Oleh; Mulyawan Safwandy Nugraha (Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi dan Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Beberapa hari lalu, publik dikejutkan oleh kabar dari SMAN 1 Cimarga, Lebak, Banten. Ibu Dini, sang kepala sekolah tersebut menampar siswanya yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah. Peristiwa itu viral dalam hitungan jam. Reaksi cepat pun muncul: sekitar 630 siswa mogok sekolah sebagai bentuk protes. Mereka menuntut kepala sekolah dicopot.
Bagi sebagian orang, ini mungkin tampak seperti masalah disiplin biasa. Tapi kalau diperhatikan lebih dalam, kasus Cimarga bukan soal tamparan semata. Ini cermin dari krisis yang lebih dalam di dunia pendidikan kita: krisis empati dan komunikasi.
Saya sudah cukup lama berada di dunia pendidikan. Saya tahu beratnya menjadi kepala sekolah. Ia harus tegas tapi juga harus bisa mendengar. Harus menjaga disiplin, tapi juga menumbuhkan rasa aman. Dalam tekanan administrasi, target akreditasi, dan tuntutan publik, kadang emosi bisa memuncak. Tapi bagaimana pun, kekerasan fisik tidak bisa dibenarkan.
Sekolah adalah ruang pendidikan, bukan ruang pelampiasan emosi. Kepala sekolah adalah teladan. Dan teladan bukan diukur dari seberapa keras seseorang menegur, tapi seberapa bijak ia mengendalikan diri.
Di sisi lain, saya juga memahami posisi siswa. Mereka remaja. Rasa keadilannya tajam, emosi cepat naik. Tapi mogok sekolah massal bukanlah cara yang tepat untuk menyalurkan protes. Itu justru memperpanjang kerugian bagi diri mereka sendiri. Kalau saja komunikasi berjalan baik, peristiwa ini bisa diselesaikan dengan dialog.
Sebagai akademisi yang mendalami kepemimpinan pendidikan, menurut saya masalah sebenarnya terletak di sini: tidak ada saluran komunikasi yang sehat di sekolah. Tidak ada ruang aman bagi siswa untuk berbicara. Tidak ada ruang tenang bagi kepala sekolah atau guru untuk menyalurkan tekanan.
Saya sering menjumpai situasi seperti ini di berbagai sekolah. Guru dan kepala sekolah bekerja di bawah tekanan berat. Mereka dituntut menyusun laporan, menyiapkan data, melayani supervisi, dan menghadapi perilaku siswa yang makin kompleks. Ketika tekanan menumpuk dan dukungan emosional tidak ada, ledakan amarah bisa muncul kapan saja.
Di sisi lain, karakter generasi sekarang juga berubah. Siswa tumbuh di tengah budaya media sosial. Mereka cepat menilai, cepat bereaksi, dan terbiasa mengungkapkan perasaan secara publik. Mereka bisa merekam, menyebarkan, dan menciptakan opini dalam hitungan menit. Sekolah sering kali tidak siap menghadapi perubahan ini.
Padahal, sekolah seharusnya menjadi tempat belajar tentang cara berkomunikasi yang sehat. Bukan hanya bagi siswa, tapi juga bagi guru dan kepala sekolah.
Banyak kepala sekolah yang saya kenal sebenarnya punya niat baik. Mereka ingin membentuk karakter, menegakkan aturan, menjaga wibawa sekolah. Tapi cara yang digunakan masih warisan lama. Pendekatan keras dianggap perlu agar siswa hormat. Padahal zaman sudah berubah.
Sekarang, yang dibutuhkan adalah kepemimpinan empatik. Kepala sekolah yang tegas tapi hangat. Tegas dalam aturan, hangat dalam mendengar. Karena ketika siswa merasa dihargai, mereka akan lebih mudah menerima teguran.
Kasus di Cimarga seharusnya menjadi bahan refleksi bagi semua pihak.
Bagi kepala sekolah, ini pelajaran penting untuk mengelola emosi dengan bijak.
Bagi siswa, ini pengingat untuk menyampaikan aspirasi dengan cara yang etis dan terhormat.
Bagi guru, ini momen untuk memperkuat peran pembimbing.
Dan bagi pemerintah, ini sinyal agar memperhatikan kesejahteraan psikologis para pendidik.
Saya membayangkan, seandainya setelah kejadian itu kepala sekolah duduk bersama siswa yang ditampar, lalu meminta maaf dan menjelaskan maksudnya, mungkin semuanya tidak akan sejauh ini. Permintaan maaf tidak menjatuhkan wibawa. Justru menunjukkan kedewasaan dan kebesaran jiwa.Dan akhirnya bayangan itu menjadi kenyataan. Alhamdulillah.
Sekolah seharusnya menjadi tempat di mana semua orang belajar. Siswa belajar memahami aturan, guru belajar memahami generasi baru, kepala sekolah belajar memahami dinamika manusia. Karena dunia pendidikan bukan tempat orang yang sudah sempurna, tapi tempat orang belajar untuk menjadi lebih baik.
Kita juga perlu sadar bahwa guru dan kepala sekolah pun manusia. Mereka butuh dukungan psikologis dan ruang refleksi. Tapi sistem pendidikan kita belum memberi tempat untuk itu. Tidak ada pelatihan khusus untuk mengelola stres atau forum rutin untuk berbagi pengalaman emosional. Akibatnya, banyak guru dan kepala sekolah memendam kelelahan hingga akhirnya meledak.
Inilah mengapa manajemen konflik dan komunikasi empatik harus menjadi bagian dari sistem sekolah.
Sekolah perlu punya protokol yang jelas tentang bagaimana menangani pelanggaran siswa, bagaimana guru bisa menyampaikan tekanan kerja, dan bagaimana kepala sekolah bisa mendapat dukungan sebelum kelelahan berubah jadi kemarahan.
Sering kali, satu percakapan sederhana bisa mencegah satu masalah besar. Tapi percakapan itu jarang terjadi. Guru sibuk dengan laporan, kepala sekolah sibuk dengan rapat, dan siswa sibuk mencari tempat lain untuk didengar.
Padahal, inti pendidikan adalah perjumpaan antarhati. Tanpa komunikasi, wibawa berubah jadi ketakutan. Tanpa empati, disiplin berubah jadi kekerasan.
Saya percaya, sekolah yang sehat adalah sekolah yang komunikatif. Guru bisa bicara tanpa takut. Siswa bisa menyampaikan pendapat tanpa cemas. Kepala sekolah bisa menegur tanpa marah.
Dalam suasana seperti itu, aturan bukan lagi alat menekan, tapi panduan untuk tumbuh bersama.
Kasus Cimarga menjadi alarm bagi kita semua.
Jangan buru-buru mencari siapa yang salah. Lihat dulu akar masalahnya: hubungan manusia yang retak di ruang pendidikan.
Saya berharap dinas pendidikan tidak hanya datang untuk memberi sanksi, tapi juga membina. Kepala sekolah perlu bimbingan, bukan sekadar teguran. Siswa perlu diarahkan, bukan dituduh.
Setiap peristiwa seperti ini sebenarnya menyimpan peluang perubahan. Asalkan kita mau belajar, mau mendengar, dan mau memahami sisi manusia dari semua yang terlibat.
Sekolah yang baik bukan yang bebas masalah. Sekolah yang baik adalah yang bisa menyelesaikan masalah dengan hati.
Karena tugas utama pendidikan bukan hanya mencerdaskan, tapi juga memanusiakan. (*)































