Oleh: Boby es-Syawal el-Iskandar (Pengurus MUI Kota Sukabumi, tinggal di Sukabumi)
“Maka shalatlah karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.” QS. Al-Kautsar:2
Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia menyambut Hari Raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Hari raya ini identik dengan ritual penyembelihan hewan kurban, baik sapi, kambing, maupun unta. Namun, di tengah gemuruh takbir dan aroma darah serta daging yang membahagiakan, seringkali kita luput merenungkan satu pertanyaan fundamental: Apa sebenarnya yang harus kita sembelih? Apakah cukup hanya tengkuk hewan, atau ada sesuatu yang lebih besar dan lebih mendasar yang diperintahkan Allah kepada kita? Tulisan ini ingin mengajak pembaca semua untuk menyelami hikmah yang tersembunyi dibalik ibadah ini.
Kurban sebagai Ibadah Sunnah yang Ditekankan
Kurban dalam istilah fiqih adalah menyembelih hewan ternak pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mayoritas ulama (Hanafiyah, Syafi’iyah, Hanabilah) berpendapat bahwa kurban adalah sunnah mu’akkadah (sunnah yang sangat ditekankan) bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki dan mampu melaksanakannya. Bahkan, sebagian ulama (seperti Abu Hanifah) menyebutnya sebagai wajib bagi yang mampu, meskipun pendapat yang lebih kuat adalah sunnah.
Dasar anjuran ini sangat kuat, salah satunya adalah sabda Rasulullah SAW:
“مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا”
“Barang siapa yang memiliki kelapangan (rezeki) namun ia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim; dishahihkan oleh Al-Albani)
Hadis ini menunjukkan betapa seriusnya tuntunan ibadah kurban. Frasa “laa yaqrabanna mushallana” (jangan sekali-kali mendekati tempat salat kami) adalah bentuk ancaman keras bagi orang yang mampu tetapi meninggalkannya. Namun, perlu digarisbawahi bahwa ancaman ini bukan berarti dosa besar yang menggugurkan keislaman, melainkan sebagai bentuk kecaman atas kelalaian seseorang yang diberi nikmat harta tetapi enggan berbagi dan mendekatkan diri kepada Allah melalui kurban. Dengan demikian, bagi yang memiliki kelebihan harta setelah memenuhi kebutuhan pokok, sangat dianjurkan untuk tidak melewatkan ibadah mulia ini.
Perintah Kurban Setelah Perintah Salat
Allah SWT secara eksplisit menghubungkan ibadah kurban dengan ibadah salat dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar ayat 2:
“فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ”
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah (sembelihlah hewan kurban).” (QS. Al-Kautsar: 2)
Urutan ayat ini sangat bermakna. Salat didahulukan karena ia adalah tiang agama, komunikasi vertikal langsung antara hamba dan Tuhannya. Setelah salat mengokohkan hubungan dengan Allah, kemudian diperintahkan untuk berkurban sebagai wujud implementasi dari ketakwaan tersebut ke dalam ranah sosial dan kemanusiaan. Para mufassir menjelaskan bahwa kata “wanhar” (dan berkorbanlah) juga bisa berarti “letakkan kedua tanganmu di dada saat salat” (dalam salat Id), namun makna yang lebih populer dan kontekstual adalah menyembelih hewan kurban.
Dengan demikian, salat dan kurban adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan pada hari raya Idul Adha. Salat mengajarkan kita untuk khusyuk, tunduk, dan mengagungkan Allah; sementara kurban mengajarkan kita untuk rela berbagi, mengorbankan harta, dan peduli terhadap sesama. Jika salat meluruskan orientasi hati hanya kepada Allah, maka kurban meluruskan orientasi harta untuk kemaslahatan umat. Ibadah ini menjadi bukti nyata bahwa seorang muslim tidak bisa hidup dalam keegoisan spiritual, tetapi juga harus peka terhadap penderitaan orang di sekitarnya.
Hikmah Kurban-Bukan Sekadar Darah dan Daging
Allah SWT dengan tegas menyatakan bahwa esensi kurban bukanlah pada darah atau daging hewan yang mengalir, melainkan pada ketakwaan hati pelakunya. Firman Allah:
“لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ”
“Daging-daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kamu.” (QS. Al-Hajj: 37)”
Ayat ini menegaskan bahwa kurban hanyalah sebuah simbol. Yang Allah nilai bukanlah seberapa mahal harga hewan kurban atau seberapa banyak darah yang tertumpah, melainkan seberapa besar keikhlasan, ketaatan, dan rasa kepedulian sosial yang terkandung di dalamnya. Inilah mengapa ibadah kurban memiliki dua dimensi besar: dimensi vertikal (habluminallah) dan dimensi horizontal (habluminannas).
Dimensi sosial inilah yang kemudian menjadi perhatian serius para pemimpin umat. Arahan Presiden Prabowo agar sebagian besar daging dam dari jamaah haji Indonesia pada tahun ini didistribusikan ke Palestina dan wilayah Timur Tengah lainnya yang sedang mengalami krisis kemanusiaan sangat tepat. Hal ini sangat menyentuh inti hikmah kurban: kepedulian kepada mereka yang paling membutuhkan. Saudara-saudara kita di Gaza, Suriah, Yordania, dan Lebanon saat ini hidup dalam kekurangan, kelaparan, dan tekanan. Daging dam yang sampai ke tangan mereka bukan hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menjadi pesan solidaritas bahwa umat Islam di Indonesia hadir untuk mereka. Ini adalah perwujudan nyata dari konsep rahmatal lil ‘alamin.
