SUKABUMITIMES.COM – Kondisi bangunan SDN Nagrak Cikelat di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, memprihatinkan. Salah satu ruang kelas di sekolah tersebut ambruk sejak tahun 2024, namun hingga kini belum juga mendapat perbaikan.
Kepala Sekolah SDN Nagrak Cikelat, Rika Purwati, membenarkan bahwa atap ruang kelas tersebut roboh sekitar waktu pelaksanaan pemilihan bupati tahun lalu.
“Betul, robohnya itu pas pemilihan bupati tahun 2024. Jadi sudah sekitar satu tahun berlalu, tapi sampai sekarang belum ada perbaikan,” ungkap Rika saat ditemui di sekolah.
Rika menceritakan, kejadian tersebut terjadi pagi hari setelah pemungutan suara. Saat itu, seorang siswa kelas enam datang lebih awal untuk mengambil sandal yang tertinggal di ruang kelas, namun tidak disangka, bagian belakang atap kelas tersebut tiba-tiba ambruk.
“Waktu itu siswa baru datang satu orang, mau ambil sandal di dalam kelas. Saat membuka pintu belakang, tiba-tiba bagian atap roboh,” ujarnya.
Menurut Rika, kondisi bangunan yang ambruk itu memang sudah lapuk. Genting banyak yang hilang, rangka atap seperti kaso dan reng pun sudah keropos akibat usia bangunan yang mencapai lebih dari sepuluh tahun.
“Bangunan itu dibangun sekitar tahun 2012 dari program PNPM. Jadi memang sudah lama, sering bocor kalau hujan. Sekarang satu kelas sudah ambruk, dan ruang lainnya pun mulai rusak,” jelasnya.
Rika menambahkan, total ruang kelas di SDN Nagrak Cikelat ada enam. Namun karena satu kelas roboh dan beberapa lainnya bocor, ruang guru kini terpaksa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
“Sekarang siswa belajar di ruang guru. Kelas enam yang roboh itu belum diperbaiki, jadi sudah dua angkatan berturut-turut belajar seadanya,” kata Rika.
Rika menegaskan, untuk tahun ajaran 2025 ini, SDN Nagrak Cikelat memiliki 125 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Dengan keterbatasan ruang, pihak sekolah harus memutar otak agar kegiatan belajar tetap berjalan.
“Kalau tahun ini masih bisa ditampung karena siswa kelas enam cuma 12 orang, bisa belajar di rumah guru. Tapi kalau tahun depan siswanya misalnya bertambah jadi 20 orang, saya bingung mau belajar di mana mereka,” keluhnya.
Rika berharap pemerintah daerah dapat segera memberikan perhatian dan melakukan perbaikan terhadap ruang kelas yang rusak. Ia khawatir kondisi bangunan yang semakin memburuk dapat mengancam keselamatan siswa dan mengganggu proses belajar mengajar.
“Harapan kami, semoga segera ada perbaikan. Kami ingin anak-anak bisa belajar dengan aman dan nyaman,” tutupnya. (sya)

























