Tran Pengangguran di Jawa Barat Mulai Bergeser ke Pedesaan, Kepala BPS: Tidak Selamanya Konotasi Negatif

SUKABUMITIMES.com – Kepala Biro Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengungkapkan bahwa tingkat pengangguran di Jawa Barat pada periode Februari 2026 membaik, yakni menurun di angka 0,01 persen bila dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Hal ini diungkapkannya di Bandung pada Rabu (6/5/2026).

“Angka pengangguran di Jawa Barat per Febuari 2026 berada di kisaran 6,64 persen atau 1,79 juta orang,” ujar Margaretha Ari Anggorowati.

Namun yang menarik apa yang diungkapkan Ari adalah fenomena pencari kerja di masyarakat pedesaan. Dimana mereka mencoba menahan diri untuk tidak melakukan urbanisasi ke pusat-pusat industri.

“Sekarang orang tidak sepenuhnya mencari pekerjaan ke kota. Mereka bertahan mencari pekerjaan di desa. Peningkatan pengangguran di pedesaan ini sebetulnya peluang dan potensi, artinya masyarakat pedesaan sudah mulai aktif di pasar kerja,” ujar Ari.

Menurutnya, kenaikan TPT di desa tidak sepenuhnya berkonotasi negatif. Hal ini menunjukkan mulia adanya tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan yang mulia keluar dari aktivitas rumah tangga untuk mencari pekerjaan atau meniti usaha baru di desa.

“TPT naik tidak selalu negatif. Artinya orang-orang yang aktif di pasar kerja meningkat, baik mencari pekerjaan maupun menyiapkan usaha baru,” ucapnya.

Ari memperingatkan tantangan terbesar saat ini berupa adanya disparitas atau ketimpangan ekonomi antarwilayah yang masih melebar.

“Kondisi hari ini sebenarnya ada sinyal semakin membaik, yakni dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 110,19 ribu orang yang satu tahun terakhir,” bebernya.

Untuk itu, Ari menyarankan penguatan lembaga perekonomian di desa, supaya pertumbuhan ekonomi tidak terpusat di wilayah industri, seperti Karawang dan Bekasi.

“Nah, ini perlu strategi yang kuat, supaya beban pengangguran bisa diatasi.

BPS Jabar mencatat dari 26,89 juta angkatan kerja di Jabar, sektor Perdagangan Besar dan Eceran masih menjadi “penyelamat” utama dengan menyerap 21,81 persen tenaga kerja. Disusul sektor Industri (18,32 persen) dan Pertanian (15,57 persen).

Dilihat dari statusnya, pasar kerja Jabar masih didominasi sektor informal sebesar 55,80 persen (14,01 juta orang), sementara pekerja formal tercatat 44,20 persen (11,09 juta orang). (sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *