SUKABUMITIMES.COM – Politeknik Negeri Bandung (Polban) melaksanakan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada Pelatihan Hygiene, Sanitasi dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Perkantoran di SMK PGRI 1 Cimahi.
Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) serta hygiene dan sanitasi merupakan aspek penting yang harus diterapkan di setiap tempat kerja, termasuk di lingkungan perkantoran. Penerapan K3 yang tepat tidak hanya menjaga kesehatan para pekerja, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman.
Pengabdian ini melibatkan dua Dosen Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung (Polban) yaitu Dr. Dian Ratna Suminar, S.T., M.T. dan Dianty Rosirda Dewi Kurnia, S.T., M.T.
Dr. Dian Ratna Suminar, S.T., M.T. mengemukakan alasan dilakukannya pengabdian kepada masyarakat di SMK PGRI 1 Cimahi. Sebagai lembaga pendidikan yang menyiapkan lulusan siap kerja, Polban memandang penting untuk memberikan pelatihan terkait hygiene, sanitasi, dan K3 bagi para siswa SMK PGRI 1 Cimahi. Kegiatan ini menjadikan para siswa SMK PGRI 1 Cimahi tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan di tempat kerja.
“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dasar tentang hygiene, sanitasi, dan K3 di lingkungan perkantoran kepada /siswa SMK PGRI 1 Cimahi,” kata Dosen Teknik Kimia Polban Dr. Dian Ratna Suminar, S.T., M.T, Rabu (7/1/2025).
Tujuan lainnya yaitu meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga kesehatan dan keselamatan diri serta rekan kerja dalam lingkungan perkantoran, dan mempersiapkan siswa dengan keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan di dunia kerja, terutama dalam sektor perkantoran yang padat aktivitas.
Dalam prosesnya, pelatihan ini akan dilaksanakan melalui beberapa metode yang terintegrasi untuk memastikan pemahaman dan keterampilan siswa dalam menerapkan hygiene, sanitasi, dan K3. Mulai dari sesi teori, praktik langsung, studi kasus dan diskusi hingga simulasi kecelajaan dan tanggap darurat.
Pada sesi teori diberikan pembelajaran teori mengenai prinsip dasar hygiene, sanitasi, serta K3 perkantoran, termasuk pengertian, tujuan, dan regulasi yang berlaku.
“Narasumber dari Polban dan praktisi K3 akan memberikan materi secara detail mengenai prosedur yang harus dilakukan di tempat kerja untuk menjaga kesehatan dan keselamatan kerja,” ujarnya.
Tidak lupa, siswa juga akan diberi kesempatan untuk berlatih langsung dalam praktik hygiene dan sanitasi di lingkungan perkantoran yang disesuaikan dengan kondisi di sekolah. Termasuk cara-cara menjaga kebersihan meja kerja, penggunaan alat pelindung diri (APD), serta prosedur pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
“Dalam studi kasus dan diskusi, siswa akan diberikan studi kasus terkait masalah yang sering terjadi di lingkungan perkantoran mengenai kebersihan, sanitasi, serta kecelakaan kerja. Kemudian, dilakukan diskusi kelompok untuk menemukan solusi serta cara-cara pencegahan yang dapat dilakukan,” papar Dr. Dian Ratna Suminar, S.T., M.T.
Terakhir saat simulasi kecelakaan dan tanggap darurat. Simulasi ini akan mengajarkan siswa tentang pentingnya tindakan cepat dan tepat dalam menghadapi kecelakaan kerja, serta prosedur evakuasi yang benar. Siswa akan mempelajari cara menggunakan alat pemadam kebakaran, serta bagaimana memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan.
Lalu output apa yang diharapkan dari program pengabdian masyarakat yang dilakukan Polban? Dosen Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung (Polban), Dianty Rosirda Dewi Kurnia, S.T., M.T. menjelaskan bahwa output yang diharapkan adalah terjadi peningkatan pemahaman dan kesadaran siswa.
“Siswa diharapkan dapat memahami dengan baik prinsip-prinsip hygiene, sanitasi, dan K3 serta dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di lingkungan perkantoran setelah mereka terjun ke dunia kerja,” terangnya.
Setelah pelatihan, siswa diharapkan dapat menjalankan prosedur K3 dengan baik, mulai dari pemahaman tentang penggunaan APD hingga cara-cara menjaga lingkungan kantor tetap bersih dan sehat.
“Siswa yang mengikuti pelatihan ini dengan aktif dan berhasil lulus akan mendapatkan sertifikat pelatihan K3 yang dapat menjadi nilai tambah bagi mereka saat mencari pekerjaan,” ulasnya.
Program tersebut memiliki banyak manfaat. “Siswa mendapatkan keterampilan dan pengetahuan praktis tentang pentingnya menjaga hygiene, sanitasi, dan kesehatan di tempat kerja. Mereka juga akan lebih siap untuk menghadapi dunia kerja dengan pemahaman tentang standar keselamatan yang berlaku,” tegas Dianty.
Pelatihan ini memberikan dampak positif bagi sekolah, dengan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi siswa dan staf. Sekolah juga dapat meningkatkan citra sebagai institusi yang peduli terhadap kesejahteraan dan keselamatan siswa.
“Peningkatan pemahaman mengenai K3 akan menciptakan dampak positif di masyarakat dengan meningkatnya kesadaran tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan di tempat kerja. Hal ini juga dapat mendorong terciptanya budaya kerja yang lebih aman dan sehat di lingkungan perkantoran,” ungkapnya.
Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya untuk mempersiapkan generasi muda, khususnya siswa SMK PGRI 1 Cimahi, agar dapat mengaplikasikan prinsip-prinsip kesehatan dan keselamatan kerja dalam kehidupan profesional mereka. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang mereka dapatkan, diharapkan para siswa dapat menjadi tenaga kerja yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dan keselamatan di tempat kerja.
“Semoga kegiatan ini dapat menjadi contoh untuk sekolah-sekolah lainnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesiapan siswa di dunia kerja,” harapnya. (sya/rls)
































