SUKABUMITIMES.COM – Kepala Seksi Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi, Maman Hidayat, memberikan seruan tegas kepada seluruh guru madrasah untuk segera bangkit dan melek terhadap digitalisasi.
Menurutnya, di era abad ke-21 ini, teknologi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan yang sangat penting demi masa depan generasi bangsa.
“Jangan terlalu nyaman dengan kondisi saat ini. Dunia terus berubah, dan guru madrasah harus jadi bagian dari perubahan itu,” ujar Maman saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (28/07/2025).
Ia mengingatkan bahwa peran guru hari ini lebih dari sekadar pengajar, guru harus mampu menjadi fasilitator, mediator, dan pembentuk karakter.
Ia juga menyoroti pentingnya transformasi pendidikan melalui pendekatan kurikulum berbasis cinta (KBC) yang kini tengah digagas oleh Kemenag RI Melalui Dirjen Pendis.
Menurutnya, pembelajaran yang dilandasi dengan cinta akan lebih mudah diterima oleh siswa, karena menyentuh sisi emosional dan kemanusiaan mereka.
Meski penerapan kurikulum berbasis cinta masih menunggu penyesuaian regulasi dari pusat, Maman optimis kurikulum ini akan menjadi solusi pendidikan masa depan. Saat ini, madrasah di Sukabumi masih menggunakan Kurikulum Merdeka berdasarkan KMA 450 Tahun 2024.
“Harapan kita, kurikulum Berbasis cinta (KBC) segera diterapkan. Karena model pembelajarannya bersifat mendalam dan menyentuh hati siswa. Ini penting untuk membentuk karakter yang kuat, tidak rapuh, dan tangguh dalam menghadapi tantangan kehidupan,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa perubahan paradigma guru menjadi kebutuhan yang mendesak. Ia menyebutkan bahwa butuh waktu dua tahun untuk benar-benar menguasai kurikulum baru. Maka dari itu, guru dituntut untuk terus belajar dan tidak berhenti mengembangkan diri.
“Kalau guru tidak belajar terus, justru akan kewalahan. Dunia berubah cepat, dan guru harus ada di barisan depan perubahan itu,” ujarnya penuh semangat.
Pihaknya juga mengajak para guru untuk meninggalkan metode-metode lama yang monoton. Guru masa kini dituntut kreatif dan adaptif, apalagi menghadapi anak-anak generasi digital yang lebih cepat menangkap informasi melalui media visual dan teknologi.
Dengan semangat perubahan ini, Maman berharap madrasah bisa menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara emosional dan spiritual.
“Intinya, guru madrasah jangan takut berubah. Kita ini pembawa cahaya. Kalau kita sendiri redup, bagaimana bisa menerangi anak-anak bangsa?,” pungkasnya. (rus)































