SUKABUMITIMES.com — Layangan jenis Seot masih menjadi pilihan utama para pencinta adu layangan di Sukabumi. Selain memiliki karakter permainan yang khas, layangan tersebut dinilai lebih terjangkau sehingga banyak digunakan masyarakat dibandingkan jenis Sukoi yang harganya relatif lebih mahal.
Hal itu disampaikan pegiat adu layangan Sukabumi, Rudy “Ewok”, saat ditemui di kediamannya pada Sabtu (27/6/2026).
Pria yang telah menggeluti dunia adu layangan sejak kecil itu mengatakan, hingga kini terdapat dua jenis layangan yang menjadi andalan dalam kompetisi adu layangan, yakni Seot dan Sukoi.
“Setiap jenis memiliki karakter yang berbeda. Layangan Sukoi harus menggunakan gelasan jenis matot, sedangkan layangan Seot lebih cocok memakai gelasan molor. Perbedaan itulah yang membuat teknik bermainnya juga tidak sama,” ujar Rudy.
Menurut dia, layangan Seot lebih banyak dimainkan masyarakat Sukabumi karena harganya jauh lebih terjangkau. Satu layangan Seot dijual mulai sekitar Rp1.000 hingga beberapa ribu rupiah per buah. Sementara itu, layangan Sukoi umumnya dibanderol sekitar Rp5.000 per buah sehingga penggunaannya relatif lebih terbatas.
Rudy menjelaskan, sebagian besar perajin layangan di Sukabumi memproduksi jenis Seot, sedangkan layangan Sukoi umumnya didatangkan dari Jawa Timur. Sejumlah wilayah di Sukabumi yang dikenal sebagai sentra pembuatan layangan Seot antara lain Kecamatan Cisaat, Ciheulang, dan Babakan Jampang.
Ia menilai antusiasme masyarakat terhadap adu layangan masih cukup tinggi. Kegemaran tersebut tidak hanya diminati anak-anak, tetapi juga kalangan remaja hingga orang dewasa. Meski demikian, aktivitas adu layangan umumnya bersifat musiman dan ramai hanya pada periode tertentu setiap tahun.
Di sisi lain, penyelenggaraan kejuaraan adu layangan di Sukabumi masih tergolong minim. Salah satu kendala utama ialah belum tersedianya lokasi yang memadai untuk menggelar pertandingan secara rutin.
Rudy mengatakan, komunitas pencinta adu layangan saat ini tengah berupaya mendorong agar olahraga tersebut dapat diakui sebagai cabang olahraga melalui organisasi terkait, baik di bawah naungan KONI maupun KORMI. Sejumlah komunitas, seperti Brazil, Kurawa, dan komunitas lainnya, juga terus aktif mengembangkan olahraga tradisional tersebut.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan apabila adu layangan nantinya resmi menjadi cabang olahraga, terutama dengan menyediakan lapangan sebagai sarana latihan dan penyelenggaraan kompetisi.
“Selain menjadi olahraga dan hobi, adu layangan juga mampu menggerakkan pelaku UMKM, mulai dari perajin layangan hingga pembuat gelasan dan perlengkapan lainnya. Karena itu kami berharap ada perhatian agar kegiatan ini dapat berkembang lebih baik,” katanya. (rus)



























