53 Alumni IPI Berangkat ke Jepang, Ayep: Membangun Kota Sukabumi Butuh Waktu Panjang 

SUKABUMITIMES.COM – Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki mengutarakan, bahwa membangun Kota Sukabumi membutuhkan waktu yang cukup panjang.

Sebagaimana diungkapkannya sesuai menghadiri acara penerimaan siswa baru dan pelepasan 53 alumni International Professional Institute (IPI) yang akan berangkat kerja ke Jepang di Gedung Juang 45 pada Senin (14/7/2025).

“Saya mempunyai cita-cita yang panjang dan besar dalam wujudkan visi misi pembangunan kota Sukabumi ke depan,” ungkapnya.

‎Menurutnya membangun kota Sukabumi tidak bisa kalau hanya diselesaikan dalam jangka waktu yang pendek.

“Harus dilakukan secara berkesinambungan, waktu 5 atau 10 tahun waktu yang singkat. Siapapun yang memimpin harus melanjutkannya,” menurut Wali Kota Ayep Zaki.

A. Zaki menekankan pembangunan yang pertama harus dilakukan adalah membangun jiwa raga secara berkelanjutan.

“Nah, ini dimulai dari pendidikan keagamaan, sosial, budaya, hukum, dan lingkungan,” tekannya.

‎”Semua harus berkelanjutan dan bersifat jangka panjang. Lalu yang kedua pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan juga,” tambahnya.

Kemudian, terkait dengan pembangunan jiwa, ia mengartikan membangun satu karakter di Sukabumi baik agamanya, adat istiadat dan budayanya. Di mulai dari pendidikan kober, taman kanak-kanak (TK) , TPA, SD, SMP dan SMA.

Secara tegas wali kota Ayep Zaki menghendaki di kota Sukabumi tidak boleh ada lagi yang tidak lulus SD, SMP, SMA. Untuk itu, ia akan memperkuat program kejar paket A,B, dan C.

‎”Kegagalan seorang pemimpin jika di wilayahnya masih ada yang putus sekolah,” tegasnya.

‎Masih ditempat yang sama, ‎Direktur International Professional Institute (IPI) Eko Pranajaya mengatakan, pihaknya setiap bulan memberangkatkan 5 sampai 10 orang. Puncaknya pada Juli dan Desember.

“Di bulan Juli 2025 ini, kami memberangkatkan 53 orang alumni IPI untuk bekerja di negara Jepang,” kata Eko.

“Disana diperkerjakan sebagai perawat lansia dengan gaji Rp16 juta per bulan maksimal Rp25 juta,” terang dia.

Lebih jauh, Eko menuturkan, bahwa di negara Jepang juga mengenal adanya upah minimum regional, dan disetiap daerah mempunyai sistem pengupahan yang berbeda.

Mereka yang akan pergi untuk menjadi pahlawan devisa akan digembleng terlebih dahulu mulai dari enam hingga sembilan bulan.

“Mereka nantinya dibekali sertifikasi dan kompetensi yang memenuhi standar di mana ditempatkan,” ujarnya.

‎Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Sukabumi Abdul Rahman menyambut baik program seperti ini untuk mengurangi angka pengangguran terbuka.

‎”Angka pengangguran kita masih cukup tinggi di angka 8,34 persen. Kehadiran IPI memberikan kontribusi positif bagi pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran dan mempersiapkan diri bagi putra putri kita bekerja di luar negri,” ujarnya.

‎Masih kata Kadisnaker, peserta yang mengikuti program IPI tersebut 50 persen berasal dari wilayah Kota Sukabumi.

“Ini program legal di bawah pengawasan Disnaker, P2MI dan Kemenlu. Jadi jika terjadi sesuai semua sudah bisa antisipasi,” pungkasnya. (sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *