SUKABUMITIMES.com – Taman Bappeda Kabupaten Sukabumi yang dulu menjadi salah satu ruang terbuka hijau kebanggaan masyarakat, kini menyuguhkan pemandangan yang jauh berbeda.
Keindahan yang pernah menjadi daya tarik kawasan di Kompleks Perkantoran Jajaway, Kecamatan Palabuhanratu, perlahan memudar, berganti dengan deretan coretan vandalisme yang memenuhi dinding taman hingga bangunan pelengkap.
Kondisi tersebut memantik keprihatinan berbagai kalangan. Ketua Benteng Aktivis Sukabumi Bersatu (BASB), Firman Hidayat, menilai rusaknya wajah taman bukan sekadar persoalan ulah tangan-tangan jahil, tetapi juga menjadi alarm bahwa pemeliharaan aset publik tidak boleh diabaikan setelah proses pembangunan selesai.
“Pantauan di lokasi, kami melihat hampir seluruh dinding taman hingga bangunan pelengkap dipenuhi tulisan dan gambar hasil aksi tangan-tangan jahil. Ini sangat memprihatinkan,” ujar Firman, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, coretan dengan berbagai bentuk dan tulisan membuat taman kehilangan identitasnya sebagai ruang terbuka hijau yang bersih, nyaman, dan ramah bagi masyarakat. Suasana asri yang dahulu menjadi tempat warga berolahraga, bersantai, hingga berkumpul bersama keluarga kini berubah menjadi pemandangan yang kumuh.
“Coretan dengan berbagai bentuk dan tulisan membuat wajah taman tampak kumuh. Ini jauh dari kesan asri yang selama ini menjadi daya tarik ruang terbuka hijau,” katanya.
Firman mengungkapkan, kondisi tersebut mulai terlihat sejak tidak lagi ada petugas Polisi Taman (Poltam) yang dahulu rutin melakukan pengawasan di kawasan tersebut. Saat Poltam masih aktif, berbagai aksi vandalisme maupun perilaku yang merusak fasilitas umum relatif dapat dicegah karena adanya pengawasan secara intensif.
“Saat Poltam masih bertugas, aksi vandalisme dan perilaku yang merusak fasilitas umum relatif dapat dicegah karena pengawasan dilakukan secara intensif,” jelasnya.
Kini, tanpa adanya pengawasan yang memadai, taman seolah kehilangan penjaga. Oknum yang tidak bertanggung jawab dengan leluasa mencorat-coret fasilitas umum tanpa memikirkan dampak terhadap estetika lingkungan maupun besarnya anggaran yang nantinya harus kembali dikeluarkan pemerintah untuk memperbaiki kerusakan tersebut.
Fenomena ini, lanjut Firman, menjadi pelajaran penting bahwa pembangunan infrastruktur tidak boleh berhenti pada seremoni peresmian semata. Pemeliharaan, pengawasan, dan perlindungan terhadap aset yang telah dibangun harus menjadi perhatian serius agar uang rakyat yang digunakan untuk membangun fasilitas publik tidak terbuang sia-sia akibat lemahnya pengelolaan.
“Taman Bapperida dibangun sebagai ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga, bersantai, hingga menjadi tempat berkumpul keluarga. Keberadaan vandalisme justru menimbulkan kesan tidak terawat dan mengurangi kenyamanan pengunjung,” tegasnya.
Senada dengan itu, warga Palabuhanratu, Wildansyah (43), berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, mulai dari membersihkan seluruh coretan vandalisme, meningkatkan pengawasan, hingga mempertimbangkan kembali keberadaan petugas khusus seperti Polisi Taman agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Di sisi lain, ia juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga fasilitas umum dengan tidak melakukan vandalisme dan berani melaporkan apabila mengetahui adanya oknum yang merusak aset milik pemerintah.
“Keindahan ruang terbuka hijau merupakan tanggung jawab bersama. Tanpa kepedulian semua pihak, taman yang seharusnya menjadi kebanggaan masyarakat hanya akan berubah menjadi deretan tembok penuh coretan yang mencerminkan rendahnya kesadaran menjaga fasilitas publik,” ujarnya.
Ia berharap kondisi tersebut segera mendapat perhatian dari dinas maupun instansi terkait sehingga Taman Bapperida dapat kembali menjadi ruang publik yang bersih, aman, dan nyaman bagi seluruh masyarakat.
“Ini harus menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari banyaknya fasilitas yang berdiri, tetapi juga dari kemampuan pemerintah dalam merawat dan menjaga aset tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” tuturnya.
“Tanpa pemeliharaan yang konsisten dan pengawasan yang efektif, berbagai fasilitas publik berisiko mengalami kerusakan lebih cepat, sehingga pembangunan yang menggunakan anggaran negara justru kehilangan nilai dan fungsinya,” pungkasnya. (stm)


























