Angka Stunting 2024 di Kabupaten Sukabumi 20,4 Persen: Gaspol Turunkan Gizi Buruk

SUKABUMITIMES.COM – Upaya menurunkan angka stunting di Kabupaten Sukabumi makin digaspol. Wakil Bupati Sukabumi Andreas resmi membuka Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) 2025, yang digelar di Hotel Augusta Cicantayan pada Selasa (29/7/2025).

Acara ini jadi ajang penting buat ngecek bareng-bareng sudah sejauh mana upaya melawan stunting dilakukan dan apa langkah selanjutnya.

Menurut Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Sukabumi Uus Firdaus, tujuan utama rakor ini adalah membahas strategi penurunan stunting, memperkuat koordinasi antar tim, dan menetapkan target-target ke depan.

“Kita mau semua bergerak bareng, satu irama,” tegasnya.

Rakor ini diikuti 150 peserta—50 hadir secara langsung dan sisanya ikut daring. Mereka terdiri dari para perwakilan perangkat daerah, camat, serta kepala desa se-Kabupaten Sukabumi.

Jadi, semua unsur dilibatkan agar program penurunan stunting lebih terarah dan menyentuh akar persoalan.

Wabup Andreas dalam sambutannya menyoroti bahwa angka prevalensi stunting di Kabupaten Sukabumi masih di angka 20,5 persen pada 2024.

“Angka ini masih jauh dari target nasional yaitu 14 persen. Jadi kita harus kerja ekstra,” ujarnya penuh semangat.

Menurutnya, Rakor TPPS bukan sekadar seremonial, tapi momentum penting untuk mengevaluasi program yang sudah berjalan, mengidentifikasi kendala di lapangan, dan merancang strategi yang lebih efektif dan tepat sasaran.

“Kuncinya ada di sinergi dan komitmen bersama,” ucap Andreas.

Lebih lanjut, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim TPPS yang tetap solid dan punya semangat tinggi dalam menurunkan angka stunting.

“Ini tentang masa depan anak-anak kita. Mereka harus tumbuh sehat, cerdas, dan gembira,” tambahnya.

Salah satu momen menarik dalam rakor adalah testimoni dari Kepala Desa Purwasari, Agus Setia Gunawan. Ia menceritakan bagaimana desanya sejak 2021 menjadikan isu gizi buruk sebagai prioritas utama.

“Kami nggak tinggal diam, kami bangun Stunting Centre,” ungkap Agus.

Gedung Stunting Centre ini diisi para kader Posyandu yang aktif turun ke masyarakat. Tugas mereka bukan hanya mendata, tapi juga mengedukasi dan mencari solusi bersama keluarga yang terdampak stunting.

“Kita ajak warga ngobrol, kita dampingi, biar semua merasa terlibat,” jelas Agus.

Semangat gotong royong yang ditunjukkan Desa Purwasari ini diharapkan bisa jadi contoh buat desa-desa lain di Sukabumi.

“Kalau semua desa punya inisiatif lokal seperti ini, saya yakin kita bisa kejar target 14 persen bahkan lebih cepat,” kata Uus Firdaus optimis.

Rakor ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang penuh semangat dan ide-ide kreatif dari peserta. Satu hal yang jelas: lawan stunting itu nggak bisa sendiri. Harus bareng-bareng, dengan semangat, strategi, dan cinta buat masa depan anak-anak Sukabumi. (rus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *