Cerita Haru Warga Terdampak Banjir Bandang di Cisolok Sukabumi: Air Datang Tiba-Tiba, Semua Terendam

SUKABUMITIMES.COM – Raut sedih dan kelelahan masih terlihat di wajah warga Kampung Tugu, Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, yang menjadi korban bencana banjir bandang beberapa hari lalu.

Di antara tumpukan pakaian basah dan lumpur yang belum sepenuhnya hilang, mereka berusaha bangkit, meski sisa-sisa bencana masih membekas di setiap sudut rumah.

Salah satunya adalah Lena (43). Siang itu, ia tampak memilih pakaian dari tumpukan bantuan yang baru saja datang. Dengan nada lirih, Lena menceritakan detik-detik saat air bah menerjang rumahnya.

“Pakaian di rumah saya mah memang gak hilang, tapi semua terendam. Waktu itu saya ada di dalam rumah, udah mau keluar tapi air cepat naik, udah setinggi lutut. Saya balik lagi ke dalam, ngunci pintu, tapi air tetap masuk dari bawah-bawah,” tutur Lena pelan.

Lena mengatakan, arus air yang deras membuat dirinya tak sempat menyelamatkan apa pun. Seluruh pakaian dan perlengkapan keluarga terendam lumpur.

“Air dari luar kencang banget. Pakaian semua terendam, gak bisa dipakai. Sekarang saya nyari baju seadanya, buat saya dan anak-anak,” ujarnya lirih.

Senada diungkapkan Sulastri (42) warha lainnya yang juga terdampak, mengatakan, rumahnya yang tidak jauh dari sungai Cisolok dengan secara tiba tiba terendam, hingga Ia dan keluarganya tidak sempat menyelamatkan barang barang yang kemudian hanyut terbawa derasnya arus air.

“Tiba tiba teh air langsung penuh, jadi gak sempat, pokoknya gak sempat siap siap, gak sempat siaga untuk menyelamatkan barang barang, tiba tiba saja cuman sempat nutup pintu saja,” lirihnya.

“Tapi tetep rusak saking derasnya arus, meluap sungai Cisolok jebol itu tanggul dekat jembatan, pokoknya ini dinding gak kelihatan, ketutup air semua, gak ada yang menyelamatkan barang barang, pokoknya menyelamatkan diri saja, semua barang barang semua habis ini kebawa, gak sempat dikunci pintu ini, cuman ditutup saja,” imbuhnya.

Sementara itu seorang ibu bernama Eem Amaliah (58) juga menceritakan kisah pilunya. Ia masih trauma mengingat bagaimana air tiba-tiba datang tanpa peringatan.

“Waktu itu hujan udah dari jam 12 siang. Sekitar jam 4 sore, air langsung besar, datangnya bareng lumpur, gak ada aba-aba,” kata Eem dengan mata berkaca-kaca.

Saat kejadian, Eem sedang di rumah bersama ketiga anaknya. Suaminya telah meninggal enam tahun lalu, sehingga ia hanya mengandalkan anak-anaknya untuk bertahan.

“Barang semua habis, lemari, pakaian, semua kebawa banjir. Saya sama anak-anak langsung lari, gak bawa apa-apa. Rumah juga rusak berat,” ucapnya dengan suara gemetar.

Eem baru mengetahui bagian belakang rumahnya jebol setelah diberitahu warga lain. Banyak barang-barang miliknya hanyut terbawa arus bersama milik tetangga.

“Barang ibu rusak semua, gak ada yang bisa dipakai. Barang orang lain juga banyak yang nyangkut di sini,” tambahnya.

Dengan rumah yang kini rusak parah dan tanpa sumber penghasilan tetap, Eem berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah.

“Saya cuma ingin dibantu. Saya gak punya suami, tinggal sama anak-anak. Rumah udah rusak begini, gak tahu mau bagaimana. Tolonglah pemerintah bantu kami yang kena musibah ini,” ujarnya penuh harap.

Kini, di tengah keterbatasan dan rasa kehilangan, para warga korban banjir di Cikahuripan masih terus berjuang menata kembali kehidupan mereka. Bantuan demi bantuan mulai berdatangan, namun luka akibat bencana itu masih sulit terhapus dari ingatan. (stm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *