SUKABUMITIMES.com – SDN Cipanas, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi mulai menerapkan program salat dhuha rutin sebagai upaya membangun karakter dan memperkuat fondasi keagamaan siswa di tengah perkembangan zaman dan tantangan era digital atau generasi Z.
Program tersebut digagas Kepala SDN Cipanas, Endin Syaefudin, setelah dirinya mendapat rotasi jabatan dari Kecamatan Gunung Puyuh ke Kecamatan Citamiang sebagai kepala sekolah baru di SDN Cipanas.
Endin mengatakan, sebelumnya kegiatan salat dhuha di sekolah hanya dilaksanakan setiap hari Jumat. Namun setelah melakukan koordinasi bersama para guru, pihak sekolah sepakat menambah jadwal pelaksanaan menjadi tiga kali dalam sepekan, yakni setiap Selasa, Rabu, dan Jumat. Sementara pada hari Kamis diisi dengan kegiatan olahraga bersama.
“Ketika saya mulai bertugas di SDN Cipanas, saya ingin ada perubahan kebiasaan positif di sekolah. Awalnya salat dhuha hanya hari Jumat, sekarang kami laksanakan rutin pada Selasa, Rabu, dan Jumat setelah hasil koordinasi dengan para guru,” ujar Endin di ruang kerjanya, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, program tersebut menjadi salah satu langkah untuk membentengi para siswa dari pengaruh negatif perkembangan zaman, sekaligus mendekatkan anak-anak kepada nilai-nilai keagamaan sejak usia dini.
Ia menilai, pembiasaan ibadah di lingkungan sekolah penting dilakukan agar para siswa memiliki karakter yang kuat dan terbiasa menjalankan ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
“Ini menjadi pondasi bagi anak-anak dalam menghadapi zaman gen Z. Dengan salat dhuha, mereka diharapkan lebih dekat kepada Tuhan dan memiliki benteng diri dari hal-hal negatif,” katanya.
Endin berharap kebiasaan tersebut tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga dapat diterapkan para siswa di rumah maupun di lingkungan masyarakat setelah selesai mengikuti pembelajaran.
Selain program salat dhuha, SDN Cipanas juga menerapkan kegiatan kultum atau kuliah tujuh menit bagi para siswa. Melalui kegiatan tersebut, sekolah ingin melatih keberanian siswa tampil di depan umum sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.
“Kami juga mengajarkan anak-anak untuk kultum. Tujuannya agar mereka berani berbicara di depan umum dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi,” ucapnya.
Ia menegaskan, kegiatan keagamaan tersebut bersifat wajib bagi seluruh siswa maupun tenaga pendidik di lingkungan sekolah. Bahkan dirinya sebagai kepala sekolah selalu ikut hadir dalam pelaksanaan salat dhuha bersama para siswa.
“Sebagai kepala sekolah, saya harus ikut memberikan contoh kepada anak-anak. Karena pendidikan karakter itu harus dimulai dari keteladanan,” pungkasnya. (rus).






























