SUKABUMITIMES.com – Di sebuah sudut Kota Sukabumi, denting lisung yang ditabuh berirama dan kobaran api dari permainan Bola Leungeun Seuneu ternyata bukan sekadar pertunjukan budaya. Di tangan Saehudin, dua tradisi itu berubah menjadi jembatan yang mempertemukan agama, budaya, dan identitas masyarakat Sunda dalam ruang akademik tertinggi.
Perjalanan Saehudin menuju gelar doktor bukan kisah yang dibangun dalam waktu singkat. Ia menapaki jalan panjang penuh ketekunan hingga akhirnya dinyatakan lulus dalam sidang terbuka Program Doktor Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa 19 Mei 2026. Di Aula lantai 4 Gedung Pascasarjana Kampus 2 UIN SGD Bandung, pria kelahiran Sukabumi itu sukses mempertahankan disertasinya di hadapan tim promotor dan penguji.
Dengan disertasi berjudul “Persentuhan Agama dan Budaya Lokal: Studi Tradisi Ngagotong Lisung dan Permainan Bola Leungeun Seuneu di Pesantren Dzikir Al-Fath Kota Sukabumi”, Saehudin meraih gelar doktor bidang Studi Agama-Agama dengan IPK 3,62 dan predikat sangat memuaskan.
Namun lebih dari sekadar angka akademik, penelitian itu membawa pesan kuat bahwa pesantren tidak selalu identik dengan ruang yang memisahkan tradisi lokal dari kehidupan religius. Justru di Pesantren Dzikir Al-Fath, budaya Sunda tumbuh berdampingan dengan nilai-nilai Islam dan menjadi bagian dari praktik keberagamaan sehari-hari.
Dalam penelitiannya, Saehudin menemukan bahwa tradisi Ngagotong Lisung dan Bola Leungeun Seuneu masih hidup dan terus diwariskan di lingkungan pesantren. Tradisi itu bukan hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, melainkan menjadi media pendidikan sosial dan spiritual bagi para santri.
Ngagotong Lisung, misalnya, menghadirkan nilai kebersamaan dan solidaritas sosial melalui aktivitas kolektif masyarakat. Sementara Bola Leungeun Seuneu menanamkan keberanian, kedisiplinan, sekaligus rasa syukur kepada Tuhan. Di lingkungan pesantren, kedua tradisi itu dimaknai ulang dalam perspektif Islam sehingga tidak dianggap bertentangan dengan ajaran agama.
Di sinilah letak menariknya penelitian Saehudin. Ia melihat agama dan budaya bukan sebagai dua kutub yang saling meniadakan, tetapi dua unsur yang dapat berdialog dan saling memperkaya.
Pesantren Dzikir Al-Fath dalam penelitian tersebut digambarkan bukan hanya sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat transmisi budaya lokal. Melalui ritual budaya, pendidikan karakter, hingga aktivitas sosial yang melibatkan masyarakat sekitar, pesantren menjadi ruang hidup tempat nilai-nilai religius dan budaya Sunda berjalan berdampingan.
Pendekatan dakwah kultural yang diterapkan pesantren dinilai mampu menghadirkan ajaran Islam secara lebih kontekstual dan dekat dengan masyarakat. Nilai-nilai keislaman tidak disampaikan secara kaku, tetapi hadir melalui simbol budaya, pengalaman sosial, dan tradisi yang sudah akrab di tengah masyarakat.
Bagi Saehudin, pelestarian budaya lokal tidak cukup hanya melalui seremoni. Tradisi perlu dirawat melalui pendidikan, dokumentasi, dan keterlibatan generasi muda agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Karena itu, penelitiannya juga mendorong adanya dukungan lebih besar dari pemerintah daerah, lembaga kebudayaan, hingga kalangan akademisi untuk menjaga keberlanjutan tradisi lokal yang memiliki nilai religius dan sosial.
Keberhasilan Saehudin menyelesaikan studi doktoralnya menjadi bukti bahwa riset tentang budaya lokal memiliki tempat penting di dunia akademik. Dari Sukabumi, ia membawa pesan sederhana namun kuat: agama dan budaya tidak selalu harus dipertentangkan.
Di ruang pesantren, keduanya justru dapat bertemu, berdialog, dan bersama-sama membentuk wajah keberagamaan masyarakat yang lebih inklusif dan membumi. (sya)































