SUKABUMITIMES.COM – Jalan Kiaradua – Bagbagan, tepatnya di kampung Cimapag, Desa Loji, kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi masih belum bisa dilalui kendaraan akibat jalan tertimbun material longsoran yang terjadi pada Rabu (25/12/2024) pukul 15.00 WIB kemarin.
Hingga sore tadi (Kamis, 26/12/2204), tim gabungan masih terus melakukan proses evakuasi material longsoran dengan mengunakan alat berat yang menimbun ruas jalan nasional tersebut.
Dalam upaya mempercepat evakuasi ini sempat ada hambatan, karena warga pemilik lahan dibawahnya tidak mengizinkan material longsoran dibuang ke area tersebut.
Dengar hal tersebut, bupati Sukabumi Marwan Hamami didamping Dandim 0622 Letkol Kav. Andhi Ardana Valeriandra Putra, serta Kapolres AKBP Dr. Samian beserta jajaran forkompimcam Simpenan langsung turun kelapangan melakukan pengecekan.
Bupati Marwan mengatakan, sebetulnya sudah dilakukan komunikasi dengan pemilik lahan dan berjalan baik, dan diketahui dibawah terdapat gorong gorong aliran air, namun akhirnya diperbolehkan berkat adanya kerjasama yang baik semua pihak.
“Sebetulnya komunikasi yang dilakukan sudah bagus, hanya ada kendala titik, dibawah itu ada gorong gorong kalau hujan apakah itu akan dilakukan penanganan, atau tidak, mereka sebetulnya sudah bersedia hanya satu di keluarga yang belum bisa mengijinkan karena sakit,” kata Marwan ketika diwawancarai awak media dilokasi pada Kamis (26/12/2024)
Masih kata bupati, pada prinsipnya pemilik lahan sudah sepakat setelah pihak PSDA berkomitmen akan melakukan penanganan terkait pembuangan air yang didalam gorong gorong.
“Sudah sepakat, sudah tinggal dikerjakan,” ucapnya.
Akibat tertutupnya akses jalan dari Bagbagan menuju Kiaradua tersebut, diakui bupati Marwan menghambat akses perekonomian warga sekitar.
“Jika nantinya penanganan lebih dari satu minggu bisa diberlakukan status kedaruratan,” bebernya.
Bupati Marwan sempat menyakini bahwa rumah-rumah yang ada disekitarnya tidak berizin.
“Dilihat dari posisi sempadan bangunan dan sempadan jalan itu sudah kemakan, kalau aturan seperti itu, kalau aturan mereka di pakai, ya susah juga,” sambungnya.
Marwan juga menyayangkan masih adanya warga yang membangun di tempat yang rawan terjadinya bencana, yakni di area lereng meskipun menggunakan pondasi yang tinggi.
“Itu bangunan sebelah sana tergantung, kan sayang juga, karena memang pondasi nya terlalu tinggi dan beresiko membangunnya di lereng, nah itu gambarannya paling nanti kita menyepakati kekhawatiran mereka saja posisi buangan air tadi,” paparnya.
“Sebenarnya ini ada jalur Lengkong masih jalan, jalur Sagaranten masih jalan, hanya percepatan waktu saja, agak terganggu, panjang lingkaran contoh kiriman batu dari Jebrod dua kali lipat sekarang, asalnya Rp 1,2 juta sekarang minta Rp 2,6 juta, jadi berputar ke arah Ciwaru,” pungkasnya. (sya)
























