Husni, Perajin Tempe Asal Madiun Pemasok MBG Beromset Rp1 Juta per Hari 

SUKABUMITIMES.COM – Program unggulan Presiden Prabowo Subianto dengan Makan Bergizi Gratis (MBG) terlepas dari pro dan kontra, ternyata tidak sedikit membawa keberuntungan bagi sebagian banyak orang.

Salah satunya adalah Muhamamd Husni, perajin tempe asal desa Mojorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun. Saat ini dirinya menjadi pemasok tempe bagi dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tenyata membawa perubahan besar dalam kehidupannya.

Muhammad Husni merasakan peningkatan kesejahteraan sekaligus kebanggaan karena usahanya kini ikut menopang pemenuhan gizi masyarakat.

“Sekarang dalam sehari saya bisa memasok sekitar 150 kilogram tempe. Kalau dihitung, omzetnya lebih dari Rp1 juta per hari. Alhamdulillah, pembayarannya juga lancar,” ujar Husni akhir pekan lalu.

Menurutnya, peningkatan permintaan membuat Husni berani mengembangkan usahanya. Dia membeli sejumlah mesin untuk mempercepat proses produksi tempe.

 Tak hanya itu, dia juga membuka lapangan kerja bagi warga di sekitarnya.

“Sebagai warga yang dulu juga serba kekurangan, saya senang bisa mempekerjakan tetangga-tetangga sendiri,” kata pria yang memiliki dua anak tersebut.

Dampak positif usaha tempe Husni tak berhenti pada penciptaan lapangan kerja. Limbah kulit kedelai dari proses produksi dimanfaatkannya untuk membantu peternak sapi dan kambing di desanya. Kulit kedelai tersebut digunakan sebagai pakan alternatif pengganti konsentrat.

“Kulit kedelai itu dimanfaatkan untuk pakan ternak. Ternak jadi lebih cepat gemuk,” ujarnya.

Seiring berkembangnya usaha, Husni juga kerap dimintai saran oleh perajin tempe lain yang ingin meningkatkan kualitas produk agar bisa menjadi pemasok dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG).

Ia mengaku banyak mendapat tawaran kerja sama.

“Sekarang ini banyak orang bertanya, bagaimana caranya menjadi supplier MBG. Jadi, banyak yang konsultasi,” ujarnya.

Melihat manfaat nyata yang dirasakannya, Husni berharap program MBG dapat terus berlanjut. Menurutnya, program tersebut tidak hanya meningkatkan pendapatan pelaku UMKM pangan, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan anak-anak.

“Di sini kan banyak anak dari keluarga tidak mampu. Jadi, tidak punya uang jajan, tetapi dengan adanya MBG, semua bisa merata,” pungkasnya. (*/sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *