SUKABUMITIMES.COM – Memperingati dan mengisi hari raya Iduladha 1446 Hijriyah dalam bentuk Festival Sate Terpanjang yang berlangsung di Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Dzikir Al Fath Kota Sukabumi pada Jumat (6/6/2025) berlangsung meriah.
Tampak ribuan santri dan tamu undangan yang hadir berbaur menjadi satu membakar ribuan tusuk sate dari ukuran yang besar sampai yang kecil.
Hadir dalam festival tersebut Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al Fath KH Prof. Fajar Laksana beserta istri, Kabag Operasional Polres Kota Sukabumi Kompol Deden Sulaeman, Kapolsek Gunungpuyuh, Kapolsek Warudoyong, Ketua DPD PS. Sang Maung Bodas Provinsi Jakarta Abdul Rauf Gaffar beserta tamu undangan lainnya.
Kemeriahan semakin tampak, manakala Kapolres Kota Sukabumi AKBP Rita Suwadi yang diwakili oleh Kabag Operasional Kompol Deden Sulaeman di daulat untuk membuka Festival Sate Terpanjang dengan pukul bedug dan kumandang takbir dari semua pengunjung yang memadati lapang Ponpes Al Fath Kota Sukabumi dan semua yang hadir membawa tusuk satu besar yanga siap untuk dibakar bersama-sama.
Santri yang mengikuti Festival Sate Terpanjang ini kurang lebih 1. 000 santri dengan panjang tungku pembakaran sate sekitar 100 meter lebih, yakni dari pintu gerbang Ponpes Al Fath sampai lapang penuh dengan santri yang membakar sate.
Pihak ponpes Al Fath juga tidak ketinggalan menyediakan dua ribu kantong daging yang sudah dipersiapkan sejak lagi.
Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al Fath Kota Sukabumi, KH Prof. Fajar Laksana mengungkapkan pemilihan kegiatan dengan festival sate terpanjang ini sebenarnya mempunyai semangat yang ingin dibawa.
“Mengapa dengan sate terpanjang? Semangat yang ingin dibawa dengan penyelenggaran festival ini adalah karena keunikannya dan sangat jarang orang menyelenggarakan hal seperti ini. Kedua karena menumbuhkan semangat bersama-sama dan ada kebersamaan memuliakan hari raya Iduladha, dengan demikian diharapkan akan mampu meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT,” ungkap Prof. Fajar Laksana kepada sukabumitimes.com ketika diwawancarai setelah kegiatan pada Jumat (6/6/2025).

Prof. Fajar Laksana juga mengatakan, Allah SWT telah memerintahkan kepada umat Islam, pada hari raya Iduladha semua orang harus kenyang makan daging.
“Dan ini memang diperintahkan oleh Allah SWT tidak boleh ada orang miskin yang tidak makan daging,” katanya.
Sosok ulama yang rendah hati ini melanjutkan, di Ponpes Al Fath ini 80 persen santrinya adalah para kaum dhuafa. Hari ini mereka dikenyangkan dengan daging dan begitu juga dengan masyarakat sekitar kita.
“Ini juga bagian dari syiar Islam dimana ajaran Islam itu menunjukkan sangat baik dan luar biasa. Bagaimana ajaran Islam menolong orang-orang yang tidak mampu,” lanjutnya.
Dirinya menegaskan, bahwa berdirinya Ponpes Al Fath ini pada awalnya di peruntukkan bagi yatim piatu dan masyarakat kurang mampu (kaum dhuafa).
Awal kegiatan ini sehingga menjadi rutinitas karena berawal dari buah pemikiran bagiamana para santri kita itu bisa bergembira, karena kebanyakan mereka tidak pulang kerumahnya.
“Apalagi mereka para santri itu sudah seperti anak-anak saya, kemudian kita cari ide bagaimana mereka bisa bergembira di sini karena sudah tidak punya orang tua, sehingga muncullah untuk memeriahkan Iduladha dengan merias domba dan menyelenggarakan Festival Sate Terpanjang,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPD PS. Sang Maung Bodas Provinsi Jakarta, Abdul Rauf Gaffar mengatakan, bahwa berkurban itu harus tepat sasaran, yakni memang yang benar-benar membutuhkan.
“Kita dalam melaksanakan korban dimana-mana disinilah yang lebih mengena,” kata Abdul Rauf Gaffar yang pada kesempatan ini juga berkorban tiga sapi di Ponpes Al Fath di tahun 2025 ini.
Ketika diwawancarai sukabumitimes.com, Abdul Rauf Gaffar mengungkapkan, karena saking dekatnya secara emosional, dirinya telah menganggap pak kyai Fajar Laksana itu ibarat orang tua sendiri.
“Meskipun, sebenarnya belum terlalu intens dengan pak Kyai, ya sekitar setahun lah, tapi kalau boleh diibaratkan beliau itu seperti orang tua sendiri,” ungkap Abdul Rauf Gaffar yang pada hari raya Iduladha ini andil berkurban Yuga sapi di Ponpes Al Fath kota Sukabumi ini.

Ketika ditanya apakah akan andil lagi dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh Ponpes Al Fath ini, khususnya dalam perayaan hari raya Iduladha, ia menjawab InsyaAllah dan mudah-mudahan panjang umur.
Ia menyatakan ketika dirinya berkurban, bukan apa yang menjadi motivasi, tetapi dirinya dalam menjalankan amalan ibadah itu harus dilandasi dengan hati yang ikhlas.
“Selama masih ada rizki, Alhamdulillah akan terus berkurban. Ini adalah bagian dari perjalanan spiritual,” ujarnya.
Rauf memandang sosok KH Prof. Fajar Laksana itu seorang yang logic, dan kebetulan saya kan berlatar belakang teknis, jadi cara berpikir itu logic, sehingga lebih mudah mengena.
“Perjalanan spiritual dalam diri kita, yang benar seperti apa, dan pertanyaan seperti itukan ranahnya ke solutif. Dan hingga akhirnya karena Allah SWT, dipertemukan sama pak KH Prof Fajar Laksana Pemimpin dan sekaligus pengasuh Ponpes Al Fath ini,” pungkasnya. (sya)
































