Oleh: H. Rizal Yusup Ramdhan
SUKABUMITIMES.COM – Manusia kerap menggenggam panji keyakinan seolah kebenaran tunggal bersemayam di dadanya. Atas nama Tuhan, manusia berkali-kali mengangkat pedang, menyalakan mesiu, menumpahkan darah saudara sesama makhluk. Betapa ironis, agama yang semestinya menjadi cahaya penuntun, berubah menjadi bara yang membakar kemanusiaan.
Di medan sejarah, kita membaca catatan perang salib, penaklukan demi penaklukan, konflik sektarian, pengeboman rumah ibadah, hingga pembunuhan sesama umat hanya karena berbeda penafsiran. Entah sejak kapan nama Tuhan begitu mudah dijadikan tameng untuk membenarkan dendam manusia.
Lalu, apa bedanya manusia beragama dengan mereka yang mengaku tidak beragama?
Bukankah manusia tanpa agama pun sering terjerumus pada kekerasan yang sama?
Atas nama ideologi, suku, ras, bahkan ambisi pribadi, darah tetap menetes di bumi.
Bedanya, yang satu menaruh Tuhan di bibirnya, sedang yang lain menuhankan nafsu berkuasanya.
Sesungguhnya, bukan agama yang salah. Keyakinan sejati tidak pernah memerintahkan pembantaian. Kitab-kitab suci tidak pernah menulis ayat untuk menajamkan belati ke leher manusia lain. Yang keliru adalah tafsir yang dibajak nafsu, rasa benar yang diracuni ego, iman yang dijadikan pagar untuk menolak akal sehat.
Manusia tanpa agama pun tak luput dari dosa yang sama—rakus, zalim, sewenang-wenang. Manusia beragama pun tak luput dari cela—munafik, fanatik buta, menjual surga demi kuasa di dunia. Maka batasnya bukan sekadar ada atau tiadanya agama, melainkan seberapa jujur nurani memandu akal, seberapa tulus ajaran suci diamalkan, bukan hanya diteriakkan.
Kalau agama hanya membakar dada dengan kebencian, membutakan hati dengan fanatisme, maka apa gunanya? Kalau manusia tanpa agama pun menindas sesamanya dengan rakus, maka apa mulianya?
Yang membedakan manusia hanyalah laku kebaikannya.
Apakah ia merawat hidup atau merenggutnya.
Apakah ia menanam damai atau menabur bara.
Karena pada akhirnya, Tuhan tak butuh dibela dengan darah—Dia hanya perlu diakui dengan kasih, yang menetes di hati, lalu mengalir ke sesama.
Tentang Penulis:
- Ketua Dai Kamtibmas Polres Kota Sukabumi
- Nadir Wakaf, Bidang Keumatan Masjid agung Kota Sukabumi.
- Wakil Katib Syuriah PCNU Kota Sukabumi
- Kepala Seksi Pd. Pontren Kota Sukabumi.

































