SUKABUMITIMES.com – Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana mengungkapkan bahwa tingkat inflasi Kota Sukabumi tahun 2026 saat ini melebihi angka nasional dan Provinsi Jawa Barat.
Hal ini disampaikan Bobby Maulana saat menghadiri peringatan hari buruh internasional (may day) di kawasan Selabintana Kecamatan/Kabupaten Sukabumi pada Sabtu (2/5/2026).
“Ini sesuatu yang tidak lazim, karena ternyata kenaikan harga bukan dipicu dari sektor komoditas pangan (primer), tetapi justru dipicu oleh sektor sekunder dan tersier,” ungkap Wakil Wali Kota Bobby Maulana.
Bobby menyebut, inflasi di Kota Sukabumi menyentuh angka 3,74 persen dan justru dipicu oleh meningkatnya pembelian barang-barang nonprimer.
“Inflasi mencapai 3,74 persen. Yang membuat saya heran itu justru dipicu oleh pembelian barang-barang nonprimer,” sebutnya.
Sejumlah barang tersebut seperti kendaraan, perangkat elektronik, hingga aset properti dan logam mulia.
“Yang mendorong inflasi adalah sektor sekunder dan tersier, seperti pembelian mobil, motor, smartphone, harga tanah, bangunan, emas, hingga listrik,” katanya.
Masih kata Bobby, ini artinya apa? Hal mengindikasikan bahwa tingkat konsumtif masyarakat Kota Sukabumi itu tinggi pada sektor di luar kebutuhan dasar.
“Apa yang bisa kita simpulkan? Artinya masyarakat Kota Sukabumi konsumtif sekali. Tingkat konsumsi tinggi ini menjadi salah satu faktor pendorong inflasi,,” jelasnya.
Bobby dihadapan para buruh yang hadir juga menyoroti masih tingginya peredaran uang tunai di masyarakat. Ini disebakan oleh belum meratanya penggunaan QRIS.
“Peredaran uang tunai juga jadi penyebab inflasi juga serta penggunaan uang digital belum sepenuhnya merata,” pungkasnya. (sya)

























