SUKABUMITIMES.com — Kelurahan Gunung Parang Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, terus berinovasi dalam upaya meminimalisasi sampah rumah tangga melalui pemanfaatan lubang biopori.
Program ini dinilai efektif dalam mengurangi sampah organik sekaligus menghasilkan pupuk kompos yang bermanfaat.
Sekretaris Kelurahan Gunung Parang, Andri Aliyudin mengatakan bahwa pembuatan lubang biopori merupakan salah satu langkah konkret dalam pengelolaan sampah berbasis lingkungan di tingkat masyarakat.
“Inovasi ini difokuskan untuk mengurangi sampah rumah tangga, khususnya sampah organik seperti sisa makanan, daun, dan nasi,” ujar Andri saat ditemui di ruang kerjanya pada Jumat (24/4/2026).
Menurut dia, lubang biopori tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah organik, tetapi juga memiliki manfaat lain, seperti membantu penyerapan air ke dalam tanah.
“Dengan lubang biopori, sampah organik akan membusuk dan menjadi kompos. Pupuk ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk tanaman di lingkungan rumah warga,” jelasnya.
Andri menambahkan, program ini ke depan akan dikembangkan secara lebih masif agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Ia mengakui, keterbatasan lahan di wilayah perkotaan seperti Gunung Parang menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan biopori. Namun, pihak kelurahan menyiasatinya dengan memanfaatkan barang bekas, seperti kaleng cat berukuran 5 kilogram.
“Kaleng tersebut dilubangi, lalu ditanam ke dalam tanah. Sampah organik dimasukkan ke dalamnya dan ditutup rapat. Ini menjadi solusi praktis di tengah keterbatasan lahan,” ungkapnya.
Saat ini, program lubang biopori di Kelurahan Gunung Parang sudah mulai berjalan, meski belum dilakukan secara luas. Ke depan, pihak kelurahan berkomitmen untuk terus mendorong partisipasi masyarakat agar program ini dapat berkembang lebih optimal.
“Harapannya, dengan semakin banyak warga yang menerapkan biopori, volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPS) bisa berkurang signifikan,” pungkas Andri. (rus)
























