Penggerebekan Senyap Berujung Kejar-kejaran Dramatis di Cimaja Sukabumi, 16 WNA China Diciduk Imigrasi, Diduga Terlibat Pelanggaran Cyber 

SUKABUMITIMES.com — Operasi senyap yang digelar jajaran Imigrasi Kelas II Non TPI Sukabumi di kawasan wisata pantai Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Selasa (13/4/2026) pagi, berubah menjadi aksi kejar-kejaran dramatis. Sebanyak 16 warga negara asing (WNA) asal China berhasil diamankan setelah sempat berpencar dan melarikan diri dari lokasi penggerebekan.

Penggerebekan dilakukan di sebuah penginapan, Grand Desa Resort, Desa Cimaja. Namun, saat petugas tiba di lokasi, situasi sudah tidak seperti biasanya. Diduga kuat, informasi operasi telah bocor sehingga para WNA lebih dulu meninggalkan penginapan dan menyebar ke berbagai titik.

Kasubsi Intelijen Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Sukabumi, Daniel Putra, mengungkapkan bahwa saat tim tiba, hanya satu orang WNA yang ditemukan di lokasi.

“Jadi begitu kita datang ke sini sudah kita temukan cuma satu WNA berkewarganegaraan China. Jadi kita amankan dahulu satu, baru kita lakukan pengejaran,” ujar Daniel kepada wartawan.

Dari titik awal tersebut, petugas langsung bergerak cepat melakukan pengejaran berdasarkan informasi dari masyarakat. Penyisiran dilakukan secara intens di berbagai lokasi, mulai dari pesisir pantai hingga jalan-jalan utama.

“Kita kejar ke informasi dari masyarakat sampai ke beberapa titik, di pesisir pantai sampai ke jalan-jalan raya, ditemukan pertama di salah satu minimarket ya, di kawasan Cisolok,” sambungnya.

Aksi pengejaran berlangsung cukup menegangkan. Para WNA yang kabur berusaha menghindari petugas dengan berpencar, namun satu per satu akhirnya berhasil diamankan di lokasi berbeda.

“Total yang diamankan 16 warga negara asing; 15 laki-laki dan satu perempuan,” jelas Daniel.

Selain mengamankan para WNA, petugas juga menyita sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan aktivitas mereka. Barang-barang tersebut antara lain paspor, telepon genggam, perangkat komputer (PC), hingga peralatan jaringan internet.

“Barang buktinya berupa handphone, paspor, sama peralatan PC dan jaringan internet. Aktivitasnya masih dugaan, terlibat cyber, dugaan pelanggaran cyber,” terangnya.

Daniel juga mengungkapkan adanya indikasi kebocoran informasi sebelum operasi dilakukan. Hal ini terlihat dari kondisi penginapan yang sudah kosong saat petugas tiba.

“Terindikasi ada kebocoran informasi untuk keluar. Jadi begitu kita datang ke sini sudah kita temukan cuma satu WNA berkewarganegaraan China,” katanya kembali menegaskan.

Sementara itu, pemilik penginapan, Leuleung, mengaku tidak mengetahui secara pasti aktivitas para tamunya tersebut. Ia menyebut rombongan WNA itu sudah menginap sejak menjelang Lebaran dan bahkan berencana tinggal lebih lama.

“Sudah agak lama, saya agak lupa, udah pas lagi lebaran mendekati mau lebaran. Pertamanya sih dia menginap, terus akhirnya dia mau mengontrak katanya satu tahun,” ujarnya.

Menurut Leuleung, para WNA tersebut mengaku akan menjalankan usaha di bidang pariwisata, seperti menggelar tur wisata bagi wisatawan asal China ke sejumlah destinasi di Sukabumi.

“Katanya mau bikin tur, jadi dia mau mengadakan tur buat berangkat ke Ciletuh, Sawarna. Jadi orang Cina ini mau mengadakan tur gitu. Ngaku ke sayanya,” ungkapnya.

Namun demikian, ia mengaku tidak melihat adanya aktivitas mencurigakan selama mereka menginap.

“Saya tidak tahu aktivitas mereka seperti apa. Katanya belum mulai,” tambahnya.

Kini, seluruh WNA yang diamankan telah dibawa ke Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Sukabumi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Aparat masih mendalami kemungkinan pelanggaran keimigrasian maupun dugaan aktivitas siber ilegal yang dilakukan oleh para WNA tersebut. (stm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *