SUKABUMITIMES.COM – Setiap pagi, Leni Sumarni (41) menapaki perjalanan yang bukan sekadar jauh dan berat, melainkan juga penuh risiko demi tugas mengajar anak-anak di Sekolah Dasar Negeri Cibadak, Kampung Cibadak, Desa Neglasari, Kecamatan Lengkong.
Dalam kondisi hamil tujuh bulan, warga Kampung Pamoyanan, Desa Bantarpanjang, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi ini tetap setia menyeberangi derasnya Sungai Cikaso selebar 80 meter setiap hari demi tugas mulia tersebut.
Dengan perut yang membesar dan alat penyangga kehamilan ditubuhnya, Leni menantang arus sungai yang bisa saja tiba-tiba meninggi. Ia harus menahan rasa sakit dan pembengkakan pada kakinya, tapi tetap memaksakan diri demi amanah sebagai guru di daerah terpencil.
“Sering sakit perut kalau menyeberang, pakai alat pengikat biar kuat. Kaki juga bengkak karena nahan arus air,” tutur Leni saat ditemui usai menyeberang Sungai Cikaso, Sabtu (26/4/2025).
Kondisi ini terpaksa Leni hadapi setelah jembatan darurat yang sebelumnya dibangun oleh relawan Jampang Peduli, kembali hanyut diterjang banjir pada 4 Maret 2025 lalu. Padahal jembatan itu merupakan satu-satunya akses penghubung tercepat antara kampung tempat tinggalnya dengan lokasi sekolah.
“Kalau harus memutar lewat jalan alternatif, bisa memakan waktu dua jam dan medannya juga rawan longsor,” ujarnya.
Tidak hanya demi diri sendiri, Leni juga memikirkan murid-muridnya yang tinggal di Kampung Cigirang dan Cibadak. Para siswa yang belajar di Madrasah Miftahul Falah, tempat ia juga mengajar, terpaksa libur bila hujan deras mengguyur dan sungai meluap. Meski begitu, ia tetap berusaha hadir setiap hari ke SDN Cibadak, kecuali bila tubuhnya benar-benar tak sanggup.
“Sebelum berangkat, saya selalu memperhitungkan risikonya. Apa pun akan saya tempuh demi anak-anak didik saya,” terangnya.
Leni juga mengungkapkan, jika cuaca memburuk, dirinya memilih menyimpan laptop dan alat mengajar lainnya di sekolah atau menitipkannya kepada rekan, agar aman dari air.
“Harapan saya, pemerintah segera membangun jembatan permanen seperti yang pernah dijanjikan,” kata Leni penuh harap.
Sementara itu, Fitri, siswi kelas 5 Madrasah Miftahul Falah, juga merasakan dampaknya, pelajar asal Kampung Cigirang, Desa Neglasari ini mengaku harus menyeberangi sungai bersama teman-temannya setiap hari demi bisa belajar. Jika hujan turun, orang tuanya terpaksa melarangnya sekolah karena takut anaknya terjebak banjir.
“Kalau air sungai naik, takut nggak bisa pulang. Kadang diantar orang tua, tapi kalau hujan deras ya libur. Kami berharap ada jembatan lagi supaya bisa sekolah terus,” singkat Fitri polos.(stm)






























