SUKABUMITIMES.COM – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, Ma Wawan (76) harus berhadapan dengan kenyataan pahit. Selama lima bulan terakhir, ia hidup di bawah ancaman. Rumahnya di Kampung Nugraha, Desa Buniwangi, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, roboh diterjang pergerakan tanah, menyisakan gubuk tanpa dinding yang kini menantang cuaca.
Lebih dari sekadar tempat berteduh, rumah itu adalah satu-satunya peninggalan dari almarhum suaminya. Kini, gubuk tua itu menjadi saksi bisu perjuangan Ma Wawan, yang di usia senja, harus menjadi tulang punggung keluarga.
Anak lelakinya lumpuh akibat stroke, dan cucunya yang masih sekolah kini yatim dan sepenuhnya bergantung pada sang nenek.
“Saya punya uang kalau ada yang minta diurut saja, paling dua minggu sekali,”
Jangankan memperbaiki rumah, untuk makan sehari-hari saja sering kesulitan,” tutur Ma Wawan dengan suara parau.
Ma Wawan mengaku sering kali harus menahan lapar bersama cucunya karena tak ada yang bisa dimakan. Bantuan sesekali datang dari tetangga, namun rasa malu sering kali membuatnya enggan meminta.
“Saya kerja apa saja, serabutan. Kadang ada yang nyuruh, kadang tidak,” katanya lirih.
Penderitaan Ma Wawan tidak berhenti di situ. Di tengah kondisi rumah yang hancur, barang-barang berharga seperti televisi, kompor, dan pompa air pun ludes digondol maling. Uluran Tangan dari Warga dan Pemerintah Desa.
Kisah pilu ini akhirnya menggerakkan hati tokoh masyarakat dan pemerintah desa. Salah satunya adalah Efri Darlin M. Dachi, yang bersama aparat desa berinisiatif mengambil tindakan darurat.
“Kami sudah berdiskusi dengan Pak Kades, Kadus, dan RW. Rencananya rumah Ma Wawan akan dibenahi sementara dulu agar tidak membahayakan,” jelas Dachi.
“Selain itu, kami juga menawarkan pengobatan gratis untuk anaknya.” ucapnya.
Kepala Desa Buniwangi, Hermawan Rudiansyah, membenarkan bahwa laporan sudah disampaikan kepada BPBD, Dinas Perkim, dan Dinas Sosial sejak lima bulan lalu. Namun, banyaknya bencana di Sukabumi membuat bantuan yang diharapkan belum juga tiba.
“Kami tidak tinggal diam. Bersama warga, kami akan bergotong royong memperbaiki rumah Ma Wawan dengan anggaran swadaya. Setidaknya agar bisa layak huni dulu sambil menunggu program Rutilahu maupun bantuan dari BPBD,” tegasnya.
“Gotong royong perbaikan rumah Ma Wawan dijadwalkan pada Jumat mendatang. Kami berharap, langkah darurat ini bisa sedikit meringankan beban Ma Wawan, yang selama ini berjuang sendirian demi keluarganya,” tandasnya. (stm)


























