SUKABUMITIMES.com – Raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung, resmi menghentikan penjualan televisi dan perangkat elektronik rumah tangga lainnya di pasar China. Keputusan strategis itu diumumkan pada Rabu (6/5) waktu setempat di tengah ketatnya persaingan dengan produsen lokal negeri tirai bambu.
Dalam pernyataan resminya, Samsung menegaskan pihaknya akan berupaya mengurangi dampak keputusan tersebut terhadap konsumen maupun mitra bisnis.
“Kami berupaya semaksimal mungkin untuk meminimalisir dampak ke konsumen atas keputusan ini. Kami juga mengkaji berbagai langkah dukungan untuk mitra bisnis kami,” tulis Samsung dalam pernyataan resmi yang dikutip dari Reuters pada Jumat (8/5/2026).
Langkah Samsung ini sebenarnya sudah mulai terendus sebelumnya. Sejumlah media Korea Selatan lebih dulu melaporkan rencana perusahaan tersebut untuk keluar dari bisnis TV dan perangkat rumah tangga di China.
Meski unit bisnis chip memori Samsung tengah menikmati lonjakan permintaan berkat perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), lini bisnis lain justru mengalami tekanan berat. Produk TV, perangkat rumah tangga, hingga smartphone Samsung disebut semakin sulit bersaing di pasar China.
Awal pekan ini, Samsung bahkan melakukan pergantian pimpinan bisnis TV untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun. Pergantian tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya restrukturisasi menghadapi tekanan pasar global.
Dominasi Samsung di pasar TV dunia juga mulai mendapat ancaman serius. Pada Desember tahun lalu, posisi Samsung sempat disalip produsen elektronik asal China,
Bahkan baru-baru ini, TCL dikabarkan menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan Jepang, Sony Grup, menurut laporan lembaga riset pasar Counterpoint.
Tekanan yang dihadapi Samsung tidak hanya datang dari persaingan merek lokal, tetapi juga dampak tarif perdagangan Amerika Serikat (AS). Bisnis TV dan perangkat rumah tangga Samsung tercatat merugi hingga 200 miliar won atau sekitar Rp2,3 triliun sepanjang tahun lalu.
Di sektor smartphone, Samsung yang kini menjadi produsen ponsel terbesar kedua di dunia juga terus kehilangan pangsa pasar di China. Persaingan ketat dengan Apple serta merek lokal membuat posisi Samsung semakin terdesak.
Sementara di bisnis chip memori, meskipun kinerjanya masih tumbuh positif, Samsung juga mulai menghadapi ancaman dari perusahaan China seperti ChangXin Memory Technologies yang terus memperkuat daya saing mereka di industri semikonduktor global. (sya)






























