SUKABUMITIMES.COM – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Yudha Sukmagara, mendesak pemerintah daerah agar segera mengambil langkah konkret dalam penanganan pascabencana banjir yang melanda Kampung Tugu, Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok.
Seruan tegas itu disampaikan Yudha usai meninjau langsung lokasi tanggul Sungai Cisolok yang jebol akibat derasnya arus air dari hulu dan menyebabkan ratusan rumah warga terendam banjir belum lama ini.
Dalam kunjungan tersebut, Yudha yang juga Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Sukabumi, turut menyalurkan bantuan logistik berupa paket sembako dan kebutuhan pokok bagi warga terdampak. Ia didampingi Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Sukabumi, Hera Iskandar, serta jajaran pengurus Partai Gerindra kabupaten Sukabumi.
“Saya melihat langsung kondisi tanggul yang jebol. Ini harus jadi prioritas utama, tidak bisa ditunda. Sekitar 500 kepala keluarga, lebih dari seribu jiwa, setiap malam tidak bisa tidur tenang karena takut banjir susulan,” kata Yudha di lokasi.
Menurut Yudha, berbagai bantuan kemanusiaan memang telah mengalir dari banyak pihak, namun langkah paling mendesak saat ini adalah perbaikan dan penguatan tanggul Sungai Cisolok agar masyarakat bisa kembali merasa aman.
“Apresiasi saya untuk semua pihak yang sudah menyalurkan bantuan. Tapi kalau tanggul ini tidak segera diperbaiki, warga tidak akan pernah merasa tenang,” tegasnya.
Untuk itu, Yudha mengungkapkan, pihaknya melalui Fraksi Gerindra akan segera berkoordinasi dengan Bupati dan Sekretaris Daerah agar dana Belanja Tidak Terduga (BTT) segera dialokasikan untuk perbaikan tanggul yang rusak.
“Kami akan mendorong agar dana BTT segera digelontorkan. Ini bencana, bukan soal wilayah administrasi. Jangan sampai masyarakat jadi korban karena urusan tumpang tindih kewenangan. Kami ingin tindakan cepat,” ujarnya tegas.
Yudha menambahkan, Fraksi Gerindra juga akan mengusulkan agar persoalan tanggul Sungai Cisolok ini menjadi agenda prioritas pembahasan di DPRD, mengingat curah hujan tinggi yang masih berpotensi memperburuk kondisi wilayah tersebut.
“Sekarang sedang musim hujan. Kalau dibiarkan, banjir bisa terjadi lagi kapan saja. Maka langkah pertama adalah mengamankan tanggul, baru setelah itu fokus pada pemulihan infrastruktur dan kondisi sosial masyarakat,” jelas Yudha.
Tidak hanya soal tanggul, Yudha juga menyoroti adanya dugaan aktivitas pembukaan lahan besar-besaran di kawasan hulu Sungai Cisolok yang disebut menjadi salah satu pemicu banjir bandang, meski saat dirinya datang sempat mrndapat curhatan bahwa bencana banjir tersebut siklus 15 tahunan.
“Sya pas datang, ini katanya siklus 15 tahunan atau apalah, saya gak percaya tahayul itu, saya lebih percaya ini pasti ada sebab ada akibat,” terangnya.
“Nah ternyata ini kata pak kades, ini pembongkaran lahan diatasnya, sekitar 5 hektaran lebih dan setelah disetop 5 hari terjadilah ini banjir, itu sebabnya, apakah ada eksploitasi lahan yang dilakukan orang tidak bertanggung jawab atau oknum nah ini yang harus ditindaklanjuti,” sambungnya.
Menurut Yudha Kabupaten Sukabumi memang memiliki wilayah yang luas dan rawan bencana, namun hal itu bukan alasan untuk bersikap pasif. Ia mencontohkan seperti yang diungkapkan gebernur Jabar Dedi Mulyadi yang sempat berbicara bahwa bencana terjadi dampak alam dirusak.
“Ya kita harus cari tahu dulu, kenapa bisa rawan, bencana, pak Gunernur pak Dedi Mulyadi sempat berbicara tanah dirusak sih, jadi ayeuna alam semesta ngambeuk, ini kan bahasanya jelas, kita harus cari tahu alam semesta ini kenapa,” tegasnya.
“Kalau hutan di hulu rusak, air pasti turun deras ke bawah. Ini bukan karena alam murka, tapi karena ulah manusia yang merusak alam,” ucapnya.
Yudha memastikan, DPRD Kabupaten Sukabumi akan berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Barat, Polres Sukabumi, hingga Polda Jabar untuk menindaklanjuti dugaan tersebut.
“Kita tidak boleh percaya tahayul seperti ‘bencana datang tiap 15 tahun’. Yang harus kita yakini adalah kerja keras, kerja cepat, dan kerja nyata untuk rakyat,” pungkasnya. (stm)
























