SUKABUMITIMES.COM – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sukabumi Danny Ramdhani menanggapi perihal lontaran gagasan wali kota Sukabumi terkait Sukabumi sebagai Kota Tempe.
Menurutnya, Apa yang dilontarkan wali kota tersebut sebenarnya mempunyai tujuan baik untuk semakin memperkenalkan kota Sukabumi , baik di kancah regional, nasional, bahkan internasional.
“Namun juga jangan asal wacanakan, semua hal yang berhubungan dengan tata pemerintahan harus diperhitungkan dengan matang terlebih dahulu,” ujar Danny Ramdhani yang saat juga menjabat Ketua DPD PKS Kota Sukabumi.
Danny mengungkapkan bahwa janganlah seorang kepala daerah itu membuat sesuatu sesuai dengan apa yang dimilikinya.
“Contohnya, seorang wali kota mempunyai pabrik A, kemudian produk dari pabrik tersebut dijadikan sebagai icon suatu kota,” ungkap Anggota Komisi 3 DPRD kota Sukabumi.
Membuat sebuah ikon kota atau kabupaten, masih menurut Danny, memerlukan berbagai tahapan yang panjang dengan melibatkan banyak pihak.
“Baik itu pemerintah sendiri, DPRD, Akademisi, Budayawan maupun tokoh masyarakat yang lain dan tentu memerlukan waktu panjang dengan berbagai kajian serta survey,” katanya.
Ia menjelaskan dalam menentukan ikon kuliner kota tentu saja melalui beberapa cara, yakni survei penelitian, kajian budaya dan sejarah, identifikasi makanan khas yang tidak ditemukan di kota lainnya, partisipasi masyarakat, serta adanya penilaian yang obyektif.
“Survey terhadap kira-kira apa yang menjadi makanan kegemaran masyarakat maupun pengunjung kota. Ini menjadi penting supaya kuliner terebut benar-benar menjadi kebanggan masyarakat kota,” jelasnya.
Yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja dalam menentukan ikon kuliner adalah kajian budaya dan sejarah kuliner kota untuk menentukan makanan yang memiliki nilai budaya dan sejarah yang kuat.
“Nah, juga adakah makanan khas yang memang unik dan hanya dapat ditentukan di kota tersebut,” bebernya.
Sejauh mana keterlibatan masyarakat dalam proses penentuan ikon kuliner kota, baik melalui diskusi, voting, maupun kompetisi.
“Yang terakhir, kriteria penilaian ikon kuliner kota, seperti keunikan, rasa, dan popularitas,” terangnya.
Mencermati dinamika yang berkembang akhir-akhir ini di kota Sukabumi, menurut Danny alangkah baiknya wali kota Sukabumi lebih mengakomodir apa yang selama ini muncul di tengah-tengah masyarakat.
“Jangan memaksakan seusai dengan apa yang menjadi kepentingannya saja,” pungkasnya. (sya)

























