SUKABUMITIMES.com – Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki memasang target besar bagi keuangan daerah. Pada 2027, ia menargetkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menembus Rp1,5 triliun, dengan Pendapatan Asli Daerah dipacu hingga Rp700 miliar.
Target tersebut disampaikan Ayep Zaki usai menghadiri Forum Perangkat Daerah Dinas Perhubungan Kota Sukabumi di Ruang Pertemuan Setda, Senin 9 Februari 2026.
Ia menegaskan, seluruh perangkat daerah wajib menyusun langkah konkret dan terukur untuk mendongkrak kontribusi sektor masing-masing terhadap PAD.
Untuk tahun anggaran 2026, Ayep memproyeksikan APBD berada di kisaran Rp1,175 triliun, dengan peluang perubahan hingga Rp1,4 triliun. Sementara PAD ditargetkan naik signifikan dari Rp535 miliar menjadi Rp650 miliar.
Dia juga menekankan arah pembangunan Kota Sukabumi sebagai kota singgah. Menurutnya, sektor transportasi memegang peran strategis agar pendatang dari luar daerah merasa nyaman berhenti dan beraktivitas di kota ini.
Pembenahan angkutan umum menjadi perhatian utama, mulai dari penataan fasilitas hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia bahkan menyoroti pentingnya standar penampilan dan pelayanan pengemudi agar lebih tertib dan profesional.
Untuk wilayah yang belum terlayani angkutan umum, Pemkot akan mengkaji solusi bersama pihak terkait, termasuk opsi penambahan armada.
Saat ini, layanan bus keliling pada pagi hari sudah mulai dioperasikan sebagai tahap awal.
Ayep turut menyinggung persoalan pungutan liar yang dinilainya menjadi salah satu penyebab kebocoran PAD.
Ia menegaskan, kenaikan PAD pada 2026 diharapkan menjadi indikator menurunnya praktik tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Sukabumi Iskandar Ifhan menyatakan, Forum Perangkat Daerah menjadi wadah penting untuk menyelaraskan aspirasi masyarakat hasil Musrenbang dengan kebijakan strategis OPD.
Ia juga mengingatkan tantangan ke depan seiring beroperasinya jalan tol yang berpotensi meningkatkan arus masuk ke Kota Sukabumi.
“Kondisi itu, menurutnya, perlu diantisipasi agar tidak memicu kemacetan, kesemrawutan kota, maupun persoalan sampah akibat meningkatnya kunjungan,” paparnya. (uml)






























