SUKABUMITIMES.com – Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (RJBB) merespons keluhan masyarakat Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, terkait sulitnya akses bahan bakar minyak (BBM) akibat jarak lokasi SPBU yang cukup jauh. Salah satu solusi yang tengah dikaji adalah pembangunan SPBU Kompak untuk mendekatkan layanan energi kepada masyarakat.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB PT Pertamina Patra Niaga, Reno Fri Daryanto, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mencatat aspirasi masyarakat Langkaplancar yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Langkaplancar (AMPEL).
Aspirasi tersebut disampaikan melalui aksi masyarakat di Lapangan Desa Bangunjaya pada Rabu (28/10/2026).
“Kami mencatat aspirasi masyarakat Langkaplancar terkait akses BBM dan jarak SPBU. Hal ini menjadi perhatian kami untuk ditindaklanjuti bersama pihak-pihak terkait,” ungkap Reno dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, saat ini kebutuhan BBM masyarakat Langkaplancar masih dilayani sejumlah SPBU dan Pertashop yang berada di wilayah sekitar.
Beberapa di antaranya SPBU 34.46120 Cineam dengan jarak sekitar 22 kilometer, SPBU 34.46315 Kertahayu Pamarican sekitar 27 kilometer, SPBU 34.46306 Parigi sekitar 35 kilometer, SPBU 34.46303 Banjarsari sekitar 36 kilometer, serta SPBU 34.46308 Cijulang sekitar 38 kilometer.
Sementara itu, terdapat dua Pertashop yang juga menjadi alternatif masyarakat, yakni Pertashop 3P.46323 Sidamulih dengan jarak sekitar 13 kilometer dan Pertashop 3P.46303 Cigugur sekitar 26 kilometer.
“Jarak dan kondisi geografis menjadi salah satu tantangan dalam pemerataan akses energi di wilayah Langkaplancar,” jelasnya.
Menurut Reno, kondisi geografis Langkaplancar yang didominasi kontur perbukitan serta akses jalan yang cukup ekstrem membutuhkan perhatian khusus dalam proses distribusi BBM.
Karena itu, penyediaan lembaga penyalur baru tidak bisa dilakukan secara terburu-buru, melainkan harus melalui kajian menyeluruh, terutama menyangkut keselamatan, kelayakan armada angkutan, serta pemilihan lokasi yang tepat.
“Distribusi BBM ke wilayah tersebut memerlukan kajian khusus, baik dari aspek keselamatan, kelayakan armada maupun lokasi penyalur agar penyalurannya dapat berjalan dengan aman dan andal,” paparnya.
Sebagai langkah tindak lanjut, Pertamina Patra Niaga Regional JBB mulai melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Hiswana Migas, Pemerintah Daerah Kabupaten Pangandaran, DPRD Pangandaran, serta unsur kecamatan dan kelurahan setempat.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi lokasi strategis yang memungkinkan dibangun lembaga penyalur BBM dengan tetap memenuhi standar keselamatan dan ketentuan yang berlaku.
“Salah satu skema yang sedang kami kaji adalah pembangunan SPBU Kompak dengan dukungan distribusi menggunakan armada mobil tangki berkapasitas 5 kiloliter (KL), yang disesuaikan dengan kondisi medan di wilayah Langkaplancar,” ungkap Reno.
Ia menegaskan, Pertamina berkomitmen memperluas akses energi hingga ke wilayah pelosok, termasuk daerah yang memiliki tantangan geografis dan infrastruktur jalan.
“Kami berkomitmen untuk terus memperluas akses energi bagi masyarakat hingga ke wilayah pelosok. Namun, seluruh prosesnya tetap harus memperhatikan aspek keselamatan, regulasi, dan keandalan penyaluran,” tegasnya.
Selain itu, Pertamina mengimbau masyarakat agar selalu membeli BBM melalui lembaga penyalur resmi, baik SPBU maupun Pertashop.
Langkah tersebut penting untuk memastikan masyarakat mendapatkan BBM dengan kualitas, takaran, serta harga sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kami juga mengimbau masyarakat agar bijak dalam menggunakan energi dan melakukan pembelian BBM di lembaga penyalur resmi. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi Pertamina Contact Center 135,” pungkasnya. (*/sya)
































