SUKABUMITIMES.COM – Warga dan pengguna jalan ramai-ramai mengeluhkan keberadaan pembatas jalan (barier) di Simpang Tiga Gunung Butak, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.
Unggahan keluhan yang pertama kali disampaikan oleh akun media sosial @Agus Supriatna viral di berbagai grup WhatsApp dan platform lainnya.
Dalam unggahannya, Agus menuliskan, “Pembatas jalan ini membahayakan pengguna jalan, terutama di saat malam hari. Pihak terkait mohon segera ditindaklanjuti. Telah berusaha digeser berdua, tapi tidak kuat. Lokasi di pertigaan Gunung Butak. Terima kasih admin.”
Keluhan itu langsung memancing beragam tanggapan dari warga dan para pengendara lain. Mereka menilai, kondisi pembatas jalan tersebut memang perlu segera ditata ulang karena berada di jalur vital yang menghubungkan Palabuhanratu – Citepus – Cisolok hingga arah Banten, serta sebaliknya menuju kawasan Cikidang dan Warungkiara.
Salah seorang pengendara, Yudi Wahyudi, mengaku hampir celaka saat melintas di kawasan tersebut pada malam hari. Menurutnya, sebagian barier terbuat dari bahan beton dan fiber yang disusun tidak beraturan, bahkan ada yang berada di tengah badan jalan tanpa penerangan memadai.
“Ini sangat membahayakan pengguna jalan, terutama saat malam hari. Kami berharap pihak terkait seperti Dinas Perhubungan, Satpol PP, atau Satlantas segera menindaklanjuti sebelum menimbulkan korban,” ujar Yudi.
Yudi menambahkan, kondisi tersebut sudah terjadi sejak libur Idulfitri lalu dan hingga kini belum ada penataan ulang. Padahal, menurutnya, barier itu awalnya dipasang untuk mengatur arus lalu lintas satu arah ketika volume kendaraan wisata meningkat di kawasan Palabuhanratu–Cisolok.
“Iya memang biasanya di simpang tiga gunung Butak itu, barier itu dipasang saat arus satu arah diberlakukan supaya tidak macet waktu ramai wisatawan. Tapi sekarang dibiarkan begitu saja, bikin pengendara bingung,” keluhnya.
Masih kata Yudi, sempat menyaksikan warga berusaha menggeser barier beton tersebut lantaran dinilai mengganggu arus kendaraan, namun gagal karena bobotnya terlalu berat.
“Kalau tidak salah, sempat ada warga yang coba geser berdua, tapi saking beratnya tidak kuat,” ungkapnya.
Ia mengaku sebagai warga yang kerap melintas di jalur tersebut berharap, pemerintah daerah bersama instansi terkait segera turun tangan menata kembali pembatas jalan di kawasan itu. Selain demi kelancaran lalu lintas, langkah cepat juga dinilai penting untuk mencegah terjadinya kecelakaan di jalur yang ramai dilalui wisatawan dan warga lokal.
“Kami hanya ingin jalan ini aman, tertib, dan tidak membahayakan. Jangan tunggu ada korban baru ditertibkan,” pungkasnya. (stm)

























