SUKABUMITIMES.COM – Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan Cikundul, Kota Sukabumi tampil berbeda tahun ini. Mengadopsi gaya tradisional, kegiatan tersebut menghadirkan nuansa budaya Sunda yang kuat sebagai simbol kedekatan pemerintah dengan masyarakat serta pelestarian kearifan lokal.
Konsep ini terinspirasi dari gaya Musrenbang ala Kang Dedi Mulyadi (KDM) saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
Musrenbang yang digelar di wilayah Kecamatan Lembursitu ini dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana, Camat Lembursitu Yudi Sutriana, serta Lurah Cikundul Ateng Jaelani.
Sejak awal kegiatan, para tamu sudah disambut dengan tradisi lengser, serta suguhan hasil alam berupa buah dan sayuran yang disiapkan oleh masyarakat setempat.
Bobby Maulana mengatakan, pendekatan tradisional ini menghadirkan suasana alami dan hangat yang mencerminkan kemakmuran rakyat.
“Seolah-olah kita sedang berkunjung kepada bapak gubernur karena dihadiri simbol kemakmuran seperti hasil bumi. Pesan yang ingin disampaikan jelas, bahwa ketika kita menjaga alam dengan baik maka kesejahteraan masyarakat dapat terwujud,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah terus berupaya mengantisipasi kemiskinan ekstrem melalui beragam program yang telah digulirkan. Menurutnya, kedekatan pemerintah dengan masyarakat harus tercermin dalam setiap perencanaan pembangunan.
“Intinya, pemerintah hadir untuk rakyat dan kita berdoa semoga semua diberikan kesehatan untuk melanjutkan cita-cita tersebut,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Bobby juga meninjau sejauh mana peningkatan kinerja pada tahun 2025 serta target capaian di tahun mendatang. Pemerintah daerah, kata dia, akan terus mengevaluasi pendapatan, fiskal, serta capaian pembangunan baik yang sudah terwujud maupun yang masih dalam proses penyelesaian.
Sementara itu, Camat Lembursitu Yudi Sutriana menuturkan, tahapan perencanaan telah dilaksanakan mulai dari rembug warga, pra-Musrenbang, hingga pelaksanaan Musrenbang hari ini.
“Dari total 53 RW di wilayahnya, seluruhnya telah melakukan rembug warga dan menghasilkan masing-masing 10 usulan prioritas sehingga terkumpul 530 usulan pembangunan,” tuturnya.
Dari 530 usulan tersebut, pemerintah kecamatan kemudian menyaring 50 usulan prioritas untuk dibawa ke tingkat kota.
Yudi menyebutkan, usulan yang telah diplenokan nanti dapat ditindaklanjuti masing-masing kelurahan bekerja sama dengan pelayanan publik yang ada.
“Jika sudah ditandatangani berita acara, silakan usulan dapat diminta melalui kelurahan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Musrenbang kali ini masih selaras dengan tema transformasi ekonomi menuju 2027 dengan fokus pada penguatan SDM, layanan digital, dan sektor prioritas lainnya. Masalah kawasan kumuh juga menjadi perhatian utama sebagai strategi pembangunan kota yang berkelanjutan.
“Penuntasan kawasan kumuh termasuk rutilahu dan sanitasi telah diusulkan. Ini menjadi prioritas Wali Kota dan saya yakin target zero kawasan kumuh serta kemiskinan ekstrem dapat tercapai pada 2030,” tegas Yudi.
Pelaksana kegiatan, Yulianti Khodijah, menjelaskan bahwa konsep tradisional ini merupakan gagasan kolaboratif antara Lurah Cikundul dan tim, yang terinspirasi dari gaya kepemimpinan Kang Dedi Mulyadi dalam menjaga budaya Sunda.
Berbagai peralatan tradisional seperti keblek untuk menumbuk padi, aseupan untuk memasak nasi, serta bogem dan pare gedengan dipajang sebagai pengingat nilai sejarah dan perjuangan nenek moyang.
Yulianti berharap tema Musrenbang tahun ini mampu menghidupkan kembali semangat pelestarian budaya.
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Budaya ini harus terus ada dan menjadi identitas masyarakat dalam menyongsong pembangunan,” pungkasnya. (rus)

























