SUKABUMITIMES.COM – Survei terbaru menemukan satu dari empat orang berusia 18 hingga 34 tahun tidak pernah menjawab panggilan telepon.
Responden mengaku mengabaikan panggilan masuk. Mereka kemudian membalas melalui pesan teks atau mencari nomor tersebut secara daring jika tidak mengenalinya.
Survei Uswitch terhadap 2.000 orang juga menemukan bahwa hampir 70% dari kelompok usia 18-34 lebih menyukai pesan teks daripada panggilan telepon.
Bagi generasi yang lebih tua, berbicara melalui telepon adalah hal yang normal.
Orang tua saya ketika remaja mesti berebut giliran dengan saudara kandung mereka untuk menggunakan telepon rumah yang terletak di koridor. Mereka tidak peduli satu rumah bisa mendengarkan percakapan pribadi.
Sebaliknya, masa remaja saya dihabiskan untuk mengirim pesan teks.
Sejak mendapat hadiah Nokia flip berwarna pink pada ulang tahun ke-13, saya terobsesi dengan mengirim pesan teks.
Sepulang sekolah, saya akan menyusun berbagai pesan teks 160 karakter untuk dikirimkan ke teman-teman.
Saya mesti menghapus setiap spasi dan huruf vokal yang tidak diperlukan.
Pesan-pesan teks saya pada zaman itu berupa huruf konsonan yang teracak-acak sampai-sampai Kominfo pun tidak akan kesulitan mengurainya.
Lagi pula, lebih 1 karakter dari total 160 karakter saja artinya mesti bayar dobel.
“Ponsel ini diberikan ke kamu bukan untuk bergosip dengan teman-teman sepanjang malam,” kata orang tua saat melihat tagihan telepon bulanan saya.
Generasi pengirim pesan teks pun lahir. Panggilan telepon seluler hanya dilakukan untuk keadaan darurat. Telepon rumah hanya digunakan sesekali untuk bicara dengan kakek dan nenek.
Psikolog konsultan Dr. Elena Touroni menjelaskan kaum muda tidak mengembangkan kebiasaan berbicara di telepon.
“Bicara di telepon itu bukan norma kaum muda. Jadi, kalau mereka sekarang bicara via telepon akan merasa aneh,” ujarnya.
Kaum muda pun langsung membayangkan yang terburuk ketika telepon mulai berdering (atau tepatnya bergetar karena orang di bawah usia 35 tahun jarang menggunakan nada dering).
Lebih dari setengah dari kaum muda dalam survei Uswitch mengakui bahwa panggilan telepon yang tidak terduga dianggap kabar buruk.
Terapis psikologis Eloise Skinner memaparkan kecemasan seputar panggilan telepon berasal dari “asosiasi [telepon] dengan sesuatu yang buruk: perasaan khawatir atau takut”.
“Hidup semakin sibuk dan jadwal kerja semakin tidak dapat diprediksi. Waktu untuk menelepon teman hanya untuk sekadar mengobrol semakin berkurang,” ujar Skinner.
“Panggilan telepon pun dikhususkan untuk yang penting-penting saja. Sering kali, telepon penting ini membawa kabar yang sulit diterima.”
Jack Longley, 26 tahun, mengakui hal ini.
Dia juga tidak pernah menjawab panggilan dari nomor yang tidak dikenal karena “itu pasti penipu atau telemarketer”.
“Lebih mudah untuk mengabaikan panggilan tersebut daripada menyaringnya,” ujar Longley.
Walau kaum muda tidak berbicara di telepon, bukan berarti hubungan dengan teman-teman diabaikan. Sepanjang hari, grup-grup chat pertemanan mengirimkan notifikasi mulai dari pesan biasa, meme, gosip, dan, baru-baru ini, catatan suara.
Banyak percakapan sekarang terjadi di media sosial, terutama di era Instagram dan Snapchat yang memudahkan untuk mengirim gambar dan meme bersamaan dengan teks.
Walaupun panggilan telepon secara universal tidak disukai, penggunaan catatan suara justru membelah opini generasi muda.
Dalam survei Uswitch, 37% dari kelompok usia 18-34 mengatakan catatan suara adalah preferensi komunikasi mereka.
Sebagai perbandingan, hanya 1% dari kelompok usia 35 hingga 54 tahun yang lebih menyukai pesan suara daripada panggilan telepon.
“Catatan suara seperti berbicara di telepon tetapi lebih baik,” kata Susie Jones, mahasiswi berusia 19 tahun.
“Anda bisa mendengar suara teman, tetapi tidak ada tekanan untuk merespons [dengan suara juga]. Ini cara yang lebih sopan untuk berkomunikasi.”
Namun, bagi saya sendiri, mendengarkan catatan suara berdurasi lima menit dari teman yang bercerita tentang hidupnya sungguh menyiksa.
Catatan suara sering kali tidak fokus, penuh dengan kata-kata tidak perlu seperti “eee” atau “kayak”. Seluruh cerita dapat dipendekkan menjadi beberapa pesan teks.
Baik teks maupun catatan suara memungkinkan kaum muda untuk berpartisipasi dalam percakapan dengan kecepatan mereka sendiri. Selain itu, metode ini memungkinkan untuk memberikan respons yang lebih bijaksana dan sudah dipikirkan masak-masak. (*/sya)































