SUKABUMITIMES.COM – Sebagai upaya mengatasi kecemasan dan was-was warga serta para santri Al Waafy yang berlokasi di Kampung Cijambe Cigangsa, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi yang disebabkan terjadinya kembali banjir yang merendam pesantren seperti beberapa waktu lalu.
Pemerintah daerah melalui dinas terkait melakukan kunjungan atau pemantauan ke pemukiman warga dan lokasi untuk mengetahui dugaan penyebab banjir hingga merendam pesantren dan sebagian pemukiman warga.
Kepala DPMPTSP Kabupaten Sukabumi Ali Iskandar bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) meninjau lokasi dua perumahan dan satu kandang ternak ayam yang berada di lokasi tersebut.
Menurut Ali Iskandar dari tiga lokasi yang ditinjaunya bersama tim gabungan dari pemerintah daerah, satu dari tiga perusahaan telah memiliki izin yakni perusahaan yang mengelola perumahan.
“Satu berizin yang untuk perumahan, tetapi akan kita evaluasi berkaitan dengan penanganan atau pengelolaan lingkungan, pak Kadis LH ini sudah dipastikan,” ujar Ali.
Memang, kata Ali lagi selama ini karena luasan lahan yang digunakan perumahan tersebut seluas 2,7 hektar dan juga untuk perumahan bersubsidi, pihaknya akan melakukan kajian lingkungannya cukup dengan pernyataan.
“Tapi pernyataan itu adalah pernyataan kesiapan untuk mengelola lingkungan, untuk pemantau lingkungan, nah hari ini kita akan lakukan kajian. Tadi sudah disampaikan pak kadis, akan ditingkatkan untuk menjadi UKL UPL,” jelasnya.
Lanjut Ali, pemantauan dan penanganan pengelolaan juga nantinya harus dibuat oleh pihak pengembang dari perusahaan perumahan tersebut, sehingga kemudian akan diverifikasi oleh pemerintah, dalam hal ini DLH.
“Agar bukaan lahan yang dilakukan, resapan air yang keluar dari lokasi kegiatan pembangunan bisa memenuhi ketentuan dan tidak menimbulkan dampak yang kurang baik buat lingkungan sekitar,” terangnya.
“Artinya hari ini kami melakukan pemantauan, kemudian langsung membuat rekomendasi mana yang harus ditangani oleh pihak pengembang,” tandasnya.
Sementara itu, pengelola pesantren Zulaikha Pratiwi mengungkapkan, bahwa sudah tiga kali lokasi pesantren di terjang banjir, namun sejauh ini belum ada penanganan serius dari pemerintah. Untuk itu, setelah dilakukan peninjauan, Ia berharap ada aliran air yang memadai sehingga tidak terulang di kemudian hari.
“Pokoknya air, batu, tanah warna coklat gitu, lumpur tebal, batu sedikit sedikit masuk ke area pesantren, karena sebagian tertahan pagar itu, sampai bengkok itu rusak,” timpalnya.
“Kalau beberapa tahun lalu belum pernah kaya gini, awalnya akhir Desember 2024 kemarin, kalau tiap kali hujan besar pasti banjir, was was juga, soalnya kalau ada hujan sedikit saja pasti ngungsi, terus harapan kedepannya mudah-mudahan karena memang air itu mengalir ke tempat rendah, nah kita ini ditempat rendah, otomatis ingin ada jalan air harapannya itu saja,” tandasnya.(stm)

























