Dari Kursi Menteri ke Kios Beras: Jejak Kesederhanaan K.H. Saifuddin Zuhri

SUKABUMITIMES.com – Kehidupan pejabat negara setelah pensiun kerap menjadi tanda tanya publik. Di tengah bayang-bayang fasilitas mewah dan lingkaran kekuasaan, tak sedikit yang bertanya: bagaimana para mantan punggawa negara menyambung hidup usai meletakkan jabatan?Jawaban dari pertanyaan itu mewujud secara luar biasa dalam sosok K.H. Saifuddin Zuhri.

Mantan Menteri Agama RI ke-10 ini memberikan pelajaran berharga tentang integritas yang tak luntur oleh jabatan, dan kehormatan yang tidak diukur dari tumpukan harta.Sang Kiai di Pasar Glodok

Pada era 1980-an, suasana Pasar Glodok, Jakarta, tampak seperti biasa—hiruk pikuk dengan aktivitas perdagangan. Namun, di antara deretan pedagang, ada pemandangan yang tak lazim bagi mereka yang mengenalnya.

Setiap pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, tepat setelah menunaikan salat Dhuha, seorang pria paruh baya datang menyetir mobilnya sendiri.

Pria itu bukan sedang berbelanja mewah. Ia turun untuk mengangkut barang dagangan: beras. Dialah Saifuddin Zuhri, sosok yang pernah memimpin kementerian paling sakral di republik ini, kini berjualan beras demi menafkahi keluarga.

Menariknya, aktivitas ini dilakukan dengan sangat bersahaja hingga keluarganya sendiri tidak tahu. Sang kiai hanya pulang membawa uang untuk kebutuhan rumah tangga tanpa pernah menyombongkan peluh yang ia cucurkan di pasar.

Rahasia ini baru terungkap ketika salah satu putranya secara tak sengaja memergoki sang ayah sedang melayani pembeli di riuhnya Pasar Glodok.

Bagi Saifuddin, berdagang bukanlah hal memalukan. Dalam otobiografinya, Berangkat dari Pesantren (1984), ia mengenang masa-masa sulit tahun 1942 saat anak pertamanya lahir.

Kala itu, ia melakoni pekerjaan apa saja yang halal: menjual pakaian bekas, peralatan rumah tangga, hingga rokok.

Mentalitas “santri” yang mandiri inilah yang ia bawa hingga ke kursi menteri. Baginya, jabatan adalah amanah berat, bukan tiket menuju keistimewaan pribadi.

Keteladanan Saifuddin sudah nampak jelas sejak ia dilantik oleh Presiden Soekarno pada 2 Maret 1962.

Salah satu sikapnya yang melegenda adalah penolakannya terhadap fasilitas rumah dinas menteri.

Meski berhak secara hukum, ia memilih tetap tinggal di rumah pribadinya yang sederhana di Jalan Dharmawangsa Raya. Saat didesak untuk mengambil fasilitas tersebut, jawabannya lugas dan menampar ego kekuasaan:

“Kalau begitu aku serakah namanya. Kalau Menteri Agama sudah serakah, bagaimana yang lain? Sikapku tegas. Sejak itu aku tetap menempati rumah sendiri hingga sekarang.”

Alih-alih menikmati fasilitas negara, ia justru memilih menyicil rumah di kawasan Jalan Hang Tuah. Bahkan setelah cicilan itu lunas, ia tidak menjadikannya aset pribadi untuk diperkaya, melainkan memberikannya secara cuma-cuma untuk kepentingan sosial Nahdlatul Ulama (NU).

Jejak langkah Saifuddin Zuhri berakhir pada 25 Februari 1986. Ia wafat meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga dari sekadar materi: sebuah nama baik yang tak bercela.

Integritas tersebut rupanya mengalir deras ke keturunannya. Berpuluh tahun kemudian, putra bungsunya, Lukman Hakim Saifuddin, mengikuti jejak sang ayah menjabat sebagai Menteri Agama di era Presiden Joko Widodo, membawa serta marwah kesederhanaan yang pernah diajarkan di meja makan keluarga mereka.

Kisah Saifuddin Zuhri adalah pengingat bagi siapa saja yang sedang atau akan berkuasa: bahwa jabatan hanyalah seragam sementara, namun karakter dan kemandirian adalah pakaian abadi yang akan dibawa hingga mati.

Data Singkat K.H. Saifuddin Zuhri:

Jabatan: Menteri Agama RI ke-10 (1962–1967). Kiprah Politik: Anggota DPR-GR (Fraksi NU), Anggota DPR hasil Pemilu 1971.

Wafat: 25 Februari 1986.

Filosofi Hidup: Menolak fasilitas rumah dinas demi menghindari sifat serakah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *