. Tanpa ambisi, manusia mungkin tidak akan mengenal pertanian, pelayaran, astronomi, atau mesin uap. Akan tetapi, setiap lompatan besar selalu menghadirkan risiko baru. Tradisi religius maupun filsafat sama-sama mengingatkan bahwa ketika ambisi berubah menjadi keserakahan, keseimbangan sosial mulai terganggu. Karena itulah setiap peradaban akhirnya membangun aturan moral dan hukum sebagai penyeimbang bagi naluri manusia untuk terus memperluas kekuasaannya.
Revolusi Industri menjadi contoh nyata. Penemuan mesin-mesin baru meningkatkan produktivitas, mempercepat transportasi, dan memperluas perdagangan dunia. Namun di saat yang sama, lahir pula kolonialisme modern, eksploitasi sumber daya alam, perlombaan senjata, dan perang industri yang belum pernah dikenal sebelumnya. Teknologi tidak pernah memiliki moral; manusialah yang menentukan ke arah mana teknologi digunakan.
Russell tidak pernah bersikap anti-sains. Ia mengakui bahwa ilmu pengetahuan telah memperpanjang usia harapan hidup, memperbaiki sanitasi, mengurangi angka kematian bayi, meningkatkan produksi pangan, serta memungkinkan kerja sama ekonomi dalam skala global. Namun ia juga mengingatkan bahwa kemajuan biologi, psikologi, dan ilmu perilaku berpotensi disalahgunakan oleh negara untuk mengendalikan masyarakat melalui manipulasi informasi, pendidikan, maupun rekayasa sosial. Kekhawatiran itu, yang dahulu tampak spekulatif, justru terasa semakin dekat pada abad ke-21.
Puncak Peradaban atau Titik Nadir?
Banyak orang beranggapan bahwa Revolusi Industri 4.0 merupakan puncak perkembangan sains dan teknologi. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Dalam beberapa dekade terakhir, manusia berhasil menciptakan sistem digital yang mampu menyimpan, mengolah, dan menyebarkan pengetahuan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika dahulu pikiran manusia hanya berada di dalam otaknya, kini sebagian fungsi kognitif itu seolah dieksternalisasikan ke dalam jaringan komputer dan pusat data yang tersebar di berbagai belahan dunia.
Di sinilah saya lebih menyukai istilah akal imitasi sebagai padanan dari artificial intelligence. Disebut imitasi karena kecerdasan ini bekerja dengan meniru pola pikir manusia melalui data yang dikumpulkan, dipelajari, lalu dirumuskan kembali menjadi jawaban atau keputusan. Ia mampu mengenali pola, menyusun kalimat, menciptakan gambar, bahkan membantu manusia mengambil keputusan. Namun semua itu tetap merupakan hasil imitasi atas pengalaman manusia, bukan kesadaran yang lahir dari dirinya sendiri.
Karena itu, akal imitasi sesungguhnya bukan pengganti manusia. Ia adalah perpanjangan kemampuan kognitif manusia, sebagaimana teleskop memperpanjang kemampuan mata dan mesin uap memperpanjang tenaga otot. Masalah baru muncul ketika manusia mulai menyerahkan penilaian moral, tanggung jawab, bahkan arah hidupnya kepada sistem yang sejatinya hanya menjalankan algoritma. Pada saat itulah posisi alat perlahan berubah menjadi penentu.
Maka, dalam hal ini mitologi Icarus menjadi relevan kembali dengan era sekarang. Bahaya terbesar akal imitasi bukan terletak pada mesinnya, melainkan pada kecenderungan manusia untuk mengagumi ciptaannya sendiri secara berlebihan. Ketika manusia menganggap teknologi sebagai otoritas terakhir, ia sedang mengulangi kesalahan Icarus, mabuk oleh kemampuan yang diciptakannya sendiri hingga lupa bahwa setiap kemajuan selalu memiliki batas.
Masa depan peradaban tidak akan ditentukan oleh seberapa canggih akal imitasi yang berhasil kita banggakan, melainkan oleh seberapa dewasa manusia menggunakannya. Mesin dapat menghitung lebih cepat daripada otak manusia, tetapi ia tidak memiliki nurani. Algoritma dapat memprediksi banyak hal, tetapi tidak memahami makna keadilan. Karena itu, selama kesadaran moral tetap berada di tangan manusia, teknologi akan menjadi sayap yang membantu kita terbang. Begitu juga sebaliknya, ketika manusia menyerahkan kendali sepenuhnya kepada ciptaannya sendiri, kisah Icarus dapat terulang kembali dalam sejarah modern. (*)






























