SUKABUMITIMES.com. – UOBK RSUD Syamsudin SH Kota Sukabumi menyiapkan ruang eks ICCU sebagai langkah antisipasi menghadapi lonjakan kunjungan pasien, khususnya di instalasi gawat darurat (IGD).
Langkah tersebut dilakukan setelah jumlah kunjungan pasien ke IGD dalam beberapa waktu terakhir mengalami peningkatan. Kondisi itu sempat terjadi bersamaan dengan meningkatnya kasus penyakit, terutama pada pasien anak.
Pranata Humas sekaligus Ketua Tim Kerja Hukum dan Humas UOBK RSUD Syamsudin SH, Rachmi Santika, mengatakan, saat ini jumlah kunjungan ke IGD mencapai sekitar 200 pasien per hari. Namun, untuk kasus anak, tren kunjungan mulai menunjukkan kondisi yang lebih landai.
“Kalau dua minggu ke belakang memang masih terjadi lonjakan. Saat ini Kasus kunjungan IGD didominasi penyakit dalam dan bedah. Untuk kasus anak sekarang sudah mulai landai,” kata Rachmi saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (29/9/2026).
Menurutnya, peningkatan jumlah pasien tersebut dimungkinkan dipengaruhi kondisi cuaca dan musim pancaroba. Kendati demikian, pihak rumah sakit tidak dapat memastikan satu faktor sebagai penyebab utama meningkatnya kunjungan pasien.
Di tengah tingginya kunjungan, rumah sakit tetap berupaya memastikan seluruh pasien mendapatkan pelayanan sesuai kondisi dan tingkat ke gawat daruratannya.
Rachmi menjelaskan, pelayanan di IGD dilakukan melalui sistem triase. Setiap pasien yang datang akan dinilai terlebih dahulu untuk menentukan tingkat ke gawat daruratannya, sehingga dapat ditentukan prioritas penanganan.
“Pasien akan diarahkan sesuai kondisinya, apakah masuk kategori gawat darurat, gawat tetapi tidak darurat, atau darurat tetapi tidak gawat. Semuanya harus disesuaikan dengan kondisi pasien,” ujarnya.
Ia menegaskan, rumah sakit tidak menerapkan kebijakan untuk menolak pasien. Namun, ketika terjadi lonjakan kunjungan dan jumlah petugas yang terbatas, waktu tunggu pelayanan dapat mengalami sedikit keterlambatan.
Kondisi tersebut, kata Rachmi, bukan berarti pasien dibiarkan tanpa penanganan. Setiap tindakan medis tetap dilakukan berdasarkan prosedur dan keselamatan pasien.
Setelah pemeriksaan awal dilakukan,termasuk pemeriksaan penunjang penanganan selanjutnya kondisi pasien dikonsultasikan dengan dokter maupun dokter spesialis sesuai kondisi pasien.
“Petugas melakukan pemeriksaan atau tindakan sesuai kebutuhan dan kondisi pasien dengan tetap berprinsip keselamatan pasien tetap menjadi perhatian utama,” katanya.
Rachmi menyebutkan, IGD memiliki target penyelesaian penanganan awal pasien dalam waktu kurang dari empat jam. Namun, ketika jumlah kunjungan meningkat secara signifikan, waktu pelayanan dapat terdampak.
Untuk mengantisipasi penumpukan pasien sekaligus menambah kapasitas pelayanan, RSUD Syamsudin SH menyiapkan ruang eks ICCU. Ruangan tersebut menjadi salah satu upaya rumah sakit dalam menghadapi kondisi ketika kapasitas pelayanan IGD mengalami tekanan akibat tingginya kunjungan.
“Kami berupaya agar semua pasien tetap bisa terlayani dan mendapatkan perawatan. Salah satunya dengan membuka ruang eks ICCU ketika terjadi penumpukan pasien di IGD,” ujar Rachmi.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk mempertimbangkan fasilitas kesehatan tingkat pertama ketika mengalami keluhan ringan, seperti pilek atau demam, selama tidak menunjukkan tanda-tanda kegawatdaruratan.
Masyarakat dapat memanfaatkan klinik atau puskesmas terdekat sehingga pelayanan di rumah sakit dapat lebih difokuskan bagi pasien yang membutuhkan penanganan medis dengan kondisi lebih berat.
“RSUD Syamsudin tidak pernah menolak pasien. Namun, untuk keluhan seperti pilek atau demam yang tidak disertai kondisi gawat, masyarakat bisa berobat terlebih dahulu ke klinik atau puskesmas terdekat. Dengan begitu, pasien dengan kondisi berat dapat lebih cepat mendapatkan penanganan di rumah sakit,” kata Rachmi. (rus)
































