SUKABUMITIMES.COM – Momen Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi hari penuh makna bagi ribuan narapidana di Lapas Kelas IIA Warungkiara, Kabupaten Sukabumi.
Dalam upacara peringatan yang digelar Minggu (17/8/2025), dilaporkan sebanyak 981 narapidana mendapat remisi umum kemerdekaan, dan 1.059 lainnya menerima remisi dasawarsa.
Dari jumlah tersebut, 19 orang langsung dinyatakan bebas dan meninggalkan Lapas Warungkiara dengan penuh haru, tepat di hari lahirnya bangsa.
Upacara bendera berlangsung khidmat di lapangan Lapas Warungkiara dengan ribuan warga binaan yang berdiri rapi di bawah kibaran merah putih. Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, hadir sebagai pembina upacara sekaligus membacakan amanat Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Permasyarakatan RI, Yusril Ihza Mahendra.
Dalam amanatnya Yusril menegaskan bahwa kemerdekaan yang dinikmati bangsa Indonesia saat ini bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang penuh pengorbanan.
“Kita berdiri tegak di bawah bendera merah putih bukan semata karena perjalanan waktu, tetapi berkat semangat persatuan, pengorbanan, dan cinta tanah air. Kemerdekaan ini lahir dari darah, air mata, dan nyawa para pahlawan,” tegasnya dibacakan wakil bupati Andreas.
Yusril menekankan pentingnya menjadikan kemerdekaan sebagai nafas kehidupan rakyat Indonesia setiap hari. Warisan berharga ini, menurutnya, harus dijaga dan diwariskan kembali dalam keadaan lebih baik kepada generasi mendatang.
“Kemerdekaan ini adalah amanah. Tugas kita memastikan agar cita-cita luhur yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 dapat terwujud melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut menjaga ketertiban dunia dengan prinsip kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,” ujarnya.
Di hadapan warga binaan, wakil Bupati Sukabumi Andreas yang membacakan amanat menteri Yusril juga berpesan agar seluruh jajaran dan masyarakat Indonesia tidak berhenti bekerja keras, membangun kolaborasi, dan memberikan pelayanan terbaik demi kesejahteraan rakyat.
“Mari kita teguhkan komitmen, perkuat kolaborasi, dan bekerja tanpa lelah demi Indonesia yang lebih maju,” tambahnya.
Pemberian remisi ini menjadi momen yang menggetarkan hati, terutama bagi 19 warga binaan yang langsung dinyatakan bebas. Tangis bahagia pecah saat mereka menerima surat kebebasan, meninggalkan lapas dengan pelukan keluarga yang telah menanti.
Bagi mereka, kemerdekaan bukan sekadar simbol negara, melainkan nyata dirasakan sebagai napas baru untuk memulai kehidupan yang lebih baik. (stm)