Pelajaran Hakiki: Bukan Menyembelih Ismail, Melainkan Sifat Kebinatangan
Jika kita mundur ke belakang, ke peristiwa monumental yang melatarbelakangi disyariatkannya kurban, kita akan menemukan makna yang luar biasa. Selama ini, banyak dari kita menceritakan kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Namun, para ulama sufi dan ahli tafsir batin mengajarkan bahwa ada pemahaman yang lebih dalam.
Sesungguhnya, Ibrahim tidak diperintahkan untuk menyembelih Ismail dalam wujud fisik seorang anak. Yang diperintahkan adalah menyembelih sifat keakuan, sifat kebinatangan (bahimiyah), dan rasa cinta berlebihan terhadap makhluk yang melebihi cinta kepada Allah. Ismail hanyalah sebuah simbol. Secara lahir, Allah menguji Ibrahim dengan perintah yang secara rasional sangat berat: menyembelih anak sendiri yang dinanti-nantikan sekian puluh tahun. Namun secara batin, ujian itu adalah: “Apakah engkau, wahai Ibrahim, masih memiliki rasa kepemilikan atas sesuatu di dunia ini? Apakah engkau masih menganggap Ismail sebagai milikmu, atau engkau sadar bahwa Ismail sepenuhnya milik-Ku?”
Ketika Ibrahim dan Ismail sama-sama pasrah, dan ketika pisau (atas izin Allah) tidak mampu melukai leher Ismail, maka tergantilah dengan seekor domba. Peristiwa ini mengajarkan bahwa yang harus dikorbankan adalah egosentrisme, yaitu perasaan bahwa harta, anak, jabatan, dan segala sesuatu adalah milik kita secara mutlak.
Setiap Kita adalah Ibrahim, Setiap Kita Memiliki Ismail
Puncak dari renungan Idul Adha adalah kesadaran bahwa setiap kita adalah Ibrahim, dan setiap kita memiliki Ismail-ismail sendiri. Ismail bukan lagi nama seorang anak Nabi, melainkan simbol dari segala sesuatu yang sangat kita cintai, yang kita banggakan, dan yang seringkali menjadi hijab (penghalang) antara kita dengan Allah SWT.
Allah SWT telah memperingatkan hal ini secara eksplisit dalam Al-Qur’an:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 9)
Ayat ini dengan tegas mengingatkan bahwa harta dan anak dapat menjadi sumber kelalaian yang paling berbahaya. Keduanya adalah anugerah sekaligus ujian. Ketika seseorang sibuk mengumpulkan harta, membesarkan anak, mengejar karier, dan meraih kedudukan hingga ia meninggalkan salat, enggan bersedekah, lupa berzikir, dan bahkan tidak mau berkurban padahal mampu—maka ayat ini menyatakan bahwa ia termasuk orang-orang yang merugi. Kerugiannya bukan di dunia saja, tetapi di akhirat kelak.
Ibadah kurban menjadi momen yang paling tepat untuk melawan kelalaian yang dilarang dalam QS. Al-Munafiqun: 9. Ketika kita mengorbankan harta untuk membeli hewan kurban, sebenarnya kita sedang melatih diri untuk tidak membiarkan harta menguasai hati. Ketika kita mendistribusikan daging kepada fakir miskin, kita sedang mendidik anak-anak kita untuk peduli, bukan melalaikan mereka dari agama. Dengan kata lain, kurban adalah terapi ruhani untuk memutus rantai kelalaian akibat cinta harta dan anak.
Penutup
Jadi, apa yang harusnya kita sembelih di Hari Raya Idul Adha? Jawabannya adalah dua hal secara bersamaan. Pertama, secara lahiriah kita menyembelih hewan kurban sebagai bentuk kepatuhan pada perintah Allah dan kepedulian sosial kepada sesama. Kedua, secara batiniah kita menyembelih sifat bahamiyah, ego/sifat keakuan, dan kecintaan berlebihan terhadap “Ismail-Ismail” yang kita miliki saat ini, baik berupa harta, jabatan, anak, atau prestasi yang selama ini melenakan.
Idul Adha yang sejati adalah ketika darah hewan kurban mengalir dan seiring dengan itu, sifat sombong, pelit, serta kelalaian dari mengingat Allah dalam hati kita ikut terkikis. Jangan sampai harta dan anak menjadikan kita lalai. Mari jadikan momen ini sebagai latihan tahunan untuk melepaskan segala bentuk kepemilikan palsu dan kembali berserah diri sepenuhnya hanya kepada Allah. Karena pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar kita miliki di dunia ini; semua adalah titipan-Nya. Yang abadi hanyalah ketakwaan dan cinta kepada-Nya. Selamat Hari Raya Idul Adha, mari sembelih hewan kurban dan sembelih pula segala bentuk kelalaian yang menjauhkan kita dari Allah. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa kurban, dan Allah menerima kurban yang kita lakukan. jangan sampai ketika kita tidak mampu berkurban, kita malah mengorbankan pihak lain. Wallahu a’lamu bishawab. (*)































