SUKABUMITIMES.COM – Lasiyo Syaifudin atau Mbah Lasiyo (72) mendapat julukan ‘Profesor Pisang’ karena keberhasilannya mengembangkan pembibitan pisang.
Dia mengungkapkan, rahasianya selama ini adalah penerapan 3M dan ‘TUYUL’, apa maksudnya?
Warga Padukuhan Ponggok, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Bantul ini menjelaskan bahwa merawat tanaman pisang merupakan hal yang susah-susah gampang. Akan tetapi, jika telah memahami 3M maka semua itu akan terasa gampang.
“Gampang-gampang sulit, gampangnya kalau kita sudah mengetahui. Untuk cara mengetahui maka kita harus mempunyai modal, modalnya 3M,” katanya.
Lasiyo menjelaskan, 3M adalah melihat, memahami, dan melaksanakan. Menurutnya, semua itu sangat berhubungan dalam melakukan pembibitan pisang.
“Pertama melihat, memahami dan melaksanakan. Kalau sudah melihat bagaimana cara menanam pisang, lalu kalau sudah bisa dipraktikkan atau menanam terus biar tidak lupa. Itulah modal Mbah Lasiyo,” ujarnya.
Selain 3M, Lasiyo juga membeberkan hal lain yang menjadikannya mendapat julukan profesor pisang. Hal lain itu adalah persyaratan yakni memelihara TUYUL.
“Dan modal itu untuk keberhasilan yang lebih bagus lagi ada triknya. Yaitu ada persyaratan, persyaratannya adalah kita memelihara TUYUL,” ucapnya.
Ketika ditanya soal TUYUL berhubungan dengan hal gaib, Lasiyo menampiknya. Lasiyo menyebut jika TUYUL adalah singkatan yang menjadi pegangannya dalam mengembangkan usaha pembibitan pisang.
“Kita memelihara tuyul bukan tuyul demit, setan, tapi itu singkatan. T adalah Takwa, U adalah Usaha, Y adalah Yakin, U adalah Ulet atau inovatif, dan L adalah Lincah jika ada pembeli atau tamu harus lebih diutamakan. Jadi yang lainnya merasa senang,” katanya.
Secara rinci, Lasiyo menjelaskan bahwa takwa adalah bagaimana berpasrah diri kepada kepada Tuhan. Namun tetap berusaha agar hasil dari pembibitan pisang bisa maksimal bagus.
“Setelah itu kita yakin bahwa Tuhan akan memberikan apa pun yang kita minta walaupun pemberian itu tidak spontan. Seperti saya dulu ingin naik pesawat terbang dan alhamdulillah saat ini sudah berhasil, bahkan beberapa kali,” ujarnya.
Lalu pada tahun 2015 ternyata ada kunjungan lagi untuk memperkuat undangannya ke Italia tahun 2016. Namun, Lasiyo kembali lagi belum yakin karena belum ada undangan secara fisik.
“Apalagi ke luar negeri perlu paspor, mengurus visa dan lain-lain. Akhirnya bulan April-Mei 2016 undangan datang, saat itu sata masih belum percaya. Nah, bulan Agustus saya diminta untuk membuat paspor dan tanggal 20 Agustus saya diminta mengurus visa,” ucapnya. (*/sya)
























