Psikolog Ungkap Ciri Orang Ber-IQ Rendah dari Cara Mengobrol, Suka Menyela hingga Sok Tahu

SUKABUMITIMES.com – Mengobrol ternyata bukan sekadar aktivitas bertukar cerita atau pendapat. Cara seseorang berbicara dan merespons lawan bicara disebut dapat mencerminkan tingkat kecerdasan sekaligus kemampuan emosionalnya.

Psikolog Dave Smallen mengungkapkan, ada sejumlah kebiasaan saat berbicara yang kerap muncul pada orang dengan tingkat IQ rendah. Kebiasaan tersebut dinilai dapat merusak kualitas komunikasi hingga membuat lawan bicara merasa tidak dihargai.

Dilansir dari Your Tango salah satu ciri yang paling mudah dikenali adalah kebiasaan menyela atau memotong pembicaraan orang lain.

Menurut Smallen, orang dengan IQ rendah cenderung merasa apa yang ingin mereka sampaikan lebih penting dibanding ucapan lawan bicara. Akibatnya, mereka sering menginterupsi tanpa memberi kesempatan orang lain menyelesaikan perkataannya.

“Hal ini menunjukkan kurangnya kesabaran dan empati terhadap orang lain,” jelas Smallen.

Tak hanya itu, kebiasaan menganggap percakapan sebagai ajang kompetisi juga disebut menjadi tanda lain rendahnya kecerdasan dalam berkomunikasi. Mereka kerap berlomba membagikan cerita yang dianggap lebih hebat atau lebih menarik dibanding pengalaman lawan bicara.

“Berbagi cerita adalah bagian penting dari menjalin hubungan. Namun, penting untuk memperhatikan apakah motivasi kita adalah untuk membuat orang lain terkesan, untuk membuktikan diri, atau untuk menyombongkan diri. Jika demikian, kita mungkin sebenarnya mencari kekaguman, bukan koneksi,” kata Smallen.

Ia menambahkan, komunikasi yang sehat seharusnya diawali dengan memahami perasaan lawan bicara sebelum menceritakan pengalaman pribadi.

Selain itu, orang dengan IQ rendah juga disebut memiliki kecenderungan selalu ingin benar dalam setiap percakapan. Mereka merasa harus memenangkan diskusi, bahkan ketika topik yang dibahas sebenarnya tidak perlu diperdebatkan.

Sikap seperti ini dinilai dapat menghambat terjalinnya hubungan yang sehat karena percakapan berubah menjadi arena adu argumen, bukan ruang untuk saling memahami perspektif.

Ciri lainnya adalah perilaku sok tahu. Orang dengan kebiasaan ini sering merasa paling memahami suatu hal dan gemar memberikan penjelasan panjang lebar meski tidak diminta.

“Ketika kita menjelaskan informasi kepada orang lain tanpa diminta keahlian kita, hal itu dapat mengkomunikasikan bahwa kita menganggap mereka bodoh,” ujar Smallen.

Menurutnya, kebiasaan tersebut sering kali lebih bertujuan memuaskan ego pribadi dibanding membangun kedekatan emosional dengan orang lain.

Tak kalah penting, Smallen juga menyoroti kebiasaan memberikan saran tanpa diminta. Banyak orang langsung menawarkan solusi saat mendengar curahan hati orang lain, padahal belum tentu lawan bicara membutuhkan nasihat.

Dalam kondisi tertentu, seseorang sebenarnya hanya ingin didengarkan dan dipahami. Karena itu, kemampuan mendengar dengan empati dianggap jauh lebih penting dibanding buru-buru memberi solusi.

“Komunikator yang efektif tahu kapan harus mendengarkan dan bertanya apakah sarannya benar-benar dibutuhkan,” pungkas Smallen. (sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *